1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Menteri Luar Negeri India, S. Jasihankar (ki.) bersama Menlu Cina, Wang Yi (ka.)
Menteri Luar Negeri India, S. Jasihankar (ki.) bersama Menlu Cina, Wang Yi (ka.) dalam KTT Organisasi Kooperasi Shanghai di Moskow, September 2020Foto: Bai Xueqi/Xinhua/imago images
KonflikIndia

Menlu Cina Kunjungi India Bahas Konflik Perbatasan

25 Maret 2022

Wang Yi melakukan lawatan pertama ke India sejak eskalasi konflik di perbatasan Himalaya, 2020 silam. Misinya bertambah pelik, menyusul pidatonya yang kontroversial tentang status Kashmir di Konferensi Organisasi Islam

https://www.dw.com/id/menlu-cina-kunjungi-india-bahas-konflik-perbatasan/a-61256686

Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, menemui rekan sejawatnya, Menlu Subrahmanyam Jaishankar dan penasehat keamanan nasional India, Ajit Doval, begitu tiba di New Delhi, Kamis (24/3) malam. 

Kunjungan tersebut antara lain mengagendakan deeskalasi konflik di perbatasan Himalaya. Perkelahian antara tentara India dan Cina di Lembah Galwan, dua tahun silam, menyisakan 20 korban jiwa di pihak India. Adapun Cina mengklaim empat serdadunya tewas dalam insiden tersebut.

Sejauh ini, Kemenlu India dan Cina tidak memublikasikan hasil pembicaraan antara kedua pihak. Kunjungan Wang Yi ke New Delhi itu, juga tidak diumumkan secara resmi, baik oleh New Delhi atau Beijing. Seusai pertemuan di ibu kota India, menlu Cina bergegas pergi tanpa memberikan keterangan pers.

Namun begitu, dua pejabat tinggi India membocorkan isi pertemuan kepada Reuters. Menurut kesaksian keduanya, Ajit Doval menegaskan kepada Wang Yi, satu-satunya solusi untuk meredam konflik di Himalaya adalah penarikan mundur militer dari wilayah yang diperebutkan. 

Bibit perang di Lembah Galwan.

Dalam dua tahun terakhir, Wang Yi dan Jaishankar pernah bertatap muka dua kali, yakni di sela-sela KTT Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) di Rusia dan Tajikistan. Namun keduanya gagal bersepakat soal bagaimana meredakan ketegangan di perbatasan.

India mengklaim Cina menduduki wilayahnya seluas 38.000 km persegi di Plato Aksai Chin. Menurut laporan Centre for Strategic & International Studies (CSIS), sejak Februari 2022 Cina memperkuat posisinya di tepi Danau Pangong-Tso yang dibagi dua dengan India. 

Fortifikasi oleh Cina mencakup pembangunan infrastruktur utama seperti jalan dan pangkalan milter, termasuk sebuah jembatan yang menghubungkan benteng pertahanan di kedua tepi danau.

Secara resmi, India dan Pakistan sepakat mengurangi jumlah serdadu di wilayah yang diperebutkan. Pasukan dikabarkan sudah ditarik mundur dari bantaran utara dan selatan Danau Pangong Tso, Lembah Galwan dan Lembah Gogra. 

Pengurangan pasukan merupakan hasil 15 putaran negosiasi antara petinggi militer kedua negara sejak 2020.  

Provokasi konflik Kashmir

Misi Menlu Cina, Wang Yi, untuk meredakan konflik di Aksai Chin tidak menjadi lebih mudah dengan pidato kontroversialnya dalam pertemuan Organisasi Konferensi Islam di Islamabad, Pakistan, Selasa (22/3). Saat itu dia menegaskan sikap Beijing mendukung Pakistan dalam isu Kashmir.

"Kami sekali lagi mendengar imbauan oleh banyak teman dari dunia Islam. Cina berbagi aspirasi yang sama,” kata dia. Islamabad menuduh India menduduki Jammu & Kashmir secara illegal, serta melakukan beragam pelanggaran HAM terhadap penduduk setempat.

Buntutnya India melayangkan protes dan menolak "intervensi” asing terhadap isu dalam negerinya. "Negara-negara lain, termasuk Cina, tidak punya hak untuk berkomentar,” kata juru bicara Kemenlu, Arindam Bagchi, Rabu (23/3).

Pernyataan Wang Yi dikhawatirkan menambah pelik situasi di Aksai Chin, yang hanya berjarak 200 km dari Line of Control (LoC) yang memisahkan India dan Pakistan di Kashmir. 

Kedua narasumber Reuters yang hadir dalam pertemuan dengan Wang Yi mengatakan, penasehat keamanan nasional India, Doval, mendesak Cina menarik mundur pasukannya dari perbatasan. "Berlanjutnya situasi saat ini tidak termasuk kepentingan kita bersama” kata dia.

"Perdamaian dan ketenangan sebaliknya akan bisa membantu membangun rasa saling percaya dan menciptakan iklim yang memungkinkan kemajuan dalam relasi antara kedua negara,” imbuh Doval.

rzn/as (rtr/ap)