Menunggu Solusi Politik untuk Timur Tengah | Fokus | DW | 11.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Menunggu Solusi Politik untuk Timur Tengah

Ratusan ribu warga sipil terisolasi di wilayah perang di Libanon, sementara perang terus berlangsung. Jum'at (11/08) ini, Pejabat Urusan Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana akan mengadakan pembicaraan dengan pemerintahan Libanon dan Israel untuk membahas bingkai politik guna mencapai perdamaian jangka panjang.

Resolusi PBB diharapkan ditetapkan secepatnya

Resolusi PBB diharapkan ditetapkan secepatnya

Perang antara kelompok Hisbullah dan Israel di Lebanon terus berlangsung. Israel mendesak sampai ke kota Marjayoun, di utara wilayah perbatasan. Disebutkan, operasi ini belum termasuk dalam ofensif peluasan serangan darat Israel yang diumumkan dua hari lalu. Sementara, para politisi menunggu adanya solusi politik. Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan menyerukan agar Dewan Keamanan secepatnya menyepakati resolusi yang dapat mengakhiri pertikaian di Libanon.

Negosiasi untuk memformulasi resolusi itu berjalan alot. Prancis mendukung tuntutan Libanon, agar pasukan Israel ditarik keluar, ketika pasukan Libanon menempatkan 15.000 tentaranya di Libanon Selatan dan peperangan berhenti. Sementara Amerika Serikat mendukung posisi Israel, yang ingin menunggu penempatan pasukan internasional. Saat ini, baik Prancis maupun Amerika Serikat menyatakan ada kemajuan dalam negosiasi itu dan resolusi dapat disepakati dalam waktu dekat. Hal ini di konfirmasi oleh Duta Besar Cina di PBB, Liu Zhemin.

Sekjen PBB, Kofi Annan yang bekerja erat dengan Dewan Keamanan PBB memperingatkan, selambatnya resolusi itu harus disepakati akhir minggu ini. Ia juga mengulangi seruannya agar kedua pihak yang bertikai berhenti perang dan menghentikan mimpi buruk yang dialami warga sipil selama 4 minggu terakhir ini. Sampai sekarang lebih dari 1000 warga sipil yang tewas di Libanon, sedangkan korban tewas di pihak Israel mencapai lebih dari 38 orang.

Sementara di Jenewa, Koordinator bantuan PBB, Jan Eggeland memperingatkan bahwa situasi di Libanon semakin parah setiap harinya. Koridor bantuan kemanusiaan yang sudah disetujui oleh pihak yang bertikai tidak bisa difungsikan. 120.000 orang di selatan Libanon terputus dari segala bentuk bantuan. Padahal menurut Eggeland, kedua pihak yang bertikai ini seharusnya dengan mudah menghentikan serangan agar warga sipil bisa menerima bantuan.

Saat ini sepertiga rakyat Libanon telah mengungsi, sementara Israel telah mengalami serangan rudal yang terberat sejak negara itu berdiri. Sedangkan rumah-rumah sakit yang melimpah ruah dengan korban perang, berada dalam keadaan gawat, karena tidak menerima pasokan bahan bakar untuk menjalankan generator listriknya.