Merkel Di Libanon | Fokus | DW | 03.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Merkel Di Libanon

Mengakhiri perjalanannya selama tiga hari ke Timur Tengah Kanselir Jerman Angela Merkel menegaskan hak Libanon sebagai negara berdaulat.

Angela Merkel dan PM Libanon Fuad Siniora

Angela Merkel dan PM Libanon Fuad Siniora

Dalam jumpa pers seusai makan siang di kantornya, PM Libanon Fuad Siniora menyebut Kanselir Angela Merkel sebagai sahabat Libanon. Hubungan Jerman-Libanon terus bertambah baik, keterlibatan Jerman di Libanon semakin besar dan kontak antara kedua kepala pemerintahan semakin erat.

Dikatakannya: "Saya berterima kasih kepada Kanselir Merkel untuk dukungan Jerman bagi satuan marinir UNIFIL dan untuk bantuan teknik bilateral serta peralatan bagi dinas keamanan dan beacukai yang kami peroleh. Saya berterima kasih untuk dukungan bagi kemerdekaan Libanon, kedaulatan dan pemerintahan yang dipilih secara demokratis."

Kanselir Merkel mengemukakan pentingnya Libanon dapat berkembang secara berdaulat, stabil dan demokratis, dan disampaikannya pula pesan kepada tetangga Libanon di timur: "Kami beranggapan, Suriah sepatutnya memberikan kontribusi agar Libanon dapat berkembang menjadi negara yang mandiri. Bagi saya, Suriah harus terlebih dulu mengakui Libanon secara diplomatik."

Kemarin pagi Kanselir Merkel bertemu dengan ketua parlemen Libanon Nabih Berri. Berri adalah pimpinan Gerakan Amal dan merupakan wakil terpenting pihak oposisi. Tetapi Kanselir Merkel hampir tidak menyinggung isi pembicaraannya dengan Berri. Hanya dikatakan Jerman punya tradisi untuk juga bertemu dengan pihak oposisi di sebuah negara. Merkel sadar, betapa besar jurang pemisah yang ada di Libanon, sehingga perujukan belum akan terwujud dalam waktu singkat. Dikemukakannya: "Kami yakin, untuk mewujudkan pemerintahan yang stabil dan negara Libanon yang stabil, terlebih dulu harus ada perujukan, dan perujukan dapat dicapai dengan menemukan kebenaran. Oleh sebab itulah pembunuhan terhadap Rafik Hariri harus diungkap sampai tuntas."

Mengenai perpanjangan mandat bagi satuan-satuan angkatan laut Jerman yang bertugas di pesisir Libanon di bawah bendera PBB sejak musim gugur tahun lalu, Kanselir Merkel menunjukkan sikap terbuka. Selain itu di tingkat UE Merkel akan mengupayakan agar negara-negara lain juga membantu polisi perbatasan dan pengawasan bea cukai Libanon. Dengan demikian Libanon akan mampu mengamankan seluruh perbatasan negaranya secara efektif.

PM Fuad Siniora membenarkan, bahwa telah dibicarakan pula tentang gagasan PM Israel Ehud Olmert bagi diselenggarakannya pertemuan puncak negara-negara Arab untuk berembuk dengan Israel. Tetapi Siniora menanggapinya dengan sikap menahan diri: "Sudah waktunya Israel menerima sepenuhnya gagasan perdamaian dari pihak Arab. Gagasan itu bukan hanya sekedar posisi awal untuk bernegosiasi, melainkan hasil dari sejumlah pembicaraan, pertemuan dan perembukan. Hanya dengan itulah dapat dicegah meruncingnya keadaan, bukan hanya di Timur Tengah, melainkan juga di dunia."