1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Foto profil: Alfaro Wibisono
Foto profil: Alfaro WibisonoFoto: Privat
Sosial

Pengalamanku Menjalani Bulan Ramadan di Jerman

Alfaro Wibisono
23 April 2022

Sudah dua kali aku melewatkan bulan Ramadan di Jerman. Kebanyakan orang pasti langsung berpikir lamanya durasi berpuasa di Jerman. Oleh Alfaro Wibisono.

https://www.dw.com/id/menjalani-bulan-ramadhan-di-jerman/a-61561029

Saat mendengar menjalankan bulan puasa di sini, ya memang Eropa terkenal dengan durasi puasa yang kejam, makanya aku sih keseringan gagal move-on dari hari-hari berpuasa di Indonesia. Bagaimana tidak, dengan durasi waktu yang lebih sebentar ditambah dengan berbagai macam jajanan bukaan, takjil, dan gorengan yang tentunya dapat dibeli dipinggir jalan atau dekat rumah. Di sini boro-boro ada yang jualan bukaan seperti di Indonesia, sekalinya ada walaupun beda kota bakal aku kejar.

Tentunya kita tau jam berpuasa di Jerman lebih lama dibandingkan di Indonesia, di Indonesia kurang lebih hanya 13 jam, dan Jerman sekarang ini kurang lebih 15 jam, lebih pendek tentunya dibandingkan saat musim dingin selama 18-19 jam. Cuacanya yang relatif dingin-dingin tidak jelas hanya bisa membuat tambah kelaparan, makanya solusi untuk itu hanya bisa hibernasi seperti beruang saat musim dingin, hehe. Tapi hanya berlaku saat liburan kuliah dan sedang tidak ada kerjaan loh ya.

Situasi sehari-hari terlihat seperti biasa tidak ada yang berubah, restoran buka pada jam seharusnya buka, tidak seperti di Indonesia yang beberapa restoran buka saat menjelang buka puasa, atau memasang tirai di kaca restoran untuk simbolisasi hormat kepada yang berpuasa. Tetapi aku tidak ada masalah dengan hal itu, kulturnya memang berbeda dan aku respek dengan kultur yang berlaku disini. Malah ketika aku berusaha lebih menahan nafsu makan, aku mendapatkan pahala lebih, hehe.

 Bersama kawan-kawan di sebuah taman“
Bersama kawan-kawan di sebuah taman di ChemnitzFoto: Privat

Kebiasaan ngabuburit di Indonesia susah dilakukan di sini, khususnya di musim dingin. Mau keluar jalan-jalan, yang ada kedinginan dan tambah kelaparan. Jadi ya.., ngabuburit di rumah atau di rumah teman. Tapi kalau sedang musim panas kita bisa ngabuburit ke taman kota sambil menikmati sunset dan buka di sana dengan gaya piknik.

Masjid-masjid lokal milik komunitas Turki atau Arab terkadang menyediakan makanan buka puasa gratis, tapi tentunya mereka menyediakan makanan khas mereka. Aku bersyukur di kotaku sekarang ini, Bremen, terdapat komunitas Islam. Mereka menyediakan bukaan seperti bukaan di Indonesia pada umumnya, secara GRATIS!!!. Aku tentunya seorang mahasiswa yang hobinya ngirit sebisa mungkin sangat gembira mendengar ini, hehe.

Jadi sistemnya di sini kita harus mendaftar kurang lebih seminggu sebelum hari pengambilan makanan buka dan menyerahkan tempat makan sendiri sehari sebelum pengambilan. Karena sedang situasi korona, makanan bukaan hanya bisa dibawa pulang, tidak dapat makan di tempat. Padahal bisa menjadi kesempatan berkenalan dengan orang-orang baru, tapi ya mau bagaimana situasi lagi begini. Makanan disiapkan oleh relawan dari komunitas Islam Bremen.

Dulu saat aku tahun pertama di Jerman, aku tinggal di kota Chemnitz, sebuah kota di daerah Sachsen, dekat Leipzig dan Dresden. Di sana kita harus menyiapkan bukaan sendiri, karena tidak ada pengambilan bukaan seperti di Bremen, atau mungkin saja aku yang tidak tahu. Untungnya aku memang hobi masak sejak lama, jadi ya tidak jadi masalah untukku jika harus membuatnya sendiri, walaupun memakan waktu dan energi lebih banyak, toh akhirnya rasanya ngak kalah enak menurutku sih, hehe.

Masak lebaran di Chemnitz
Masak lebaran di ChemnitzFoto: Privat

Tentunya bulan puasa akan diakhiri dengan tradisi lebaran, ya aku akui memang lebih afdol rasanya melaksanakan lebaran di Indonesia. Karena momen inti lebaran adalah waktunya berkumpul dengan keluarga jauh dan sungkeman alias maaf-maafan. Selain bisa mengobati rasa rinduku akan tempat aku dibesarkan, keluarga-keluarga yang jarang aku temui akan bertemu pada satu hari spesial itu. Apalagi aku dapat memakan masakan lebaran yang dimasak oleh nenek dan budeku yang tidak ada duanya.

Tapi sebenarnya secara tidak sadar, aku juga di sini sedang membuat memori indah lebaran bersama teman-temanku, masak dan makan bersama, menggerutu bersama akan rindunya lebaran di Indonesia, mendengarkan khotbah yang aku tidak tahu apa isinya karena bahasa Arab atau Turki semua. Itu akan menjadi sesuatu yang akan aku rindukan seperti halnya saat ini aku merindukan lebaran di Indonesia.

Menu buka puasa dari masjid
Menu buka puasa dari masjidFoto: Privat

Jadi menurutku, menjalankan bulan puasa di Jerman tidak begitu buruk seperti yang dibayangkan. Ya memang, durasi puasanya lebih lama dan vibes bulan Ramadhannya tidak seramai di Indonesia, tapi banyak kelebihannya juga. Kita menjadi lebih mandiri dengan menyiapkan bukaan sendiri, dan kesempatan mempererat pertemanan saat membuat bukaan bersama.

Awalnya aku juga malas puasa lama-lama, tapi aku berusaha mengambil hikmah dari puasa ini, yaitu kita berusaha menahan lapar berjam-jam hanya untuk makan yang hanya memakan waktu 7 menit. Jadi aku mengambil hikmah bahwa kenikmatan di dunia ini hanya bersifat sementara, dan yang harus kita kejar sebenarnya di atas sana.

*Alfaro Wibisono tinggal di Bremen dan sekarang sedang melakukan studi di Hochschule Bremen jurusan Betriebswirtschaftlehre (BWL)

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan satu foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri. (hp)