Mengubah Karbondioksida Menjadi Batu di Islandia | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 08.08.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Pemanasan Global

Mengubah Karbondioksida Menjadi Batu di Islandia

Negara itu sudah melihat jelas dampak perubahan iklim di wilayahnya. Teknologi canggih sekarang digunakan untuk olah CO2. Ini juga bisa berguna di negara lain.

Mungkin tidak ada tempat yang lebih baik, untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim, selain Islandia. Karena energi ada di sini dalam volume berlimpah. Di mana-mana di Islandia, bumi ibaratnya dalam pergerakan. "Kawasan yang aktif secara vulkanik,“ demikian istilah yang diberikan para ilmuwan. 

Namun demikian, warga Islandia juga sudah menyadari, sumber air panas bisa digunakan lebih jauh lagi, daripada sekadar atraksi wisata. Misalnya kawasan Hellisheidi yang terletak hanya setengah jam perjalanan ke arah timur, dari ibukota Reykjavik. 

Sejak 2006, di sini diproduksi listrik dan panas. Sekarang Hellishedi adalah salah satu instalasi penghasil energi panas bumi terbesar di dunia. Tapi sejak beberapa waktu lalu, ilmuwan, pengusaha dan reporter datang ke sini karena alasan lain. Mereka ingin bertemu Edda Aradottir, direktur perusahaan Carbfix. 

Tonton video 04:18

Cara Unik Islandia Reduksi Emisi CO2

Menyimpan CO2 di bebatuan

Apa yang dilakukan Carbfix dalam skala kecil di sini, bukan hanya semacam pembalikan efek rumah kaca. "Yang kami lakukan di sini sangat mudah. Kami menyedot udara dari atmosfir ke dalam mesin ini. Di dalamnya, CO2 dicampur dengan bahan kimia. Udara yang kemudian keluar setelahnya, jadi jauh lebih bersih. Udara itu kandungan CO2-nya jauh lebih kecil dibanding udara yang disedot di bagian depan.“ Demikian dijelaskan Edda Aradottir.

Mereka mulai mengoperasikan penyedot CO2 ini delapan tahun lalu, juga dengan dukungan dana penelitian Uni Eropa. Sekarang kapasitasnya sudah mencapai ribuan ton CO2. 

Apa yang terjadi dengan karbondioksida itu, dijelaskan Edda Aradottir di dalam sebuah rumah tempat instalasi pompa. Di sini bisa dilihat sebuah pipa yang masuk ke dalam tanah. “Pipa ini menyalurkan CO2 yang kami hisap dari atmosfir, dan dicampur dengan air, ke dalam tanah di bawah kita, hingga kedalaman ratusan meter.“ 

Di sana, CO2 bereaksi dengan batuan beku basalt dan tersimpan permanen. Ini metode yang berfungsi baik di dalam batuan vulkanik. "Bisa dilihat di sepotong batuan beku basalt, semua CO2 yang memenuhi ruang-ruang kosong, juga di pori-porinya. Jadi semua pori-pori yang tampak terbuka, masih bisa diisi CO2, tergantung sebanyak apa yang dimasukkan.“

Bisa jadi kontribsi besar bagi dunia

Sekarang teknologi ini masih sangat mahal. Perlu air dalam jumlah besar, dan perlu karakter tanah tertentu. Tapi para pendiri Carbfix yakin, dalam 30 tahun, teknologi ini akan jadi kontribusi besar, untuk mengurangi emisi CO2 di seluruh dunia. 

Saat ini hanya beberapa negara di dunia yang bisa merasakan perubahan iklim sejelas Islandia. Kawasan gletser raksasa di sana semakin mengecil. Para ilmuwan yakin, dalam 150 tahun ke depan, formasi es yang umurnya sudah ribuan tahun itu akan hilang.

Juga karena itu, pemerintah Islandia bersama menteri lingkungan hidupnya membalikkan haluan. Negara di samudra Atlantik itu, ingin bestatus karbon netral hingga 2040 nanti. Dalam hal ini, teknologi baru, dan kepercayaan masyarakat lokal akan kekuatan alam akan membantu. 

Kepercayaan lokal jadi penyokong kuat

"Kami di Islandia punya sebuah saga. Katanya, mahluk jahat yang disebut Trol bisa berubah menjadi batu jika terkena cahaya matahari. Itulah yang kami coba di sini,“ ungkap Menteri Lingkungan Hidup Islandia, Guðmundur Ingi Guðbrandsson. “Mengubah CO2 menjadi batu, seperti dalam saga Trol dan matahari.“

Tapi itu saja tidak cukup. 95% kawasan hutan Islandia musnah, sejak pulau itu mulai kedatangan pemukim. Lewat program dengan dana jutaan Euro, sebagian besar pulau akan kembali ditanami pohon. Itu juga diharapkan memperbaiki neraca iklim.

Warga Islandia sadar, mereka tidak bisa menyelamatkan dunia sendirian. Tapi mereka mengembangkan teknologi, yang di masa depan, juga bisa digunakan negara-negara lain. Apakah kepercayaan pada peri dan Trol benar-benar bisa membantu? Mengapa tidak? (ml)