1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Pernikahan di masa pandemi
Pernikahan di masa pandemiFoto: Privat
Sosial

Menikah dengan Lelaki Jerman Saat Pandemi

Agustina Iskandar Crombach
14 Agustus 2021

Dalam budayanya, pernikahan biasanya dilakukan setelah saling mengenal lebih jauh, misal tinggal bersama dulu serumah selama bertahun-tahun. Oleh: Agustina Iskandar Crombach.

https://www.dw.com/id/menikah-dengan-lelaki-jerman-saat-pandemi/a-58855963

Lelaki Jerman setia pada kata-katanya. Jika ia bilang akan menikahimu, maka ia akan melakukannya. Meski harus mengendarai badai Corona sekalipun, ia akan memperjuangkannya. Setidaknya inilah yang terjadi dalam kisah cinta kami.

Agustina Iskandar Crombach
Agustina Iskandar CrombachFoto: Privat

Aku diberitahu oleh banyak orang, bahwa perlu berhati-hati menjalin hubungan dengan orang bule. Ada yang bilang, bahwa mereka hanya mau seksnya saja, namun tidak berencana serius dalam membina hubungan atau membangun keluarga. Bahkan salah satu temanku mengingatkan, apalagi menjalin dengan Bule Jerman.

"Kamu hati-hati lo, terutama orang Jerman itu. Saat mereka putusin atau ninggalin, mereka itu gampang banget lo. Bisa slow aja sikapnya saat mencampakkan kita dan kemudian kita dilupakan begitu saja” demikian kira-kira kalimat pengingatnya waktu itu.

Pada saat aku menyampaikan kekhawatiranku ini pada pasanganku yang orang Jerman, dia bilang "Itu benar lo yang dibilang temanmu”. Aku jadi tambah khawatir, kenapa dia bilang benar ya, pikirku.

"Bukan berarti tidak ada yang mau serius. Ada banyak hubungan yang sukses dan membina keluarga yang sehat, bersama sampai tua” lanjutnya.

Sedikit lega mendengar jawaban itu. Namun, aku masih punya ragu dalam hatiku. Sebab aku percaya, kalau hubungan masih sepasang kekasih, belum diikat dengan pernikahan, maka hubungannya belum kuat benar. Mulailah aku mendiskusikan pernikahan dengannya. Padahal, kami baru jadian 3 bulan waktu itu.

Acara pernikahan di rumah | Agustina Iskandar Crombach
Acara pernikahan di rumahFoto: Privat

Jadi teman dekat

Meski sebelumnya kami adalah teman yang memiliki hubungan baik selama 3 tahun, lalu jadian 3 bulan, dan aku sudah ancang-ancang ingin menikah. Tentu saja berita ini mengejutkan untuknya. Satu hal yang aku kagumi darinya adalah, meski itu hal yang tak biasa bagi orang bule terutama dalam budaya keluarganya, ia tak keberatan untuk selalu mendiskusikannya.

Dalam budayanya, pernikahan biasanya dilakukan setelah saling mengenal lebih jauh, misal tinggal bersama dulu se-rumah selama bertahun-tahun seperti yang dilakukan orang tuanya dan kemudian menikah. Tidak hanya dia, seluruh keluarganya terkejut dengan permintaanku ini. Terlebih lagi, ini adalah masa pandemi. Bagaimana melakukannya saat Jerman menutup border untuk Indonesia. Begitu pun sebaliknya, Indonesia juga tidak membuka akses untuk orang asing. Maka, permintaanku ini terkesan berlebihan saat itu.

Dapat kuingat dengan baik perjalanan hubungan kami. Bertemu di Pantai Sanur, Bali, untuk pertama kalinya. Di sebuah malam saat aku sedang membuat janji berkumpul dengan teman-temanku yang tinggal di Bali. Temanku mengajaknya ikut serta, saat itulah kami berkenalan dan kemudian berteman dekat.

Tahun-tahun berlalu, pacar kami pun berganti-ganti. Satu hal yang tidak berubah, kebiasaan kami memberi kabar dan menelpon satu sama lain. Aku bisa menangis ber jam-jam saat menelponnya ketika putus dari pacarku. Ia selalu disana, hadir dan mendengarkan berbagai cerita penuh emosi dan drama kehidupanku.

Foto bersama imam dan para saksi | Agustina Iskandar Crombach
Foto bersama imam dan para saksiFoto: Privat

Ketika cinta bertumbuh

Suatu Ketika ia menghubungiku. Ia bilang ingin betemu. Setelah 3 tahun menjadi teman virtual, ia bilang akan datang mengunjungiku.

"Kamu di Bali nggak? Aku mau ketemu?” tanyanya via telpon.

"Tidak, aku di Tallinn, Estonia. Akan tinggal disini beberapa bulan,” jawabku.

Diskusi itu kemudian membawanya terbang ke Estonia untuk pertama kalinya dalam hidupnya, hanya untuk bertemu denganku. Kami tinggal bersama di apartemenku. Pada saat itu, aku sedang memiliki kencan dengan seorang lelaki Estonia, dia selalu menjadi teman yang baik yang mendukungku.

Setelah beberapa waktu, cinta di antara kami bertumbuh dan kemudian menjadi serius. Sampai akhirnya kuakhiri hubunganku yang lain dan kulayangkan hatiku sepenuhnnya padanya. Lukas Crombach, lelaki Jerman yang kemudian kupilih menjadi pacarku dan suamiku di kemudian hari. Aku kembali ke Indonesia setelah itu, dan ia kembali ke Jerman.

Hubungan kami berlanjut di antara tawa dan air mata karena terjebak di antara Corona. Namun, Ia memutuskan melamarku kepada ibuku. Meski hanya melalui telepon, bapaknya juga hadir di sana. Aku membantu menerjemahkannya kepada ibuku setiap kata yang diucapkannya. Tidak ada jalan untuk kami bertemu secara fisik, segala proses pertunangan dilakukan secara virtual, bahkan dihadiri oleh mentorku dan teman-temanku dengan total 17 orang.

Status pacar telah berubah menjadi tunangan. Aku masih mau memperjuangkan level hubungan yang lebih tinggi. Ia juga setuju, bahwa rindu hampir membunuh kami berdua. Sudah berbulan-bulan kami terpisah semenjak pertemuan terakhir kami di Estonia.

Dengan teman-teman | Agustina Iskandar Crombach
Agustina Iskandar bersama dengan teman-temanFoto: Privat

Perjuangan di tengah pandemi

Tujuh bulan perpisahan, kami akhiri dengan sebuah keputusan untuk terbang ke Turki dan bertemu di sana. Ia akhirnya keluar dari kerjanya dan memperjuangkan cinta bersamaku di Turki. Pekerjaanku yang online memudahkanku melakukan itu. Namun, ini cinta yang mahal yang pernah kuperjuangkan dalam hidupku. Banyak uang tabungan dihabiskan demi pernikahan kami di Turki dan kemudian hidup Bersama dengan berpindah-pindah. Demikian dengannya, dia juga telah berkorban banyak tentunya.

Ia mengucap syahadat di hadapan imam, dan kemudian melantunkan akad pernikahan kami dengan khidmat di hadapan hampir 100 orang yang hadir menonton kami secara online melalui zoom. Kami menumpang di rumah teman kami di Turki yang mengatur segala proses pernikahan kami bahkan menyiapkan makanan untuk tamu yang hadir di lokasi. Teman kami, Mas Rocky dan istrinya yang berhati malaikat, kami bersyukur memilikinya.

Setelah satu bulan di Turki, kami masih terlunta-lunta di luar negeri karena Indonesia masih belum membuka akses masuk untuk warga asing terutama yang tidak memiliki Kitas. Akhirnya, kami terbang ke Maroko dan tinggal di sana selama 3 bulan sambil menunggu visanya diapprove untuk bisa masuk ke Indonesia.

Kini, pernikahan kami hampir berusia satu tahun. Komitmen suamiku telah menepis keraguanku tentang hati seorang bule terutama Jerman. Ia menepati janji dan memperjuangkan cinta kami bahkan terbang separuh benua demi Bersama.

Menikahinya sebagai seorang lelaki Jerman, telah memberikanku banyak pelajaran. Jangan mempercayai mitos atau katanya orang sebelum mengalami dan membuktikannya. Memang benar sebelumnya hubunganku dengan bule lainnya tidak berhasil, bukan berarti sama pada setiap perjuangan berikutnya.

Pentingnya berdiskusi secara terbuka, karena shock culture dapat menimpa siapa saja. Seperti keluargaku yang tak dapat memahami keluarganya yang tidak memiliki agama, ditambah pernikahan akan dilakukan setelah tinggal bersama dan mengenal begitu dekat. Sementara di Indonesia, terkadang pernikahan seperti membeli Kucing dalam karung. Belum pernah bertemu, melihat dan sebagainya namun dinikahkan atau memilih menikah dengan orang yang tidak dikenal. Ini hal yang lazim terjadi bahkan untuk keluarga besarku.

Komitmen tidak untuk dimainkan. Lelaki Jerman yang kupilih menepati komitmennya dan berjuang untuk tetap bisa menikah meski pandemi menghalangi jalan yang kami tempuh. Ia membuktikan kesetiaan pada komitmennya.

*Agustina Iskandar Crombach, perempuan Indonesia yang menikah dengan lelaki Jerman yang bekerja di Social Enterprise Estonia dan aktif di komunitas kerelawanan dengan memimpin jutaan relawan untuk bersih-bersih sampah di Indonesia setiap tahunnya dalam gerakan World Cleanup Day Indonesia.

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan satu foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri. (hp)