Menjelang Debat Pilpres Jilid 4: Apakah Prabowo Bakal Keteteran? | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 30.03.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Debat Pilpres 2019

Menjelang Debat Pilpres Jilid 4: Apakah Prabowo Bakal Keteteran?

Sabtu malam ini, Jokowi dan Prabowo kembali bertemu di panggung debat. Temanya: ideologi, pertahanan keamanan, pemerintahan, dan hubungan internasional. Prabowo bakal keteteran?

Debat Pilpres Jilid 4: Apakah Prabowo Bakal Keteteran?

Sabtu malam ini, Joko Widodo dan Prabowo Subianto kembali bertemu di panggung debat. Temanya: ideologi, pertahanan keamanan, pemerintahan, dan hubungan internasional. Apakah Prabowo bakal keteteran?

Debat malam ini hanya akan mempertemukan calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo dan pesaingnya nomor urut 02, Prabowo Subianto. Debat akan diselenggarakan di Hotel Shangri La, Jakarta dengan media penyelenggara debat antara lain Metro TV, SCTV, dan Indosiar.

Melihat tema-tema yang diusung, tentu saja pihak petahanan Joko Widodo berada dalam situasi yang lebih menguntungkan, karena punya "bonus" pengalaman menjadi presiden selama hampir lima tahun. Sebagai kepala pemerintahan, dialah yang menetapkan kebijakan luar negeri, menjalankan pemerintahan dan bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan. Jokowi juga punya akses langsung kepada data dan informasi yang ada di kementerian-kementerian terkait.

Bagi Prabowo Subianto, tampaknya satu-satunya peluang dalam kancah debat adalah tema ideologi. Sebagai salah satu anggota militer dengan karier tercepat dalam sejarah Indonesia modern, dia tentu menguasai semua jargon-jargon ideologi, berikut penafsirannya.

Sebagai perwira tinggi militer dan anak mantu Suharto, yang berkuasa lebih dari 30 tahun, Prabowo tentu juga menguasai seluk-beluk pertarungan ideologi di balik layar ketika Suharto berusaha membungkam para lawan politiknya dengan segala cara.

Tetapi, karier militer anak mantu Suharto ini jugalah yang menjadi titik lemahnya. Tahun 1998, Suharto terpaksa harus mengundurkan diri tahun 1998 setelah gerakan protes makin meluas, dan ketika negara-negara barat, terutama Amerika Serikat, mulai meninggalkannya, lalu hampir semua menteri di kabinetnya juga menarik dukungan dan ramai-ramai mengundurkan diri. Prabowo sendiri dilucuti jabatan militernya karena terlibat dalam aksi penculikan para aktivis mahasiswa dan pemuda, yang sebagian hingga kini masih tidak jelas nasibnya.

Tapi pemerintahan Jokowi juga masih punya masalah besar dalam soal keamanan dan politik luar negeri. Jokowi tidak berhasil meredam konflik di Papua, bahkan memperuncing situasi dengan mengerahkan ratusan pasukan ke kawasan konflik itu. Selain itu, militer diberikan wewenang melaksanakan dan mengawasi proyek-proyek infrastruktur dengan dana besar, lahan subur bagi korupsi dan bagi-bagi uang.

Di panggung internasional, Jokowi dan Menlu Retno Marsudi sempat "dipariahkan" oleh para diplomat Eropa, setelah Jokowi memerintahkan pelaksanaan eksekusi mati terhadap belasan terpidana mati narkoba yang kebanyakan warga asing. Ketika itu Jokowi membela keputusannya dengan alasan "Indonesia darurat narkoba" dan menyatakan, hukuman mati akan mendatangkan efek jera dan akan efektif meredam kejahatan narkoba. Padahal ini sudah sudah lama terbantah dalam berbagai penelitian ilmiah.

Di lain pihak, apa yang bisa dilakukan Prabowo Subianto di panggung internasional, kalau dia sendiri masih dicekal dan bermasalah masuk ke Amerika Serikat dan beberapa negara lain karena keterlibatannya dalam rangkaian peristiwa tahun 1998?

Debat dalam enam segmen

Komisi Pemilihan Umum (KPU) kali ini menyatakan tidak mengundang para menteri kabinet secara langsung, namun mereka tetap bisa hadir jika diundang oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf atau Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga.

Total tamu undangan yang akan hadir dalam arena debat sekitar  500 orang. Jumlah itu, terdiri dari 300 undangan KPU, dan 100 undangan masing-masing dari TKN dan BPN.

Debat akan dibagi dalam enam segmen dengan alokasi waktu total 120 menit. Segmen pertama adalah pemaparan visi-misi kedua capres. Masing-masing capres punya waktu empat menit menyampaikan visi-misi mereka. Jokowi akan lebih dulu menyampaikan visi-misi, dilanjutkan dengan Prabowo.

Pada segmen kedua, keduanya akan menjawab pertanyaan seputar tema ideologi dan pemerintahan. Pertanyaan disusun tim panelis dan disampaikan oleh moderator. Masing-masing diberi waktu dua menit untuk menjawab pertanyaan, dan 1,5 menit untuk saling menanggapi jawaban.

Pada segmen ketiga, peserta diminta menjawab pertanyaan seputar pertahanan, keamanan, dan pemerintahan. Pertanyaan disusun tim panelis dan disampaikan oleh moderator. Alokasi waktu menjawab dan memberi tanggapan sama dengan segmen kedua.

Segmen keempat dan kelima adalah debat bebas. Kedua capres boleh saling melempar pertanyaan dan menanggapi. Pada segmen keenam atau terakhir, Jokowi dan Prabowo akan diminta untuk memberikan pernyataan penutup, masing-masing diberi waktu dua menit.

 

Laporan Pilihan