Mengenang Jatuhnya Bom Atom di Nagasaki | Fokus | DW | 09.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Mengenang Jatuhnya Bom Atom di Nagasaki

Sekitar 5000 orang berkumpul di Nagasaki untuk mengenang serangan bom atom yang kedua dan sampai sekarang yang terakhir. Disitulah titik berat acara tersebut, dengan menekankan “semoga itu yang terakhir“.

Tercatat lebih 140 ribu orang korban, yang tewas akibat ledakan, gelombang panas atau dalam beberapa tahun kemudian tewas akibat radiasi. Walikota Nagasaki Iccho Itoh menekankan, korban-korban itu mengingatkan kita untuk berbuat sesuatu.

Itoh: "Pada jam 11 lewat 2 menit tanggal 9 Agustus 1945, sebuah atom bom menghancurkan kota kita, dengan satu serangan melenyapkan 75 ribu manusia, dan hampir sebanyak itu mengalami penderitaan berat hingga akhir hayatnya. Bagaimana kita bisa melupakan jeritan sakit yang merenggut mereka dengan kejam dari mimpi dan kehidupan mereka? Dan kini lebih dari 30 ribu senjata nuklir siap menghancurkan umat manusia."

Kikuyo Nakamura, salah satu korban yang selamat menuturkan pengalamannya. Ia terdiam beberapa kali, demi menahan air mata yang mendesak keluar saat gambaran buruk itu muncul dalam ingatannya. Tapi Nakamura juga tak melupakan situasi sekarang.

Nakamura: "Walaupun tidak bisa melupakan apa yang terjadi 61 tahun silam, saya pernah menghindar untuk membicarakan tema itu dan mencoba menghilangkan ingatan tentang itu. Namun rasa sakitnya bertambah kuat dan saya tersadar, bahwa saya harus menggunakan sisa waktu saya di muka bumi ini untuk menerangkan pada manusia betapa sia-sianya perang dan tragedi serta keburukan macam apa yang dihasilkan perang. Jika saya melihat generasi yang lebih muda, yang tak pernah sekalipun mengalami perang, bagaimana mereka kini menginginkan negara Jepang yang kuat, maka saya melihat kesejajaran pertama dengan masa sebelum PD II, dan saya tidak bisa tinggal diam."

Keinginan akan Jepang yang lebih kuat itu diserukan oleh kelompok-kelompok radikal kanan di negara itu. Namun jumlahnya sangat kecil dan upaya untuk melawannya lebih besar. Di Nagasaki misalnya, orang berusaha agar pendidikan tentang perdamaian dilipatgandakan. Bukan hanya untuk berdukacita bagi para korban, tapi terutama menunjukkan pada umat manusia tragedi apa yang diakibatkan bom atom dan bahwa Jepang dengan sikap sebelum dan pada saat PD II, bukan pihak yang tidak bersalah. Pemikiran ini tidak terwakili dengan jelas di seluruh wilayah Jepang. Karena itu, PM Yunichiro Koizumi juga tidak secara kebetulan melontarkan janji pada upacara peringatan di Nagasaki.

Kozumi: "Di hadapan korban yang selamat dan penduduk Nagasaki, saya berjanji, Jepang akan berpegang erat pada pasal perdamaian dalam UUD kita. Dan kita juga tetap menjalankan 3 prinsip anti nuklir kita. Jepang akan terus memperjuangkan penghapusan senjata nuklir dan perwujudan perdamaian abadi."

Tiga prinsip anti nuklir itu adalah, Jepang tidak memproduksi senjata atom, tidak terlibat jual beli senjata atom dan tidak boleh ada senjata atom di wilayah Jepang. Pemikiran ini paling tidak berlaku bagi Yunichiro Koizumi. Namun, sang PM Jepang itu akan turun secara sukarela dari jabatannya pada 20 September mendatang. Apakah penggantinya akan berpikiran sama? Mungkin baru diketahui tahun depan, pada acara peringatan berikutnya di Nagasaki.