Cegah Bencana dengan Perhitungkan Runtuhnya Lereng Lembah | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 13.03.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Penelitian longsor

Cegah Bencana dengan Perhitungkan Runtuhnya Lereng Lembah

Jika batu-batu berjatuhan ke lombah terbentuk awan debu raksasa dan longsor lumpur, yang bisa mengancam kehidupan. Untuk mencegahnya, peneliti TU München mencoba meramal runtuhnya lereng di Oberallgäu.

Allgäu terancam reruntuhan lereng gunung

Sekelompok peneliti bekerja di kawasan pegunungan Allgäu

Sebuah lereng di Oberallgäu dalam waktu singkat akan runtuh ke dalam lembah. Ilmuwan dari Universitas TU München ingin mencari tahu kapan itu akan terjadi, agar bisa memberikan peringatan dini kepada orang-orang di sekitar gunung.

Prof. Dr. Michael Krautblatter memaparkan, "Getaran gunung sangat besar. Kami juga memperkirakan, ada bagian yang segera akan runtuh. Kami juga ingin mengamati bagaimana situasi sebelum keruntuhan terjadi, untuk melihat sebaik apa peringatan dini. Apa sudah bisa diberikan tiga hari sebelumnya? Kecepatan angin tinggi, daerah juga sulit dicapai. Dan aktivitas ini juga berbahaya."

Sebagian besar dinding puncak gunung bagian selatan terancam patah dan jatuh sedalam 1.000 meter. Keretakan sekarang sudah terbentuk, dan sebagian panjangnya lebih dari 100 meter.

Tapi terutama, terjadi kerenggangan besar. Begitu besar, sampai truk besar bisa jatuh ke dalamnya. Setiap hari kerenggangan semakin melebar sebanyak 0,4 milimeter. Itu sepertinya hanya sedikit. Tapi untuk sebuah gunung, itu kecepatan yang tinggi.

Penempatan instrumen pengukur

Krautblatter dan para koleganya sudah menempatkan sejumlah instrumen pengukur. Tapi semuanya rusak. Hari ini cuaca bagus, jadi mereka harus memanfaatkannya untuk memperbaiki instrumen.

"Sekarang, ini adalah kerenggangan yang paling penting, walaupun masih kecil. Ini terbentuk tahun 2014. Kami dulu menggantung sensor ini di sini, " kata Krautblatter. "Sensor bisa mengukur kerenggangan sampai seper seratus milimeter. Tapi tepat di sini, kilat menyambar. Sehingga sensor terbakar. Dan yang ini juga tidak berfungsi lagi. Sekarang kami harus melihat, bagaimana caranya, agar alat ini berfungsi lagi."

Di yang lain, alat pengukur baru juga harus ditempatkan, tepatnya pengukur jarak. Ditempatkannya di dalam celah, dan mengukur perubahan pada celah serta melaporkannya secara teratur lewat gelombang radio.

Setelah itu celah besar diinspeksi. Celah bergerak sangat kuat dan cepat, sehingga tepian atasnya menjadi miring dan menyebabkan batang alat pengukur bengkok. Jadi para pakar geologi harus masuk celah dan memperbaiki letaknya. 

Jika semua celah dan keretakan terjadi bersamaan, mereka memperkirakan, sekitar 260.000 meter kubik batu akan jatuh ke lembah.

"Itu sangat besar," tandas Krautblatter. "Satu blok saja, jadi sekitar satu meter kubik, sudah memblokir jalan atau jurang sempit. Itu yang biasa kita lihat. Dan ini, 260.000 blok yang seperti itu. Jadi sangat besar." Ia menambahkan, "keruntuhan seperti itu menyebabkan timbulnya awan debu berjam-jam. Mungkin juga jatuhnya tidak bersamaan, dan tentu sangat keras."

Tonton video 06:12

Memprediksi Hujan Batu dari Gunung

Dampak buruk bagi kawasan sekitar

Menurut Krautblatter, "Awan debu kemungkinan akan terlihat di seluruh daerah lembah Hornbachtal, dan kemungkinan menutupinya dengan abu. Jadi itu akan jadi peristiwa besar." Misalnya yang terjadi di gunung Piz Cengalo di Graubünden, Swiss. Jumlah yang jauh sekitar 4 juta meter kubik batu.

Ketika itu delapan pendaki gunung ikut terbawa arus batu yang berjatuhan, dan tidak ditemukan sampai sekarang. Aliran batu yang berjatuhan kemudian tercampur lumpur dan menerjang daerah Bondo serta menyebabkan kerusakan besar.

Daerah Hinterhornbach di Tirol di kaki gunung, tidak dilanda batu-batu yang berjatuhan. Tetapi di sini, aliran debu bisa menyebabkan kerusakan. Para ilmuwan ingin mengamati terus-menerus getaran pada puncak gunung, agar bisa memberikan peringatan dini kepada warga dan pendaki gunung.

Di dalam pipa plastik terdapat pengukur jarak, yang bisa menjadi panjang dan pendek. Dengan demikian alat itu bisa mencatat perubahan pada besar celah. Dan data tersebut dikirim ke lembah lewat gelombang radio.

Jika bagian selatan gunung runtuh, itu akan berdampak di sisi lain, di sebelah utara, yaitu daerah Allgäu. Di sana tidak ada kawasan hunian. Tetapi jalan setapak yang banyak dikunjungi orang.

Peneliti Michael Dietze menerangkan, "Jadi jika batu di sana berjatuhan, tentu di kawasan puncak ini ketegangan akan berubah, sehingga akan lebih banyak bagian yang runtuh."

Peneliti juga menggunakan drone

Bersamaan dengan itu, dua peneliti lainnya, Florian Mädler dan Simon Gillich, menggunakan drone untuk melihat gunung dari atas. Dengan kamera drone, Florian Mädler membuat foto-foto, yang kemudian digunakan untuk membuat model grafis tiga dimensional. Ketepatannya satu sampai dua sentimeter. Dengan demikian ukuran celah yang terlihat hampir tepat. Ilmuwan juga menggunakan peristiwa itu untuk menguji sejumlah teknik pengamatan.

Di celah besar, Michael Krautblatter dan rekan-rekannya masih berusaha menempatkan batang pengukur jarak. Setelah menghadapi serangkaian kesulitan, akhirnya berhasil juga.

Ketika malam tiba, mereka akhirnya selesai menempatkan semua alat pengukur, dan berharap, bisa memberikan peringatan dini kepada pendaki gunung dan penduduk kawasan lembah. (ml)