Menteri Perindustrian Libanon Dibunuh | Fokus | DW | 22.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Menteri Perindustrian Libanon Dibunuh

Pembunuhan Pierre Gemayel ini memperlemah pemerintahan Perdana Menteri Fuad Siniora, karena berkurang lagi seorang anggota pemerintahan yang bersikap kritis terhadap Suriah.

Demonstrasi mengutuk pembunuhan Gemayel di Beirut

Demonstrasi mengutuk pembunuhan Gemayel di Beirut

Setelah pembunuhan itu timbul kerusuhan di Beirut. Dewan Keamanan PBB di New York langsung mengecam pembunuhan terhadap Pierre Gemayel, politisi yang bersikap kritis terhadap Suriah. Terutama duta besar AS untuk PBB John Bolton memperingatkan agar mahkamah PBB yang direncanakan, tidak dibatalkan berdasarkan kekhawatiran bahwa Libanon menjadi tidak stabil. Dikatakannya: "Betapa salahnya hal itu! Tidak stabil? Sekarang orang-orang dibunuhi. Mereka membunuh politisi. Apakah sekarang bukan waktunya untuk mencari keadilan?"

Hanya beberapa jam setelah terjadinya pembunuhan terbaru, dengan suara bulat majelis tertinggi PBB menyetujui rencana pembentukan mahkamah kasus pembunuhan terhadap mantan PM Libanon Rafiq Hariri. Pembunuhan yang terjadi bulan Februari 2005 itu menewaskan 23 orang lainnya.

Sebelumnya Dewan Keamanan PBB dalam waktu sangat cepat kembali mengecam pembunuhan terbaru terhadap seorang politisi.

"Dewan Keamanan mengecam dengan suara bulat pembunuhan di Beirut terhadap Menteri Perindustrian Pierre Gemayel, seorang patriot yang mencerminkan kebebasan dan kemerdekaan Libanon." Demikian dikatakan ketua dewan, Oswaldo Rivero, asal Peru, yang atas nama 15 negara anggota Dewan Keamanan, mengimbau semua negara di kawasan itu agar bersikap menahan diri dan bertanggung jawab.

Keadaan yang kritis di Libanon disadari oleh seluruh anggota Dewan Keamanan, sehingga Qatar pun menyetujui pembentukan mahkamah dan kecaman yang dikeluarkan. Padahal keduanya diarahkan terhadap Suriah.
John Bolton mengingatkan, bahwa petugas pelacakan PBB Detlev Mehlis dan penggantinya Serge Brammertz dalam pemeriksaan kasus pembunuhan di Beirut menemukan jejak ke Suriah. John Bolton mengatakan: "Tiap orang dapat menarik kesimpulan sendiri."

Bukan hanya duta besar AS untuk PBB yang beranggapan, bahwa pembentukan mahkamah bagi pembunuhan terhadap Hariri, juga membuka kemungkinan untuk meluaskan wewenang mahkamah istimewa PBB itu bagi pemeriksaan kasus pembunuhan politik lainnya.

Tetapi pembentukan mahkamah itu masih harus disetujui oleh Beirut. Artinya akan ada lagi adu kekuatan antara pemerintahan di bawah PM Siniora yang kritis terhadap Suriah dan Presiden Lahoud yang pro Suriah. Namun duta besar Prancis Jean Marc de la Sabliere tetap optimis. Dikatakannya: "Walaupun ini adalah hari yang menyedihkan bagi Libanon, Dewan Keamanan menyadari tanggung jawabnya dan memberikan jawaban."

Bagi Dewan Keamanan sendiri Selasa (21/11) kemarin memang merupakan hari yang menyedihkan, sekaligus luar biasa. Setelah pernyataan dikeluarkan, hampir semua duta besar menyampaikan belasungkawa secara pribadi kepada wakil dari Libanon. Pelukan dan tanda simpati yang jarang terlihat dalam majelis tertinggi PBB itu.