1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Merekayasa Nyamuk Kebal Malaria

26 November 2015

Riset penyakit Malaria pekan ini mencatat dua terobosan penting. Dari AS muncul nyamuk kebal malaria dan dari Jerman rekayasa genetika agar parasit tak mampu berkembang biak.

https://p.dw.com/p/1HCqR
Anopheles Mücke
Foto: Fotolia/Kletr

Para ahli biologi dari University of California di Amerika Serikat mengumumkan, berhasil menciptakan spesies nyamuk yang memiliki kode genetika pemblokir malaria. Gagasan mendasar di balik rekayasa ini adalah: jika nyamuk pembawa kode genetika pemblokir malaria kawin dengan nyamuk Anopheles “normal”, generasi nyamuk berikutnya akan memiliki sifat pemblokir itu. Dengan cara ini diharapkan “spesies” tersebut akan menyebar di seluruh populasi malaria.

Mencegah Malaria dengan Vaksin Termutakhir

“Spesies nyamuk pemblokir malaria akan menyebar secara efisien, hingga 99 persen dalam 10 generasi nyamuk. Itu berarti hanya satu musim bagi nyamuk malaria“, ujar Valentino Gantz pakar biologi University of California San Diego kepada kantor berita Reuters. Sejauh ini, belum ada malaria yang direkayas genetika dilepas ke alam bebas.

Vaksin dari parasit yang diamputasi

Sementara para peneliti dari Jerman memilih pendekatan berbeda. Mereka tidak melakukan rekayasa nyamuk inang, melainkan langsung pada parasit malarianya. Para peneliti dari pusat infeksiologi Rumah Sakit Universitas Heidelberg menciptakan parasit yang “disunat“ hampir separuh kromosomnya agar tidak mampu lagi berkembang biak dalam tubuh inang.

Lewat parasit malaria yang sudah diamputasi kode genetikanya dan kehilangan kromosom penting untuk melanjutkan stadium perkembangan, para peneliti Jerman mengharap dapat menciptakan vaksin malaria yang ampuh. Mereka yang mendapat vaksin parasit malaria lumpuh, diharap akan mengembangkan kekebalan tubuh terhadap malaria.

Malaria Impfung Afrika Kenia
Masih dicari : vaksin yang ampuh perangi Malaria.Foto: AP

Ujicoba laboratorium telah dilaksanakan pada tikus. “Sejauh ini tim peneliti baru mengembangkan vaksin eksperimental”, ujar Mirko Singer, seorang anggota tim di pusat infeksiologi Universitas Heidelberg kepada DW. “Target kami mengembangkan vaksin yang aman, dimana parasit tak mampu berkembang dalam berbagai stadium kehidupannya”, tambah Singer.

Sejauh ini dalam perang melawan malaria, yang dijuluki “penyakitnya orang miskin” belum berhasil menemukan vaksin yang ampuh. Upaya yang lazim dilakukan dan terbukti efektif adalah gabungan dari obat pencegah dan tindakan pencegahan agar jangan digigit nyamuk. Badan kesehatan PBB-WHO melaporkan, kasus infeksi malaria tetap tinggi di negara-negara Afrika serta Asia Selatan dan Tenggara.