Mesut Özil Mundur dari Timnas Jerman Karena ″Serangan Rasisme dan Merasa Tidak Dihormati″ | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 22.07.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sepak Bola Jerman

Mesut Özil Mundur dari Timnas Jerman Karena "Serangan Rasisme dan Merasa Tidak Dihormati"

Setelah dikecam berminggu-minggu di Jerman karena bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, pesepakbola Timas Jerman, Mesut Özil akhirnya buka mulut dan mengumumkan pengunduran dirinya dari timnas.

Mesut Özil mengumumkan dia tidak akan lagi bermain di tingkat internasional untuk membela Jerman menyusul pro kontra di media Jerman usai pertemuannya dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Pemain berusia 29 tahun itu mengeluarkan pernyataan keras dan panjang di Twitter, di mana ia secara khusus menyalahkan Presiden DFB (perhimpunan sepak bola Jerman) Reinhard Grindel. Özil mengatakan dia "tidak mau lagi jadi kambing hitam karena ketidakmampuan [Grindel] melakukan pekerjaannya dengan benar."

"Di mata Grindel dan pendukungnya, saya orang Jerman ketika kami menang, tetapi saya seorang imigran ketika kami kalah," tambahnya. "Saya merasa tidak diinginkan dan berpikir bahwa apa yang telah saya capai sejak debut internasional saya di tahun 2009 telah dilupakan."

"Meskipun membayar pajak di Jerman, menyumbangkan fasilitas ke sekolah Jerman dan memenangkan Piala Dunia bersama timnas Jerman pada 2014, saya masih belum diterima di masyarakat. Saya diperlakukan  "berbeda."

Tidak ada penyesalan

Pertemuan Özil dan rekan di timnas Ilkay Gündogan dengan Presiden Turki Erdogan yang dikritik tajam, menyebabkan kehebohan sebelum digelarnya Piala Dunia 2018 di Rusia. Tetapi Özil mengatakan dia tidak menyesal.

"Apa pun hasil pemilu Turki, saya masih akan tetap berfoto dengannya."

Dalam tweet kedua yang dikirim dua jam kemudian, Özil mengecam perlakuan yang diberikan kepadanya oleh media Jerman, yang dia tuduh memiliki standar ganda berdasarkan keturunan Turkinya. Untuk menekankan pendapatnya, Özil menyebutkan contoh kasus Lothar Matthäus, seorang kapten kehormatan timnas Jerman yang ikut memenangkan Piala Dunia 1990 dengan timnas Jerman Barat pada saat itu. Matthäus bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini dan, menurut Özil, menerima "hampir tidak ada kritik dari media."

"Apa yang tidak bisa saya terima," Özil menulis, "adalah media Jerman berulang kali menyalahkan latar belakang ganda saya dan foto biasa sebagai penyebab prestasi buruk Piala Dunia dan menimpakannya ke pundak saya atas nama seluruh anggota skuad."

"Beberapa koran Jerman menggunakan latar belakang dan foto saya dengan Presiden Erdogan sebagai propaganda sayap kanan untuk memajukan tujuan politik mereka. Mengapa mereka menggunakan gambar dan berita utama dengan nama saya sebagai penjelasan langsung untuk kekalahan di Rusia?"

"Mereka tidak mengkritik penampilan saya, mereka tidak mengkritik penampilan tim, mereka hanya mengkritik nenek moyang Turki saya dan cara saya dibesarkan. Ini melewati batas garis pribadi yang seharusnya tidak boleh dilanggar oleh media. Seakan media Jerman berusaha membuat seluruh warga Jerman untuk tidak memihak saya."

Jadi target media sosial

Gelandang Arsenal ini juga megungkit sikap tidak adil perhimpunan sepak bola Jerman DFB yang membatalkan kegiatan promosi dengan Özil setelah penerbitan fotonya bersama Erdogan.

Pernyataan keras Özil itu dilansir lebih dari dua bulan setelah berfoto dengan Erdogan. Waktu menunda cukup lama juga mengundang kemarahan dan kebingungan. Sementara Gündogan dengan cepat membuat pernyataan yang menjelaskan posisinya, mendiskusikan efek yang ditimbulkan oleh reaksi dari penggemar dan media terhadapnya dan menolak banyak tuduhan yang ditujukan kepadanya dan Özil sebagai "100 persen tidak benar", Özil memilih untuk tetap diam terkait masalah ini.

Tersingkirnya Jerman secara dini di Piala Dunia semakin meningkatkan sorotan pada Özil. Sementara kelompok-kelompok sayap ekstrim kanan seperti partai AfD (Alternative für Deutschland) dan pendukung mereka menjadikan Özil sebagai target bulan-bulanan di media sosial.

Manajer Tinnas ikut menyerang Özil

Manajer tim Jerman Oliver Bierhoff, dalam wawancara dengan harian Welt juga mengatakan, pelatih Joachim Löw seharusnya mempertimbangkan untuk tidak memasukkan Özil dalam skuad. Presiden DFB Reinhard Grindel mengatakan kepada harian olahraga kicker, Özil "mengecewakan banyak fans".

Özil, sama seperti pernyataan Gündogan sebelumnya, merasa loyal terhadap Jerman dan Turki.

"Sementara saya dibesarkan di Jerman, latar belakang keluarga saya berakar kuat di Turki," Özil menulis. "Saya punya dua hati, satu Jerman dan satu Turki."

Dia terus mengkritik reaksi, yang menempatkannya di pusat perdebatan tentang integrasi di Jerman.

"Meskipun media Jerman telah menggambarkan sesuatu yang berbeda, kebenarannya adalah bahwa jika tidak bertemu dengan Presiden Turki, berarti saya tidak menghormati akar leluhur saya. Saya yakin presiden Turki bangga dengan keberadaan saya hari ini," katanya. Özil lebih lanjut menyatakan: "Pertemuan tersebut bukan tentang politik atau pemilihan umum, dan seharusnya tidak dilihat sebagai mendukung kebijakan Erdogan.

(vlz/as)

Laporan Pilihan