Merkel: ″Kuartet Timur Tengah Harus Aktif Lagi″ | Fokus | DW | 12.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Merkel: "Kuartet Timur Tengah Harus Aktif Lagi"

Kanselir Jerman Angela Merkel sangat ingin memberikan kontribusinya untuk menenangkan situasi di Timur Tengah. Tetapi ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.

PM Israel Olmert dan Kanselir Merkel

PM Israel Olmert dan Kanselir Merkel

Angela Merkel: „Menurut saya, kita harus melakukan banyak langkah kecil untuk mencapai sebuah hasil. Tetapi kita telah melihat dari beberapa bulan terakhir bahwa langkah-langkah kecil ini sangat penting untuk dapat mencapai kemajuan.“

Bagi pemerintah Jerman, salah satu langkah ini adalah mengirimkan angkatan lautnya sebagai pasukan PBB di pesisir Libanon. Sekitar 1.000 prajurit angkatan bersenjata Jerman, Bundeswehr, diharapkan untuk menghindari penyelundupan senjata lewat jalur laut. Tetapi Kanselir Jerman Merkel tidak ingin memberi kesan, bahwa politik Timur Tengah Jerman penuh persenjataan. Ia lebih mengandalkan kuartet Timur Tengah dengan rencana perdamaiannya yang disebut „Road-Map“. Kuartet ini terdiri dari Amerika Serikat, Rusia, Uni Eropa dan PBB.

Angela Merkel: „Kami terutama percaya, bahwa kuartet Timur Tengah harus kembali dihidupkan dan disini Uni Eropa memainkan peranan yang sangat penting.“

Dan terutama Jerman, jika Jerman mengambil alih kepresidenan Dewan Uni Eropa Januari mendatang. Tapi kuartet ini dapat ditempatkan dimana?

Genjatan senjata di Jalur Gaza merupakan sinyal positif pertama – walaupun masih belum stabil. Dilain pihak Palestina tidak berhasil membentuk pemerintahan untuk kesatuan nasional, yang diterima secara internasional sebagai mitra dialog, tidak seperti kelompok Hamas. Secara konsekwen kelompok Hamas tidak mau mendengarkan semua tuntutan untuk mengakui hak eksistensi Israel.

Angela Merkel: „Kita harus berbuat dua hal: Di satu pihak harus jelas, bahwa prinsip-prinsip yang menyangkut hak eksistensi Israel, tentang pelepasan kekerasan, dan tentang posisi perundingan juga diikuti oleh kelompok Hamas. Dilain pihak kita juga memikul tanggung jawab agar situasi kemanusiaan di wilayah Palestina tidak menjadi lebih buruk.“

Tetapi justru ini yang terjadi – situasi ekonomi kebanyakan warga Palestina yang sangat buruk menambah tajamnya ketegangan. Di Berlin, Kanselir Jerman Merkel dan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert akan membicarakan apakah sebuah pendekatan masih dapat dilakukan dalam kondisi seperti ini.

Olmert memang mempunyai hubungan yang baik dengan Angela Merkel, setelah kunjungan Merkel ke Yerusalem Januari lalu. Tetapi Olmert menganggap kunjungan Menteri Luar Negeri Steinmeier sebagai sebuah kesalahan. Minggu lalu Steinmeier berkunjung ke Suriah membawa sebuah pesan agar Suriah tidak ikut campur dalam masalah Libanon dan ikut serta secara konstruktif dalam upaya perdamaian di Timur Tengah.