Menjelang KTT Iklim PBB, Aktivis Muda Gelar Aksi dan Konferensi di New York | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 23.09.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Perlindungan Iklim

Menjelang KTT Iklim PBB, Aktivis Muda Gelar Aksi dan Konferensi di New York

Para aktivis muda turun ke jalan dan berkumpul di kota New York menyambut KTT Iklim PBB hari Senin (23/9). Pesan mereka untuk para pemimpin dunia: ini adalah situasi darurat iklim.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) akan menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kebijakan Iklim mulai hari ini (23/9) di New York. Pertemuan puncak ini merupakan upaya untuk memulai kampanye global melawan perubahan iklim.

Dalam dua sesi, sekitar 60 pemimpin dunia akan mengumumkan langkah konkret apa yang akan mereka ambil untuk mengatasi pemanasan global. Antara lain akan hadir Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri India Narendra Modi dan Kanselir Jerman Angela Merkel.

"Jangan datang ke KTT dengan pidato-pidato indah," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bulan Agustus lalu ketika mempersiapkan konferensi ini. "Datanglah dengan rencana konkret."

USA | Demonstranten beim Global Climate Strike in New York City (DW/C. Bleiker)

sekitar 250 ribu orang turun ke jalan menggelar protes untuk perlindungan iklim pada hari Jumat (20/9)

Aksi protes di seluruh dunia

Sejak 20 September, jutaan pengunjuk rasa menggelar aksi di berbagai kota dunia, dimotori oleh para aktivis muda gerakan "Fridays for Future" yang dicetuskan aktivis Swedia Greta Thunberg. Di New York, sekitar 250.000 pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan untuk menyerukan tindakan segera dan penghormatan terhadap lingkungan. Berbagai aksi itu digalang dengan slogan Global Climate Strike.

Greta Thunberg yang berangkat ke New York dengan kapal nol emisi ke New York menjadi salah satu tokoh yang jadi sorotan media. Pada aksi hari Jumat (20/9) dia berpidato di rapat umum di Battery Park.

"Orang-orang yang berkuasa, mereka semua mengucapkan kata-kata indah yang sama, janji-janji kosong yang sama, kebohongan yang sama, dan kelambanan yang sama. Tidak ada seorang pun yang berkuasa yang berani mengatakannya kebenaran itu, karena mereka tidak peduli, ... bahkan mereka mengalihkan beban dan tanggung jawab kepada kami, kami para remaja, kami anak-anak," kata Greta Thunberg dalam pidatonya.

Aktivis berusia 16 tahun itu mendirikan gerakan Fridays for Future yang kemudian diikuti oleh banyak pelajar di seluruh dunia. Mereka membolos dari sekolah setiap hari Jumat untuk menggelar aksi protes dan menuntut para politisi bebuat lebih banyak demi perlindungan iklim.

'Kita perlu tindakan berani'

Presiden AS Donald Trump tidak menghadiri KTT iklim PBB di New York. Hampir 3 tahun lalu, Trump mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari Kesepakatan Iklim yang disetujui pendahulnya Barack Obama. Trump ketika itu membantah adanya pemanasan global dan menyebut isu tersebut sengaja disebarkan Cina untuk menggoyahkan perekonomian AS.

Para ahli mengatakan. Meningkatnya suhu global sudah menjadi ancaman serius dan tidak ada waktu lagi tersisa untuk bertindak. Karena itu, sekarang harus dilakukan tindakan segera dan drastis untuk perlindungan iklim.

Juru kampanye iklim dari organsiasi lingkungan Greenpeace mengatakan kepada DW: "Ini sudah krisis dan tidak ada jalan tengah lagi. Kita perlu tindakan berani."

Hari Sabtu (21/9) para aktivis muda menggelar KTT Iklim Pemuda di PBB, di mana lebih dari 1000 orang muda dari lebih 140 negara berkumpul untuk membahas strategi uperlindungan iklim dan lingkungan. Mereka menuntut agar para politisi yang mengkuti KTT Iklim PBB di New York segera bertindak dengan serius, untuk menjaga agar pemanasan global tetap berada di bawah 2° Celcius pada tahun 2050. hp/ml

Laporan Pilihan