Menjelang Pertemuan NATO di Oslo | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 25.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Menjelang Pertemuan NATO di Oslo

Menteri luar negeri anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO akan mengadakan pertemuan di ibukota Norwegia, Oslo hari Kamis (26/04) .

Sekjen NATO Jaap de Hoop Scheffer

Sekjen NATO Jaap de Hoop Scheffer

Di Oslo para menteri luar negeri anggota NATO berupaya menghapus kekhawatiran ganda Rusia. Moskow tidak hanya menolak tegas rencana pembangunan sistim penangkal rudal Amerika Serikat yang hendak dipasang di Polandia dan Ceko. Tapi juga menolak kemerdekaan provinsi Kosovo dari Serbia yang diusulkan utusan khusus PBB Martti Ahtisaari. Namun perbedaan pendapat dalam masalah penangkal rudal juga terdapat di tubuh NATO sendiri. Pekan lalu hanya dengan penjelasan yang panjang lebar Washington berhasil memperoleh ijin resmi NATO untuk hal tersebut, meskipun Sekretaris Jenderal Jaap de Hoop Scheffer seolah-olah tidak pernah ragu akan hal tersebut

“Itu sudah jelas, dan semakin jelas lagi hari ini. Tapi saya katakan bukan hal yang baru dimana NATO sepakat akan adanya ancaman rudal.”

Ancaman ini dengan jelas diterangkan Amerika Serikat bukan datang dari Rusia tapi dari negara-negara seperti Iran atau Korea Utara. Jika bukan sekarang mungkin beberapa tahun mendatang, dan untuk itu harus berjaga-jaga. Tapi menteri luar negeri Rusia, Sergej Lavrov dapat kembali berargumentasi, rencana sistim anti rudal tersebut membawa ketidakstabilan dalam politik keamanan Eropa. Hal yang terutama didengarkan Jerman. Menjelang pertemuan, Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier menekankan, pentingnya hubungan pemerintahnya dengan Rusia

“Tidak ada yang berubah dalam situasi, dimana kami Eropa dan Rusia saling tergantung satu sama lain dalam membantu menyelesaikan konflik di kawasan yang dekat maupun global.”

Para diplomat memperkirakan, dengan proses yang panjang akhirnya Rusia akan memberikan persetujuannya, tapi dengan harga yang mahal. Untuk masalah Kosovo akan lebih sulit lagi. Secara tradisi Rusia merupakan mitra Serbia dan oleh sebab itu menentang kemerdekaan Kosovo, karena ini dikhawatirkan mirip dengan upaya kemerdekaan di Kaukasus. Sebaliknya Menteri luar negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice dan lainnya mengatakan, tanpa menempuh cara ini, situasi antara Serbia dan Albania di Kosovo tidak akan terkendali. Sejak tahun 1999 NATO turut andil dalam menciptakan keamanan di Kosovo dan akan terus melakukannya sesuai rencana Ahtisaari.

Di Afghanistan NATO menghadapi meningkatnya serangan Taliban, sampai ke kawasan Utara yang selama ini dikenal tenang. Seruan penambahan pasukan NATO di Afghanistan mungkin juga akan terdengar di Oslo. Tapi saat ini kondisinya sudah membaik. Jerman telah mengirimkan enam pesawat pengintai Tornado. Dan sekarang dalam misi di Afghanistan terutama sudah lebih terjalin kerjasama antara pihak militer dan sipil.

Iklan