Menjadi Pemeran Figuran di Jerman, Kenapa Tidak? | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 06.12.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Blog

Menjadi Pemeran Figuran di Jerman, Kenapa Tidak?

Tergila-gila dengan bacaan dan film Krimi di Jerman, akhirnya dapat kesempatan ikut main di depan layar. Oleh Sharen Song.

"Tatort" adalah semacam tontonan wajib warga Jerman setiap hari Minggu pukul 20.15 malam setelah berita malam Tagesschau. Hal unik yang saya tangkap dari orang Jerman adalah, kecintaannya terhadap cerita Krimi (kriminal)! Hampir setiap kali saya menyalakan TV, isinya adalah film kriminal. Hampir setiap jalan ke toko buku, selalu ada satu rak super besar yang isinya cerita kriminal.

Namun, serial Tatort bisa dibilang adalah film krimi pertama di Jerman dengan lagu dan video pembukanya yang sangat khas. Ketika saya pertama datang ke Jerman, keluarga asuh saya yang kebetulan Jerman-Perancis selalu mengajak saya untuk menonton film Tatort, awalnya saya tidak tertarik karena bahasa teknis, kriminalitas dan terminologi yang digunakan terlalu sulit. Bahkan ceritanya kadang terlalu absurd dan tidak masuk akal. Namun benar kata orang, berikan cinta waktu. Akhirnya saya malah keranjingan menonton film-film Tatort.

Sharen Song hat beim Tatort in Deutschland Mitgewirkt (Sharen Song)

Sharen Song

Satu malam saya pikir, kok di film-film Jerman tidak banyak orang Asia yang jadi pemeran film. Ada beberapa seperti misalnya, Mai Duong Kieu, pemeran serial Netflix Bad Banks, dan Minh Khai Phan Thi yang memulai debutnya di film Sonnenallee, tetapi itu tidak banyak. Mereka berdua juga sebenarnya orang Jerman yang berdarah Vietnam.

Saya pikir, ah saya mau coba, supaya tidak hanya orang kulit putih saja yang selalu jadi aktor dan aktris, dan tidak hanya yang berkebangsaan Jerman saja yang berperan, tapi juga pendatang.

Tiga bulan setelah saya mengirimkan lamaran beserta foto lengkap seluruh badan dan close up, akhirnya saya dihubungi lewat email, bahwa akan dilakukan shooting Tatort Frankfurt ‘‘Die Guten und die Bösen‘‘ pada awal tahun 2019. Saya diminta berperan menjadi seorang kasir di kantor polisi Frankfurt. Pemeran figuran lainnya yang saya temui sudah sering menjadi Komparse (pemeran figuran) di film-film Tatort sebelumnya, dan semuanya orang Jerman!

Waktu shooting bervariasi, ada yang mulai pagi hari, terkadang siang hari dan malam hari sangat larut. Jika peran utama bermain dalam satu adegan yang cukup lama di satu tempat kejadian (Modus), ada kemungkinan shooting bisa berjalan seharian.

Sharen Song hat beim Tatort in Deutschland Mitgewirkt (Sharen Song)

Foto bersama Wolfram Koch, salah satu pemeran utama Tatort Frankfurt

Untuk film Tatort Frankfurt: Die Guten und die Bösen yang akan diputar di kanal TV Das Erste pada Maret 2020, para pemeran wajib hadir pada pukul 07.00 pagi dan selesai pukul 18.00. Namun untuk film Tatort Wiesbaden dengan bintang terkenal Ulrich Tukur yang berjudul "Das Ferienhaus Monsieur Murrot", kami yang hanya memerankan tamu makan malam dari Komisaris Polisi  Walter, tidak makan waktu lama. Tiga jam selesai, sudah termasuk rias wajah dan menyantap makanan dan minuman yang disediakan tim TV Hessische Rundfunk (HR).

HR juga tidak hanya mengunggulkan Tatort ,tetapi juga film tengah minggu yang diputar Rabu malam (Mittwochsfilme) yang juga isinya tidak jauh-jauh dari kriminalitas. Di sini saya sempat berperan menjadi anak muda yang datang ke pesta ulang tahun terlarang berjudul Sugarbabe, di mana pura-puranya kita menari di diskotik dan minum-minum. Tentunya, kita tidak betul-betul minuman alkohol tapi minum air dengan potongan jeruk nipis (Mojito) atau botol bir kosong.

Banyak hal unik yang bisa terjadi di lokasi shooting. Berhubung di Jerman tidak ada pawang hujan atau pawang cuaca lainnya, terkadang shooting terhenti di tengah-tengah karena hujan dan kita harus menunggu. Saat shooting Tatort Wiesbaden, cuaca sedang sedingin 8 derajat! Tetapi kita harus pura-pura kepanasan. Saat hujan dan menunggu, semua orang memakai jaket tebal, dan ketika shooting dimulai, asisten mengambil jaket kita dan kita harus pura-pura kipas-kipas kepanasan.

Götz George (picture-alliance/dpa)

Götz George, salah satu pemeran utama "Tatort" yang paling populer di Jerman

Atau ketika shooting Sugarbabes, cuaca 35 derajat Celcius dan 40 orang harus pura-pura nge-dance di dalam gudang selama 20 menit. Setiap kali jeda, kita entah harus berdiri di depan kipas angin atau minum air es, mengelap wajah dari keringat dan mendempul ulang riasan wajah.

Terkadang ada juga frame yang tidak jadi masuk cerita, contohnya ketika dalam satu shooting saya harus lari tengah malam pukul 23.00 bersama seekor anjing di sepanjang pelabuhan. Sudah siap-siap pinjam anjing tetangga untuk shooting, eh tidak jadi.

Menjadi figuran di HR atau film-film dari stasiun TV publik lain, biasanya dibayar 45 euro per satu kali shooting, dan kalau lebih dari 8 jam ada uang tambahan sekitar 20 euro. Beberapa produsen film lainnya menawarkan gaji sesuai taris minimum, 9,19 euro per jam, dengan pembayaran melalui badan finansial tersendiri dan lewat transfer rekening bank. Untuk mahasiswa, kesulitannya adalah saat kalian harus membuat deklarasi pajak (Steuererklärung) dari penghasilan yang diterima.

Tatort Szene Taxi nach Leipzig (picture-alliance/dpa/NDR/Meyerbroeker)

Adegan dari film Tatort "Taxi nach Leipzig" (Taksi ke Leipzig)

Bagi saya, ikut shooting bukan untuk jadi tenar, tapi lebih mengenalkan Indonesia ke orang-orang Jerman sesama pemeran, dan menjadi diaspora di film-film buatan sutradara Jerman. Ketika saya mengiyakan tawaran shooting, saya berusaha untuk selalu datang tepat waktu. Di situ saya selalu dapat tawaran-tawaran berikutnya dan dipercaya oleh bagian casting HR kalau orang Indonesia itu niat, giat dan bisa diandalkan.

Para pemburu pemeran figuran selalu mencari siapa saja dengan karakter apa saja yang ditargetkan sutradara, dari tukang masak bertato dan berambut merah muda sampai kasir kantor polisi yang berdarah Asia.

Satu lagi, film-film di Jerman menuntut kita bisa berakting dan bukan hanya diukur dari kita cantik atau tidak, tinggi dan langsing atau tidak. Riasan wajah juga tidak seperti sinetron di Indonesia, jadi jangan khawatir. Hal paling penting lainnya adalah lancar berbahasa Jerman dan tidak malu-malu kucing.

*Sharen Song adalah mahasiswa Master's jurusan Southeast Asian Studies Goethe Universität.

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di luar negeri. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri.