Menlu UE Bahas Lagi Sengketa Atom Iran | Fokus | DW | 14.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Menlu UE Bahas Lagi Sengketa Atom Iran

Uni Eropa akan menawarkan lagi paket kerjasama luas jika Iran menghentikan program pengayaan uranium. Iran menyatakan siap berdialog, asal tanpa tekanan dan tanpa syarat.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ketika berkunjung ke Jakarta minggu lalu

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ketika berkunjung ke Jakarta minggu lalu

Setelah melakukan kunjungan hampir seminggu di Indonesia, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad kembali ke negaranya. Sebelumnya di Bali ia menyatakan siap bernegosiasi dalam sengketa atom, asalkan tanpa syarat. Pada Konferensi Tingkat Tinggi D-8 di Bali, Iran tadinya berharap soal sengketa atom bisa menjadi agenda pembicaraan. Namun anggota D-8 lebih melihat pertemuan ini sebagai forum konsultasi kerjasama ekonomi. Deklarasi Bali hanya menyebutkan, negara-negara D-8 menyetujui pengembangan teknologi atom sebagai sumber energi untuk tujuan damai. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, D-8 tidak ingin mengumbar semangat konfrontasi. Yudhoyono juga mengatakan, ia yakin Iran ingin tetap berbicara dengan badan energi atom internasional IAEA untuk menyelesaikan sengketa melalui jalan diplomasi.

Setibanya di Teheran, Presiden Mahmoud Ahmadinejad menerangkan, pemerintahnya tidak akan tunduk pada tekanan. Siapa yang mengancam dengan kekerasan, tidak akan punya peluang berdialog dengan Iran. Selanjutnya ia menegaskan, semua usulan yang meminta Iran menghentikan program pengayaan uranium tidak ada artinya. Hanya Iran yang bisa mengambil keputusan soal program atomnya, demikian Ahmadinejad.

Hari Senin ini, para menteri luar negeri Uni Eropa kembali akan merundingkan upaya meredakan ketegangan dalam sengketa program atom Iran. Jerman, Perancis dan Inggris sekali lagi bermaksud menawarkan paket kerjasama sebagai imbalan, jika pemerintah Iran bersedia menghentikan program pengayaan uranium. Sekretaris Jendral IAEA, Mohammed El Baradei berharap, paket yang ditawarkan Uni Eropa bisa membawa Iran kembali ke meja perundingan.

Mohammed El Baradei: „Saya tau Uni Eropa sedang menyiapkan serangkaian proposal yang akan diajukan kepada lagi kepada Iran. Ini positif, ini adalah bagian dari upaya penyelesaian komprehensif yang melibatkan berbagai isu, keamanan, ekonomi, perdagangan dan lain-lain. Saya harap penawaran paket ini bisa membawa Iran kembali ke meja perundingan.“

Beberapa waktu lalu, badan energi atom internasional IAEA meminta Iran menghentikan program pengayaan uranium. Tapi Iran bersikeras mempertahankan haknya menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai, sebagaimana tertera dalam perjanjian non proliferasi. Sampai saat ini, upaya Amerika Serikat, Inggeris dan Perancis mendesak Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang memuat sanksi terhadap Iran gagal karena penolakan Rusia dan Cina. Kedua negara punya hubungan dagang erat dengan Iran. Terutama Cina khawatir, ketegangan dalam hubungannya dengan Iran bisa mengganggu pemasokan minyak dari negara itu. Cina saat ini sangat membutuhkan minyak untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat.

Presiden Perancis Jacques Chirac menyatakan, jika tetap menolak penawaran baru dari Uni Eropa, maka Iran harus dipaksa untuk menghentikan program nuklirnya.