Mengenang 50 tahun Lomba Menguasai Bulan | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 16.07.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

APOLLO

Mengenang 50 tahun Lomba Menguasai Bulan

Sejarah perlombaan untuk kuasai ruang angkasa dimulai tahun 1950-an. Saat itu dua negara adidaya global, Amerika Serikat dan Uni Soviet bersaing ketat. Kulminasinya adalah pendaratan pertama di bulan tahun 1969.

"Barang siapa menguasai antariksa, negara itu juga bisa menguasai militer seluruh dunia". Demikian doktrin militer di era tersebut.  Pasalnya saat itu roket ruang angkasa nyaris tidak ada bedanya dengan peluru kendali balistik antar benua.

Uni Soviet pada tahun 50-an hingga awal tahun 60-an jauh lebih unggul dibanding Amerika Serikat dalam program penaklukan antariksa ini. Tahun 1957 Moskow sudah meluncurkan satelit pertama "Sputnik" yang mengorbit Bumi, dan jadi propaganda negara komunis itu sebagai penguasa antariksa.

Sukses Sputnik mengejutkan dunia. Walau sejatinya Sputnik tidak lebih dari bola logam yang dipasangi pemancar dan penerima radio, misi ini menciptakan tekanan berat bagi pemerintah Amerika Serikat.

Uni Soviet mengungguli AS

"Washington menghadapi ancaman baru dari ruang angkasa, dan harus melakukan tindakan untuk mengatasinya", demikian kecemasan yang dilontarkan di pemerintah AS. Zaman baru ruang angkasa sudah dimulai dengan Sputnik, dan Amerika ketinggalan oleh Uni Soviet", kata presiden AS ketika itu, Dwight D Eisenhower .

Eisenhowrer mengakui. "Kami kini menghadapi tantangan terbesar, yang dilontarkan oleh peradaban modern. Amerika akan segera mengembangkan pesawat ruang angkasa yang mengumpulkan data darai antariksa dan meneliti sistem tata surya", ujar presiden AS itu.

Walentina Tereschkowa (picture-alliance/RIA Nowosti)

Uni Sovyet lebih unggula dari AS. Kosmonot pertama (dari kiri.) Valeri Bykowski, Valentina Tereshkowa und Yuri Gagarin.

Namun Uni Soviet menggebrak dengan kejutan berikutnya. Yakni dengan misi teranyarnya, misi berawak ke luar angkasa,  Kosmonot Uni Soviet, Yuri Gagarin pada tahun1961 jadi orang pertama yang mengelingi ruang angkasa di orbit bumi. Sementara Washington baru saja melangkah dengan melakukan ujicoba  mengirim simpanse ke ruang angkasa.

Misi ambisius ke bulan

Lomba penguasaan ruang angkasa kini mengerucut jadi misi ambisius misi berawak. Lebih tajam lagi: mendaratkan manusia di bulan. Amerika Serikat dengan presiden Kennedy menabuh genderang perang untuk mengalahkan keunggulan Uni Soviet. Misi ke bulan jadi semboyan nasional AS dan investasi besar dikucurkan untuk progam NASA.

Pakar roket Jerman yang sebelumnya bekerja untuk Hitler dan kemudian membelot ke AS, Wernher von Braun jadi tokoh kunci bagi sukses misi ruang angkasa  Washington. Dengan cepat NASA meraih kemajuan. Dengan program yang dipacu, keunggulan Uni Soviet  mulai bisa disusul.

Puncak sukses Amerika Serikat adalah pendaratan manusia pertama di bulan pada tanggal 20 Juli 1969. Astronot Neil Armstrong dan Buzz Aldrin mendarat dengan kapsul  "Eagle" di permukaan bulan, sementara Michael Collins terus mengorbit dengan Apollo-nya.

Peristiwa ini jadi bombastis, karena media massa mengekspos pendaratan di bulan secara live. Lebih 2000 jurnalis terakreditasi di stasiun peluncuran Cape Canaveral. Jutaan orang di seluruh dunia menyaksikan dengan tegang, saat Neil Armstron menginjakkan kakinya di permukaan bulan. Kata pertamanya juga legendaris: "That one small step for man, one giant lepa for mankind".

Fabian Schmidt (as/ap)

 

Laporan Pilihan