Menlu Jerman: Jerman Tolak Usulan Rusia Kembali Masuk G7 | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 27.07.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

G7

Menlu Jerman: Jerman Tolak Usulan Rusia Kembali Masuk G7

Bulan lalu, Presiden AS Donald Trump menyarankan agar Rusia kembali bergabung ke dalam kelompok G7. Namun, Menlu Jerman Heiko Maas berpendapat bahwa Rusia harus terlebih dahulu menyelesaikan konfliknya dengan Ukraina.

Heiko Maas

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas

Jerman telah menolak usulan yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump untuk memungkinkan Rusia bergabung kembali ke Kelompok Tujuh (G7). Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Neheri Jerman Heiko Maas dalam wawancara bersama surat kabar Jerman Rheinische Post.

"Alasan pengecualian Rusia adalah aneksasi Semenanjung Krimea dan intervensi mereka di Ukraina timur," kata Maas. "Selama kita tidak punya solusi di sana, saya tidak melihat peluang untuk ini (kembali bergabung)."

Rusia keluar dari G7 pada 2014 setelah Moskow menganeksasi wilayah Semenanjung Krimea Ukraina.

'Tidak memerlukan' tambahan anggota

"Rusia sendiri dapat memberikan kontribusi terbesar untuk membuka kembali peluang-peluang seperti itu," kata Maas, mendesak Kremlin untuk berbuat lebih banyak untuk mengatasi konflik.

"G7 dan G20 adalah dua format terkoordinasi yang masuk akal," tambahnya. G20 adalah kelompok 20 negara dengan perekonomian terbesar ditambah dengan Uni Eropa, dan Rusia termasuk dalam kelompok tersebut.

"Kami tidak membutuhkan G11 atau G12," lanjut Maas.

Peran untuk Rusia

Meski begitu, Maas mengatakan Rusia tetap penting bagi G7.

"Kami juga tahu bahwa kami membutuhkan Rusia untuk menyelesaikan konflik di Suriah, Libya, dan Ukraina," tutur Maas.

Dia meminta Rusia untuk menjalankan perannya di Ukraina, mengatakan bahwa Moskow lambat untuk bertindak mengatasi konflik di sana.

Maas juga mengkritik Rusia karena menahan kiriman bantuan kemanusiaan untuk 1,5 juta orang di Suriah.

 

rap/ha (Reuters, dpa)