Menuntut Ilmu di Jerman di Tengah Pandemi COVID-19 | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 19.06.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Blog

Menuntut Ilmu di Jerman di Tengah Pandemi COVID-19

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jerman awal Oktober tahun lalu, saya tidak menduga bahwa pandemi corona akan melanda Jerman dan seluruh dunia. Oleh Patricia Rika Ariani.

Jerman yang berjarak sekitar dua jam melalui perjalanan udara dari Italia, pada bulan Maret sedang mengalami lonjakan angka positif virus SARS-CoV-2 atau yang lebih dikenal sebagai penyebab penyakit saluran pernapasan COVID-19. Dilansir dari halaman web Robert Koch Institut (www.rki.de), hingga artikel ini ditulis telah terdata lebih dari 52,000 pasien positif COVID-19 dan 389 orang meninggal.

Mendapat kesempatan untuk kuliah di negara yang populer sebagai tujuan studi ini adalah suatu kebanggaan dan tantangan bagi para pelajar Indonesia. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jerman awal Oktober tahun lalu, saya pun tidak menduga bahwa pandemi virus ini akan melanda Jerman dan hampir seluruh bagian dunia.

Patricia Rika Ariani (Privat)

Patricia Rika Ariani

Sejak 13 Maret 2020, universitas-universitas di Jerman telah mengumumkan penundaan perkuliahan yang melibatkan tatap-muka hingga setidaknya 4 Mei, karena terus meningkatnya angka pasien positif penyakit ini. Pemerintah kota Dresden juga menetapkan "Ausgangsbeschränkungen” atau larangan keluar rumah, kecuali untuk aktivitas khusus seperti bekerja, berbelanja kebutuhan hidup, mengasuh atau mengunjungi anggota keluarga yang memerlukan bantuan, dan alasan khusus lainnya. Di daerah tempat saya tinggal, yaitu Sachsen, aturan ini mulai berlaku pada 21 Maret hingga setidaknya 14 hari berikutnya.

Lantas, apa dampaknya bagi mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Jerman?

Satu minggu setelah larangan keluar rumah ini ditetapkan, angka positif pasien COVID-19 masih terus bertambah. Di kota Dresden tempat saya tinggal, universitas mulai mempertimbangkan kemungkinan memakai libur musim panas sebagai waktu aktif perkuliahan atau bahkan memperpanjang periode studi akibat penundaan yang harus mereka lakukan.

Hal ini menimbulkan perdebatan di kalangan pelajar, terutama mereka yang bergantung pada beasiswa untuk biaya hidup dan penunjang studinya. Untuk mahasiswa Indonesia sendiri, tidak sedikit yang menanti-nanti liburan musim panas untuk pulang ke tanah air dan bertemu keluarga serta teman-teman tercinta. Akibat penundaan perkuliahan, saya sendiri khawatir libur musim panas akan diisi dengan kuliah, artinya rencana pulang ke tanah air pun menjadi tidak pasti.

Larangan keluar rumah juga memberikan dampak yang signifikan kepada mahasiswa. Beberapa teman-teman saya mulai mengalami depresi karena minim interaksi sosial, rindu dengan keluarganya, dan ketakutan akibat pandemi yang sedang merebak hampir di seluruh dunia ini. Ditambah lagi proses perpanjangan visa dan keperluan administratif lainnya yang tertunda akibat tutupnya kantor pemerintah.

Strassen in Dresden nach dem ersten Corona-Lockdown (Privat)

Pemandangan Kota Dresden di hari pertama penetapan larangan keluar rumah.

Di situasi yang serba tidak pasti ini, apa yang dapat kita lakukan?

Stay at home saat ini adalah salah satu cara yang paling efektif sebagai usaha untuk menekan penyebaran virus corona penyebab penyakit COVID-19 ini. Pemerintah Jerman sendiri, termasuk KBRI di Jerman juga sudah banyak mempublikasikan cara-cara mencegah penyebaran virus ini termasuk melalui social distancing, larangan keluar rumah, mencuci tangan dan menjaga kesehatan tubuh, termasuk potensi gejala apabila kita terkena penyakit ini.

Yang perlu diingat juga adalah apa yang harus dilakukan ketika kita berpikir kita terjangkit virus ini, yaitu mengupayakan karantina diri selama setidaknya 14 hari dan segera menghubungi dokter atau hotline telepon yang telah disediakan pemerintah jerman khusus untuk penanggulangan virus ini, sesuai dengan informasi dari pemerintah Jerman dan KBRI. Sambil memberikan waktu lebih lama bagi para dokter dan ilmuwan dalam menemukan vaksin dan obat bagi penyakit ini, staying at home bisa menjadi senjata kita untuk bersama-sama melindungi diri sendiri dan orang lain dari COVID-19.

Komunitas Indonesia di Jerman juga memberikan peranan penting melalui penggalangan dana untuk pembelian alat perlindungan diri (APD) tenaga medis di Indonesia dan penyaluran informasi serta imbauan terkait penyakit ini. Di Dresden, Forum Masyarakat Indonesia di Dresden (Formid Dresden) menjadi sarana pertukaran informasi seputar pandemi. Beberapa anggotanya yang berprofesi di bidang medis secara sukarela menawarkan layanan konsultasi masalah kesehatan yang berhubungan pandemi. Selain itu, Formid Dresden juga sedang membuka kesempatan donasi atau partisipasi bagi mereka yang membutuhkan bantuan.

Di masa ketika keluar rumah menjadi sulit, tentu tidak mudah bagi kita untuk menjalani kegiatan sehari-hari. Pikiran mengenai kemungkinan kita terjangkit virus ini menjadi halangan bagi kita untuk melanjutkan studi dan pekerjaan kita, belasan ribu kilometer jauhnya dari tanah air Indonesia.

Tetapi, banyak hal yang dapat kita petik dari kejadian ini.

Kapan terakhir kali kita berpikir untuk memberi waktu istirahat bagi diri sendiri dari segala kesibukan kuliah dan pekerjaan? Sehari-harinya mungkin kita juga menganggap sepele hubungan kita dengan teman-teman dan keluarga, yang mana saat ini justru menjadi kekuatan kita untuk tetap bertahan di rumah, memerangi pandemi ini bersama-sama.

Hampir dua minggu lamanya staying at home, saya mencoba resep masakan baru, mencoba setidaknya 3 platform online streaming dan meeting untuk kebutuhan online class maupun menonton bersama teman, melanjutkan belajar bahasa asing yang sempat tertunda sejak keberangkatan ke Jerman, dan catching-up dengan setidaknya empat teman lama.

Lima bulan setelah saya memulai studi saya, dunia mengajarkan poin yang sangat penting di dalam hidup, yaitu betapa manusia di berbagai penjuru dunia, dengan segala kekuatannya, saat ini sedang bahu-membahu untuk menjaga roda kehidupan tetap berputar dan menolak dikalahkan oleh pandemi.

Dresden, 29 Maret 2020

* Patricia Rika Ariani adalah mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menuntut ilmu di TU Dresden bidang Regenerative Biology & Medicine.

** DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri. (hp/pkp)