Mengenang Hidup dari Jerman Timur sampai Jerman Bersatu | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 02.10.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Reunifikasi Jerman

Mengenang Hidup dari Jerman Timur sampai Jerman Bersatu

Fauzan Azima sudah tinggal di Berlin selama 46 tahun. Ia dulu bekerja sebagai staf KBRI di Jerman Timur dan mengalami langsung ketika negara itu lenyap saat bersatu dengan Jerman Barat pada 3 Oktober 1990.

Fauzan Azima von früherer Indonesische Botschaft DDR Ostberlin (Private Sammlung)

Fauzan Azima, mantan staf lokal KBRI Berlin

Tidak jauh dari bekas perbatasan Jerman Timur dan Jerman Barat yang terkenal dengan nama Checkpoint Charlie, Fauzan Azima tinggal dengan istrinya di sebuah gedung apartemen yang masuk kawasan yang dulunya termasuk Berlin Timur. Dari apartemennya bisa dilihat Fernsehturm di Alexanderplatz, yang merupakan salah satu ikon Jerman Timur. 

Lelaki asal Bandung berusia 67 tahun ini masih punya ingatan jelas terhadap hidupnya di Jerman Timur dulu, yang bernama resmi Republik Demokratik Jerman (DDR). Memenuhi ajakan pamannya, yang dikirim sebagai salah satu diplomat Indonesia untuk membangun KBRI di Jerman Timur, Fauzan Azima dulu memutuskan ikut ke Berlin Timur pada tahun 1973. Ia bercerita, bahwa sebelumnya ia tidak tahu, bahwa ternyata ada dua Jerman. 

“Kok Jerman begini?,” pikirnya ketika pertama kali melihat Berlin Timur setelah mendarat di Bandara Schönefeld bersama paman, tante dan lima sepupunya. “Suasananya kelabu, cat-cat rumahnya tidak menggairahkan. Saya seperti menyesal ikut,” aku Fauzan.

Namun sekitar tiga minggu setelah kedatangan, Fauzan juga akhirnya mendapatkan kartu tanda pengenal dari Kementerian Luar Negeri Jerman Timur dan bisa naik kereta ke Berlin Barat. “Kami naik kereta dari Friedrichstraße Ke Zoologischer Garten. Nah, itu kan terang benderang dan ada pusat belanja Europa Center. Lalu saya baru pikir, oh ini yang namanya Jerman. Kalau begitu saya betah,” kenang lelaki ini.

 

Masa awal di Jerman Timur

Selama dua tahun pertama, Fauzan Azima setiap harinya mengantri di perbatasan untuk pergi ke Berlin Barat. Disana ia pergi ke kursus Bahasa Jerman dan menimba pengalaman bekerja di berbagai restoran. Di Berlin Barat ia juga bisa belanja bahan makanan Asia. Dulu orang Indonesia tidak perlu visa untuk masuk Jerman Barat. Malamnya ia kembali pulang ke rumah di Jerman Timur.

“Jadi dulu istilahnya saya seperti tinggal di kampung, tapi di seberang ada pasar malam (Berlin Barat),” ujarnya. Ia juga menikmati biaya hidup di Jerman Timur yang waktu itu jauh lebih rendah daripada di Jerman Barat.

Ketika KBRI sudah stabil berdiri di Berlin Timur pada tahun 1975, Fauzan mulai bekerja menjadi staf lokal disana, berawal dari bagian administrasi dan nantinya berganti ke bidang politik dan ekonomi. Saat itu KBRI di Jerman Timur bertujuan untuk meningkatkan hubungan perdagangan antara Jerman Timur dan Indonesia. Kantor dijalankan oleh delapan diplomat dan 15 staf lokal. Di masa itu ada sekitar 100 orang Indonesia yang tinggal di Jerman Timur, termasuk para eks-mahid yang tidak bisa kembali ke Indonesia.

BG DDR Ostberlin Indonesische Botschaft (Private Sammlung)

Fauzan Azima (di tengah dengan jas putih) merayakan tahun baru di KBRI Berlin Timur tahun 1976

Negara yang aman dengan pengawasan ketat

“Jerman Timur, walaupun dikatakan negara komunis tapi bagi saya tidak ada masalah,” kata Fauzan Azima. “Disana kami merasa aman, jarang ada kejahatan, orang masuk kesini kan takut dulu karena diawasi ketat. Kita tidak tahu bahwa kita diawasi tapi kita diawasi. Kedutaan kita juga diawasi, di depan kedutaan ada pos polisi yang menjaga siang malam. Kesannya mereka menjaga kami, tapi sebenarnya mengawasi.”

Walaupun dirasakan mudah untuk berkontak dengan anak-anak muda Jerman Timur, banyak warga yang sudah agak tua menjaga jarak dalam berhubungan dengan orang asing. Bukan lantaran masalah rasisme, menurut Fauzan ini adalah karena warga secara umum memang saling mencurigai dan mengawasi, seberapa dekat hubungan seseorang dengan orang asing.

Ia menyaksikan langsung, bagaimana kedekatan dengan orang asing bisa berbahaya bagi warga Jerman Timur. Ketika bekerja di bagian politik KBRI, Fauzan kerap menemani atasannya yang berteman dekat dengan seorang pejabat Jerman Timur dari kementerian luar negeri. Setelah beberapa lama pejabat ini menghilang dan mereka diberitahu, bahwa ia ditugaskan di luar negeri. 

Bertahun-tahun setelahnya, pejabat yang menghilang ini akhirnya menghubungi KBRI dan menceritakan, bahwa ia selama ini mendekam di penjara dengan hukuman seumur hidup akibat kedekatannya dengan sang diplomat Indonesia. “Rumah-rumah diplomat selalu disadap. Di dimana-mana di dinding ditempel alat perekam,” kata Fauzan. Pejabat ini bisa bebas dari penjara karena runtuhnya Jerman Timur.

Menyaksikan Proses Reunifikasi Jerman

Pada tahun 1989 situasi di Jerman Timur semakin meruncing. Rakyat yang merasa tertindas menginginkan lebih banyak keterbukaan dan reformasi. Pada tanggal 9 November 1989, hari dimana Tembok Berlin ''tidak sengaja'' dibuka oleh anggota Politbiro Jerman Timur, Fauzan Azima menyaksikan, bagaimana warga Berlin Timur berbondong-bondong pergi ke Berlin Barat.

“Setelah menonton berita di televisi, saya dan istri pergi ke Checkpoint Charlie dan terharu sekali melihat mereka. Mereka seperti air mengalir. Ibaratnya seperti keluar kandang,” kata Fauzan. “Mereka pergi melihat-lihat ke Kudamm, banyak yang bepelukan dan menangis.”

Sejak kejadian itu serangkaian proses bersatunya kembali Jerman Barat dan Jerman Timur satu per satu berjalan. Setelah Demonstrasi Senin rutin berlangsung di Leipzig, para diplomat dan staff KBRI di Berlin Timur menjadi mulai bertanya-tanya tentang masa depan mereka.  “Memang kami sebelum Jerman bersatu agak bingung, kita mau kemana ya? Kan KBRI sudah nggak ada nanti,” cerita Fauzan, yang pada saat itu juga sudah berkeluarga dengan tiga orang putri.

Pada tanggal 3 Oktober 1990 kedua Jerman resmi bersatu. Secara bersamaan, Sekutu juga meninggalkan Berlin dan negara DDR menghilang. Di hari yang sama Duta Besar RI untuk Jerman Timur pada saat itu, Ngurah Gedhe, menyerahkan akreditasi kepada Duta Besar RI untuk Jerman Barat Hasyim Djalal. Wajah perwakilan Indonesia di Jerman juga harus dibentuk kembali mulai saat ini. Fauzan berkata, “situasinya bagi kami semakin membingungkan.”

BG DDR Ostberlin Indonesische Botschaft (Private Sammlung)

Merayakan dirgahayu kemerdekaan RI ke-31 di Jerman Timur

Transisi bagi KBRI Indonesia di Jerman

Sejumlah diplomat yang masa tugasnya sudah akan berakhir ketika itu langsung dipulangkan ke Indonesia, sedangkan beberapa diplomat masih ditugaskan di Jerman. Tidak lama setelah reunifikasi, diputuskan bahwa bekas KBRI Jerman Timur akan disatukan dengan Konsulat RI Berlin Barat yang juga habis masa tugasnya. Kedua instansi dijadikan sebuah Kantor Cabang dari KBRI Bonn. Tetapi ini belum keputusan akhir.

“Mulai bulan Januari 1991, staf lokal di Berlin Timur selama enam bulan tidak menerima gaji lagi,” cerita Fauzan Azima. “Setiap hari kami datang ke kantor untuk membersihkan dan memperbaiki gedung KBRI sambil menunggu keputusan lebih lanjut.”

Ketika pada bulan Juni 1991 Presiden Seharto mengunjungi Berlin, Fauzan ditugaskan untuk mendampingi Ali Alatas, yang menjabat menteri luar negeri saat itu. “Saat itu saya menyampaikan tentang kondisi mantan staf lokal KBRI Jerman Timur,” cerita Fauzan lebih lanjut.  Sebulan kemudian datang keputusan dari Jakarta, bahwa Kantor Cabang KBRI di Berlin diresmikan menjadi Konsulat Jenderal RI dan mantan staf lokal KBRI Jerman Timur resmi menjadi staf KJRI ini.

Ketika ibu kota Jerman resmi pindah ke Berlin dari Bonn pada tahun 1999, KBRI akhirnya kembali ke Berlin dan Konsulat Jendral dipindahkan ke Frankfurt. Fauzan Azima bekerja di KBRI Berlin sampai penisun pada tahun 2012.

Menyesuaikan hidup di Jerman bersatu

Walaupun ia di satu sisi senang dengan Jerman yang bersatu kembali, tidak hanya pada pekerjaan di KBRI, reunifikasi Jerman membawa tantangan yang berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari Fauzan Azima.

“Yang paling terasa itu sewa rumah. Di zaman sosialis, sewa rumah murah sekali, bisa 1/17 gaji saya, sekarang sewa rumah bisa 25 persen dari gaji,” ungkapnya “Kita mau belanja harus menyesuaikan dulu, apa-apa mahal. Gaji memang di Jerman bersatu memang menjadi lebih besar, tetapi biaya hidup juga mahal,” lanjutnya

“Dulu juga orang-orang Jerman Timur baik-baik kepada kami orang Indonesia. Tapi habis Jerman bersatu kami dicuekin” kenangnya juga. “Mereka bisa ke Berlin Barat sendiri, untuk membeli kopi atau majalah, yang dulunya mereka minta kami bawakan,” ujar Fauzan sambil tertawa. 

Namun begitu ia tetap menikmati hidup di ibu kota Jerman dan sampai tahun ini Fauzan Azima sudah tinggal di Berlin selama 46 tahun.

Laporan Pilihan