1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Mengapa Pasukan Khusus Selalu Aktual?

15 November 2018

Ketika negara dalam kondisi damai, keberadaan pasukan khusus tetap diperlukan. Mengapa demikian? Simak opini Aris Santoso.

https://p.dw.com/p/389r3
Indonesien Teil des Flugschreibers von abgestürzter Lion Air Maschine geborgen
Foto: Reuters/Antara Foto/M. Adimaja

Contoh yang terkini adalah seperti yang dilakukan Sertu Hendra Syahputra (anggota Yontaifib Korps Marinir) baru-baru, yang berhasil mengangkat  "kotak hitam” dari dasar laut.

Kotak hitam itu adalah kepingan penting pesawat Lion Air yang jatuh baru-baru ini, di pantai utara Kabupaten Karawang.

Di hadapan jurnalis, Sertu Hendra secara jelas mengatakan, bahwa misi pengambilan kotak hitam tersebut merupakan bagian dari OMSP (operasi militer selain perang)  TNI, sesuai amanat UU N0.34 tentang TNI (2004).

Penulis:  Aris Santoso
Penulis: Aris Santoso Foto: privat

Dari segi kompetensi, tentu hanya bagi anggota TNI yang sudah dilatih khusus untuk tugas atau misi seperti itu.

Ketika dalam situasi perang, kemampuan anggota Yontaifib seperti Sertu Hendra tersebut, mungkin untuk infiltrasi ke garis belakang pertahanan lawan, atau meloloskan diri bila tertangkap musuh. Namun dalam kondisi damai, kemampuan itu tetap bisa dimanfaat bagi tugas-tugas kemanusiaan.

Pasukan lain yang memiliki kompetensi seperti itu adalah Korps Brimob, dalam hal ini kemampuan Jihandak (penjinakan bahan peledak). Seperti halnya Yontaifib dalam Korps Marinir, Brimob juga memiliki satuan khusus untuk penjinakan bom, kemampuan yang sangat signifikan terkait rasa aman masyarakat.

Pasukan terlatih

Salah satu yang khas dari pasukan-pasukan di tanah air  adalah soal sikap rendah hatinya. Tidak ada yang merasa pasukannya sebagai pasukan hebat. Tagline yang biasa kita dengar adalah: kami bukan satuan hebat, namun terlatih. Prinsip ini juga yang menjadi pegangan anggota Marinir dan Brimob.

Pada awal dekade 1990-an, Dankormar (Komandan Korps Marinir) saat itu Mayjen (Mar) Baroto Sardadi, sempat mengatakan, Marinir bukan pasukan khusus, yang pasukan khusus hanyalah Kopassus (Kompas, 11/11/1992). Tentu ini adalah bentuk dari kerendahhatian seorang Komandan Marinir, mengingat tugas pasukan marinir tak kalah beratnya, dan dari segi nama, juga melegenda.

Tugas pokok Marinir bisa dilihat dari penggalan mars Marinir Fajar Telah Memerah, yang bait pertamanya berbunyi "Korps Marinir perintis jalan…..”. Syair lagu ini sudah menggambarkan apa tugas pokok Marinir, yaitu membuka jalan dengan merebut dan menguasai pantai, sehingga memudahkan akses bagi pasukan penyerbu berikutnya. Karena tugasnya yang penuh risiko inilah, Korps Marinir masuk kategori pasukan elite.

Sebagai pasukan elite, terkadang dalam sebuah operasi ada juga anggotanya yang bernasib malang. Kegagalan mereka tentu saja bukan karena kurang terlatih, namun semata-mata karena nasib, dimana kita sebagai manusia tidak kuasa menolaknya. Pada pertengahan Oktober lalu di media sosial muncul berita "50 tahun gugurnya Usman dan Harun di Singapura”.

Usman dan Harun adalah anggota Marinir (dahulu KKO-AL) yang gugur pada 17 Oktober 1968, dalam sebuah eksekusi di penjara Singapura. Kisah seputar misi mereka, termasuk proses bagaimana mereka tertangkap, merupakan cerita tersendiri. Namun pengorbanan dua prajurit tersebut tidak sia-sia, selain penghormatan di level negara, yang lebih bermakna adalah, keduanya telah menjadi inspirasi bagi anggota Marinir generasi berikutnya, maupun anggota pasukan khusus lainnya. Salah satunya adalah soal ketegaran dan ketenangan mereka saat menjelang eksekusi.

Tahun kelahiran Brimob

Sebagai satuan atau korps dengan nama besar, bukan berarti tahun kelahiran Brimob menjadi jelas di mata publik. Berdasarkan fakta historis, Brimob lahir pada 14 November 1946 di Purwokerto, sementara Korps Marinir pada 15 November 1945 di Tegal. Begitulah, dua korps yang tertanam kuat di memori publik ini memiliki tanggal hari jadi  berdekatan, namun beda tahun, dan publik (termasuk media) acapkali alpa soal ini.

Masalah utama kerancuan publik (termasuk media) adalah, adanya anggapan bahwa semua peristiwa besar  (termasuk kelahiran Brimob) terjadi pada tahun 1945, tanpa pernah memeriksa kembali soal kebenarannya.

Kita tidak pernah sadar, bahwa tidak semua satuan TNI atau kepolisian dilahirkan pada tahun 1945. Kalau Brimob lahir tahun 1945, memang terkesan janggal, berarti Brimob lebih tua dari induknya, yaitu Polri, yang baru resmi berdiri pada 1 Juli 1946.

Dua fakta historis berikut mudah-mudahan bisa menjelaskan ihwal kelahiran Brimob. Pertama, pada November 1945, pada peristiwa pertempuran 10 November di Surabaya, sejumlah anggota polisi istimewa (hasil didikan Jepang) melibatkan diri dalam pertempuran, di bawah pimpinan Iptu M Yasin (Komandan Brimob 1950-1959).

Pasukan polisi istimewa di bawah M Yasin inilah, yang kemudian menjadi embrio Brimob ketika didirikan pada bulan November tahun berikutnya. Artinya, tidak mungkin Brimob berdiri pada November 1945, karena situasinya masih genting

Kedua, adalah terkait hijrah Presiden Soekarno dan Wapres Hatta, dari Jakarta ke Jogja pada Januari 1946. Dalam perjalanan ke Jogja tersebut, rombongan Presiden dikawal sejumlah anggota polisi istimewa di bawah Inspektur Mangil Martowijoyo.

Pasukan di bawah Mangil ini kelak juga bergabung ke Brimob. Mangil sendiri kemudian menjadi Kepala DKP (Detasemen Kawal Pribadi) Presiden,  yang seluruh anggotanya berasal dari Brimob. Mangil selanjutnya dikenal sebagai pengawal pribadi Presiden Soekarno yang sangat setia, hingga Bung Karno lengser dari kekuasaan.

Pemahaman publik yang kabur soal hari jadi Brimob, bisa jadi adalah bagian dari pasang-surut citra Brimob itu sendiri. Bahkan, politisasi terhadap Brimob sudah terjadi sejak kelahirannya. Brimob lahir di era PM Sutan Sjahrir, sebagai Perdana Menteri, Sjahrir memiliki aspirasi agar Brimob bisa menjadi "penyeimbang” TNI AD, yang pada saat itu memang sangat dominan. Singkatnya, benih kompetisi antara Brimob dan AD, memang sudah terjadi ketika republik baru saja berdiri, yang terus berlangsung hingga puluhan tahun kemudian.

Persaingan paling tajam terlihat di masa kepemimpinan Pangab Jenderal Benny Moerdani  (1983-1988). Periode ini bisa disebut sebagai masa yang paling suram,  ketika Brimob hanya dipimpin seorang perwira menengah berpangkat Komisaris Besar (setara kolonel), itu pun bukan dalam komando tersendiri, namun di bawah Direktorat Samapta. Direktur (atau Kepala) Samapta sendiri berpangkat Brigjen.

Sementara pada waktu yang bersamaan, tokoh terkemuka Brimob (khususnya Resimen Pelopor) yaitu Jenderal Anton Sujarwo sedang menjabat Kapolri. Bagi yang paham zaman itu, memang seolah terjadi persaingan (terselubung) antara Benny dan Anton, mengingat keduanya adalah segenerasi dan sama-sama tokoh kebanggaan dari satuan asal.

Setelah periode Jenderal Benny, kebanggaan Korps Brimob secara bertahap mulai dipulihkan, ketika satuan ini kembali dipimpin perwira tinggi (pati) Polri bintang satu, yaitu Brigjen Pol Drs Sutiyono (1993-1998). Berlanjut pada pasca-Reformasi, ketika Polri dipisah dari TNI, terjadi validasi pimpinan Brimob, sehingga bisa dipimpin oleh pati bintang dua. Dan yang pertama kali memperoleh kehormatan ini adalah Irjen Pol Drs SY Wenas (2002-2009), salah seorang putera terbaik Korps Brimob.  SY Wenas selama bertahun-tahun memimpin satuan Gegana Polda Metro Jaya, rintisan satuan antiteror di jajaran Brimob.

Sinergi pasukan khusus

Salah satu isu yang selalu aktual bagi pasukan khusus adalah bagaimana membangun satuan antiteror yang andal. Secara kebetulan, tahun ini TNI telah membentuk Komando Operasi Khusus Gabungan, sebuah satuan gabungan antiteror. Komando Operasi Khusus  (selanjutnya Koopssus) dibentuk berdasar pemikiran tentang eskalasi ancaman terorisme yang semakin besar, sehingga perlu ada sinergi satuan antiteror di tiga matra, sekaligus backup terhadap Densus 88 Polri.

Salah satu legenda pasukan antiteror TNI, yakni Letjen (Purn) Sintong Panjaitan (Akmil 1963), sempat memberikan catatan kritisnya soal tren pembentukan pasukan antiteror di tiap matra, kemudian sekarang akan digabung pula. Sintong berpendapat, sebenarnya dari segi jumlah, pasukan antiteror tidak perlu terlalu besar.

Satu regu pun (sekitar 15 personel), bila dengan kualitas mumpuni, dan kesiapan tinggi, sudahlah cukup. Sintong mengajukan contoh di Inggris dan Jerman, yang hanya memiliki satu pasukan antiteror, masing-masing SAS (Inggris) dan GSG-9 (Jerman).

Dalam angan-angan Sintong, TNI harus membuat pasukan khusus dengan kualitas tinggi dan dilatih terus-menerus. Mengingat ancaman terorisme, seperti aksi pembajakan, atau aksi bom bunuh diri, sangat jarang terjadi. Namun masalahnya ancaman itu juga bernilai "strategis”, yang berdampak langsung pada kedaulatan negara dan pertaruhan nama bangsa.

Oleh karenanya pembentukan Koopssus bisa dibaca sebagai momentum, agar masing-masing satuan menanggalkan ego sektoralnya, untuk kemudian bersinergi dengan kemampuan terbaiknya. Mengingat situasi di luar semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, pada titik ini keberadaan pasukan khusus menjadi aktual, dan menjadi dambaan masyarakat.

Penulis:

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

*Silakan menulis pendapat Anda di kolom komentar yang tersedia di bawah ini.