1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Militer Sudan Tahan Presiden Omar al-Bashir

11 April 2019

Presiden Sudan Omar al-Bashir dipaksa mengundurkan diri oleh militer hari Kamis (11/4) setelah berkuasa selama tiga dekade secara otoriter. Kementerian Pertahanan Sudan membenarkan penahanan Bashir.

https://p.dw.com/p/3GcAr
Sudan Militär und Demonstranten in Khartoum
Foto: Getty Images/AFP

Kementerian Pertahanan Sudan membenarkan bahwa pihak militer telah menahan Presiden Omar al-Bashir. Sebelumnya berbagai media lokal sudah memberitakan perebutan kekuasaan yang dilakukan militer Sudan terhadap pemerintahan Omar al-Bashir. Sumber-sumber dari kalangan pemerintahan mengatakan, sekarang militer sedang menyiapkan sebuah Dewan Transisi.

Menteri produksi dan sumber daya ekonomi di Darfur Utara, Adel Mahjoub Hussein, mengatakan kepada TV al-Hadath yang berbasis di Dubai, kepresidenan Bashir telah berakhir dan konsultasi pembentukan dewan militer yang berkuasa sedang berlangsung.

Kantor berita Reuters mengutip sumber-sumber yang tidak disebut namanya di Sudan dan memberitakan, Bashir yang kini berusia 75 tahun saat ini berada di rumah dinas kepresidenan di bawah "penjagaan ketat". Sumber lain mengatakan Bashir berada di bawah tahanan rumah bersama dengan "sejumlah pemimpin kelompok Ikhwanul Muslimin".

Aksi protes sebelumnya meluas

Sebelumnya aksi protes sudah meluas di Sudan menentang kekuasaan otoriter Presiden Omar al-Bashir, yang hingga kini merupakan buron Mahkamah Pidana Internasional di Den Haag karena kejahatan dan genosida yang terjadi selama konflik di Darfur.

Awal minggu ini beberapa negara, antara lain Inggris, AS dan Norwegia, menyerukan kepada pemerintah Sudan agar mendengarkan tuntutan para demonstran.

Aksi protes sempat menjadi viral ketika seorang jurnalis dan aktivis muda perempuan naik ke sebuah mobil dan berpidato. Video dan foto-fotonya menyebar dengan cepat di media sosial dan dilihat jutaan orang. Alaa Salah, 22 tahun, mengatakan, dia ingin berbicara kepada muda untuk menentang rasisme dan tribalisme.

"Setiap kali massa menyambut dengan teriakan 'Thawra' ('revolusi'), saya jadi makin semangat," kata Alaa Salah kepada stasiun siaran CNN. "Kami perlu dukungan internasional, agar orang bisa tahu apa yang terjadi dan memahami tuntutan kami", tandasnya.

Sudan - Alaa Salah - Die Sudanesin führt Proteste gegen Präsident Omar al-Bashir an
Alaa Salah melakukan orasi di atap mobil di KhartoumFoto: Getty Images/AFP

Ribuan orang selama beberapa hari terakhir berbondong-bondong menggelar aksi protes di pusat kota Khartoum dan meneriakkan slogan-slogan anti Bashir.

Nasib Omar al-Bashir belum jelas

Masih belum jelas bagaimana nasib Omar al-Bashir selanjutnya. Pengadilan Kriminal Internasional di Den Haag sejak dulu sudah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap al-Bashir atas tuduhan genosida di wilayah Darfur yang dimulai pada tahun 2003 dan menyebabkan kematian sekitar 300.000 orang.

Omar al-Bashir sendiri adalah anggota militer yang tahun 1989 melakukan kudeta tak berdarah dan naik ke puncak kekuasaan. Dia menjadi sosok kontroversial karena di satu pihak mampu mengamankan situasi yang kacau, namun di lain pihak memerintah dengan tangan besi. Amerika Serikat sejak 1993 memasukkan pemerintahan Bashir ke dalam daftar pendukung terorisme karena tuduhan menyembunyikan para militan Islam yang terlibat terorisme.

Aksi protes massal mulai meluas sejak bulan Desember lalu, dipicu oleh kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga roti. Bentrokan keras antara demonstran dan aparat keamanan yang ingin membubarkan mereka sempat terjadi hari Selasa (9/4). Setidaknya 11 orang tewas, termasuk enam anggota angkatan bersenjata, kata polisi.

hp/vlz (rtr, afp, ap)