Menkeu Sri Mulyani Sebut Corona sebagai ′Perfect Storm′ Bagi Ekonomi RI | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 19.06.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Ekonomi

Menkeu Sri Mulyani Sebut Corona sebagai 'Perfect Storm' Bagi Ekonomi RI

Menkeu Sri Mulyani sebut pandemi COVID-19 sebagai 'perfect storm' karena telah memporakporandakan perekenomian Indonesia. Ia menambahkan ekonomi RI pada kuartal II alami tekanan kemungkinan dalam kondisi negatif.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut pandemi virus corona sebagai perfect storm atau badai yang sempurna dalam memporakpondakan perekonomian Indonesia.

Dalam beberapa bulan belakangan, Sri Mulyani menyebut seluruh sektor perekonomian nasional terdampak, terutama pada sosial, ekonomi, dan keuangan.

"Market bergejolak karena semua panik, saham merosot, SBN yield merosot, nilai tukar terguncang, semua jadi perfect storm bagi pengelola keuangan negara. Jadi COVID mempengaruhi sosial, ekonomi, keuangan," kata Sri Mulyani saat menjadi pembicara kunci di hadapan PNS Kemenkeu dalam acara Townhall Meeting via virtual, Jumat (19/6/2020).

Pertumbuhan ekonomi ke level negatif

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengungkapkan pandemi COVID-19 juga membuat laju pertumbuhan ekonomi dunia ke level negatif. Hal ini juga akan dialami oleh banyak negara termasuk Indonesia.

"Dampak ekonominya luar biasa, dengan COVID ada pembatasan sosial, ekonomi menurun, dunia disebutkan perekonomiannya negatif, kalau di negara maju, semua negara di kuartal II mengalami kontraksi, di beberapa negara sudah resesi, Inggris, Jerman, Jepang, Malaysia," jelasnya.

"Kita beruntung pada kuartal I bertahan di 2,97%. Namun kuartal II kita alami tekanan kemungkinan dalam kondisi negatif," tambahnya.

Corona yang dianggap sebagai badai juga karena membuat pemerintah harus merevisi beberapa kali APBN tahun anggaran 2020. Revisi pun dilakukan bersamaan pemerintah menyusun kebijakan penanggulangan penyebaran virus corona.

Untuk menyeimbangi perubahan akibat COVID-19, pemerintah pun menerbitkan Perppu Nomor 1 Tahun 2020 untuk memiliki fleksibilitas dalam mengelola keuangan negara atau menyesuaikan perkembangan kasus penyebaran agar mitigasinya cepat dilakukan.

"Bagaimana risikonya dimitigasi dan mulai pikirkan pemulihannya, jadi kita kejar-kejaran dengan masalah dan memikirkan pemulihannya itu yang sedang dan terus dilakukan," ungkapnya.

''Tantangan kita jaga keuangan negara''

Dalam waktu singkat perekonomian berubah drastis. Perubahan tersebut tergambar dari realisasi pertumbuhan ekonomi nasional yang melambat ke 2,97% pada kuartal I-2020, dari sisi tingkat konsumsi rumah tangga yang menurun drastis lantaran banyak masyarakat yang penghasilannya terdampak karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga usahanya tutup akibat pembatasan sosial.

"Ini tantangan buat kita sebagai punggawa menjaga keuangan negara," kata Sri Mulyani saat menjadi pembicara kunci di acara Townhall Meeting via virtual, Jumat (19/6/2020).

Dampak COVID-19 terhadap perekonomian Indonesia juga membuat pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan mengubah target APBN tahun anggaran 2020. Perubahan terjadi pada anggaran belanja negara yang semakin tinggi dan pendapatan yang semakin menurun.

"Dapur kita begitu sangat sibuk. Saya ingin seluruh jajaran Kemenkeu bisa melihat, merasakan connection ke degup luar biasa besar. Ini bukan peristiwa terjadi setiap tahun, setiap 5 tahun, setiap 10 tahun. Ini peristiwa 100 tahun sekali di dunia. Kebetulan anda dan saya dalam posisi kelola keuangan negara. Anda diberikan tantangan history yang bersejarah bagaimana bisa responsnya," ujarnya. (pkp/gtp)

Baca selengkapnya di: detiknews

Sri Mulyani Anggap Corona Sebagai Perfect Storm, Maksudnya Apa?

Sri Mulyani ke Anak Buah: COVID Tantangan Kita Jaga Keuangan Negara