Menlu Jerman Bertolak ke Asia Tengah | Fokus | DW | 29.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Menlu Jerman Bertolak ke Asia Tengah

Selama seminggu Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier akan berkunjung ke Kasachstan, Usbekistan, Turkmenistan, Tajikistan dan Kirgistan.

Menlu Jerman Steinmeier

Menlu Jerman Steinmeier

Kunjungan dilakukan menjelang masa kepemimpinan Jerman dalam UE paruhan pertama tahun depan, dimana hubungan dengan Asia Tengah akan ditingkatkan. Selain merintis proses diskusi yang diperlukan untuk itu, Steinmeier juga merupakan menteri luar negeri Eropa pertama yang mengunjungi sekaligus kelima negara Asia Tengah.

UE sudah lama menyadari makna strategis dari kawasan Asia Tengah, yang berdekatan dengan negara-negara yang dilanda krisis seperti Iran dan Afghanistan, dan juga berada di bawah ketegangan antara sejumlah negara besar. Gernot Erler, menteri negara pada Kementrian Luar Negeri Jerman mengemukakan bahwa di bekas wilayah Uni Soviet yang disebut kawasan pasca Soviet terdapat perkembangan yang sulit. Karena itu harapan besar digantungkan kepada UE.

Gernot Erler menambahkan, dengan hubungan yang dimiliki Jerman ke negara-negara itu, termasuk kelima negara di Asia Tengah, ada keyakinan rasa saling percaya dapat diciptakan. Jerman juga punya hubungan baik dengan pemegang peranan politik di kawasan itu seperti Rusia, AS atau Cina, sehingga negara-negara Eropa lainnya langsung setuju, ketika Jerman menyatakan niat hendak membina strategi baru di Asia Tengah.

Menlu Steinmeier mengunjungi kawasan yang di satu sisi masih terbebani masa lalunya, tapi di segi ekonomi penuh semangat menyongsong masa depan. Kelima negara itu, Kasachstan, Kirgistan, Tajikistan, Turkmenistan dan Usbekistan pernah menjadi bagian dari Uni Soviet. Walaupun telah mandiri di tahun 1991, tetapi reformasi dalam negeri tidak mengalami kemajuan. Sebaliknya, kelima negara itu diperintah secara otokratis. Korupsi dan kejahatan terorganisasi merajalela dimana-mana. Pemahaman tentang negara hukum sangat minim dan HAM tidak memainkan peranan. Dapat dipastikan, hal-hal tersebut akan dibicarakan oleh Menlu Steinmeier.

Selain itu Jerman dan Eropa juga berharap memperoleh dukungan dalam upaya memberantas terorisme internasional dan islam radikal. Tetapi tema utama adalah perluasan hubungan ekonomi. Steinmeier didampingi oleh delegasi ekonomi yang cukup besar untuk menghadiri forum ekonomi di ibu kota Kasachstan, Astana, Selasa (31/10). Perhatian Jerman dan Eropa terpusat di Kasachstan yang ekonominya berkembang pesat sehubungan dengan adanya sumber minyak dan gas bumi.

Di Turkmenistan, salah satu negara penambang gas terbesar dunia, Menlu Steinmeier akan menghadapi kondisi politik yang ganjil. Presiden Nijasov mengutamakan pemujaan terhadap dirinya. Patungnya terdapat dimana-mana, karya tulisannya "Ruchnama" merupakan bacaan wajib di sekolah-sekolah, dan partai oposisi tidak boleh eksis. Negara ini benar-benar terkucil. Walaupun memiliki kekayaan gas bumi, tetapi Turkmenistan merupakan salah satu negara termiskin di dunia.

Dengan Usbekistan, Jerman punya hubungan khusus dalam upaya menanggulangi teror. Pangkalan militer di Termes merupakan poros penugasan tentara Jerman untuk Afghanistan. Disana terdapat 300 tentara Jerman. Pembinaan hubungan tersebut merupakan sasaran kritik berkaitan dengan kondisi HAM di Usbekistan. Menteri negara pada kementrian luar negeri Jerman Gernot Erler menjelaskan bahwa dalam soal HAM Jerman tidak menenggang kepentingannya di Termes. Jerman juga tidak akan menjalankan politik yang mengucilkan Usbekistan, karena yang hendak diutamakan adalah berdialog, membahas tentang kegiatan organisasi non pemerintah seperti Human Rights Watch di Termes. Dalam hal ini ada jawaban positif dari kantor Presiden Karimov. Ini adalah kegiatan yang dilakukan Jerman. Politik berdialog, walaupun di Usbekistan terdapat situasi yang kritis, tanpa mempengaruhi kegiatan di bandar udara militer, Termes.

Dari segi ekonomi, Kirgistan dan Tajikistan kurang menarik. Di kedua negara banyak penduduknya hidup di bawah batas kemiskinan. Reformasi politik tidak mengalami kemajuan, juga setelah "revolusi anyelir" bulan Maret 2005 di Kirgistan.