Mengapa Mereka Lebih Memilih Pindah Saja ke Luar Negeri? | KOLOM: Bersama berdialog untuk mencapai pemahaman | DW | 23.11.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

kolom

Mengapa Mereka Lebih Memilih Pindah Saja ke Luar Negeri?

Mengapa banyak orang Indonesia -yang pintar dan punya hak istimewa- banyak yang mencari pendidikan, bekerja dan tinggal di luar negeri? Simak opini Nadya Karima Melati.

"Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu!" - John F Kennedy. Sudah lama kita ditipu oleh kebohongan tentang nasionalisme dari kalimat tersebut. Kata-kata tersebut diucapkan John F Kennedy, presiden Amerika Serikat yang tewas ditembak pada tahun 1963. Hingga saat ini, kematiannya masih misterius. Sama misterius dengan terbunuhnya Ita Martadinata Haryono, penyintas kerusuhan 98.

Perkara nasionalisme adalah sebuah hal yang selalu dipertanyakan kepada orang yang pindah negara. Ketika saya memutuskan pindah ke Eropa, banyak orang berpikir bahwa saya tidak nasionalis. Tuduhannya saya tidak loyal kepada negara sebab saya tidak melanjutkan berkembang biak di negara kelahiran saya.

Saya harus mengakui, banyaknya orang-orang yang enggan melanjutkan hidup di negara Indonesia memang masalah nasionalisme. Negara, harusnya menjadi alat untuk manusia yang tinggal di dalamnya menjadi sejahtera. Tapi ultra-nasionalisme mendoktrin bahwa manusialah yang harusnya berkontribusi untuk negara.

@Nadyazura adalah essais dan pengamat masalah sosial.

Penulis: Nadya Karima Melati

Masalahnya Memang Nasionalisme

Kita sudah lama dicuci otak dengan nasionalisme dan dimulai dari pendidikan. Negara dalam wajib pendidikan sembilan tahun digambarkan sebagai sesuatu yang terus berubah-ubah tergantung kebutuhan. Pada pelajaran kewarganegaraan, dia akan menjadi seorang ibu pertiwi. kepatuhan kita adalah wujud bakti padanya. Di mata pelajaran ilmu sosial, dia menjadi seorang bapak yang harus menunjukkan kemaskulinannya dengan negara lain melalui perang dan diplomasi.

Di pelajaran ilmu alam, negara tidak ada karena negara Indonesia memang jarang bicara tentang regulasikelestarian lingkungan hidup dan alam. Singkat kata, dalam pendidikan ada doktrin bahwa negara muncul sebagai hal yang ada sebelum warga/masyarakat. Seakan-akan syarat berdirinya negara adalah lembaga administratif terlebih dahulu baru warga negara dan wilayah. Padahal, harusnya kelengkapan administrasi dimunculkan untuk memenuhi kebutuhan warga negara yang tinggal dalam batas-batas wilayah yang ditentukan.

Hal yang lain dari doktrin nasionalisme melalui pendidikan adalah ajaran bahwa TNI sebagai representasi dari negara. Pada 21 Juni 2019 telah dilangsungkan rapat koordinasi Kementrian Kebudayaan dan Pendidikan dengan panglima TNI Hadi Tjahjanto. Dalam rapat tersebut muncul keputusan tentara akan mengajarkan siswa pada proses orientasi. Hal ini tentu harus dikritik habis. Karena tentara sama halnya seperti negara, mereka adalah alat. Tentara adalah alat kelengkapan negara untuk melindungi masyarakat banyak dan kepentingannya. Alat kelengkapan negara seharusnya tidak bisa digunakan untuk mengajarkan sesuatu karena manusia yang harusnya mengontrol alat.

Upaya-upaya berkorban untuk negara adalah nasionalisme yang tidak masuk akal, karena bagaimanapun di balik negara adalah manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. Ketika negara gagal untuk memenuhi kebutuhan warga negara, warga negara berhak mengkritik dan kecewa. Nasionalisme adalah sejarah tentang kisah pembentukan bangsa dan upaya pemenuhan kebutuhan warga negara, bukan argumen untuk membela kepentingan tentara dan pejabat tinggi pada hari ini.

Pergi untuk Hidup yang Lebih Baik?

Mengapa banyak orang Indonesia yang pintar dan punya hak istimewa lebih suka mencari pendidikan, bekerja dan tinggal di luar negeri?

Sebab negara Indonesia telah gagal memenuhi kebutuhan mereka. Nasionalisme yang sekadar mengagungkan tentara dan negara harusnya menjadi paham yang usang karena globalisasi dan teknologi membuat batas-batas negara semakin menipis.

Migrasi menjadi salah satu pilihan populer untuk bertahan hidup di dunia yang bundar ini. Migrasi punya faktor penarik dan pendorong (pull and push factors) antara lain seperti perang, bencana alam dan upaya untuk mencari hidup yang lebih baik.

Migrasi dengan alasan perang yang sempat menjadi momok yang ditakutkan Uni Eropa adalah dampak perang Suriah. Negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat menjadi tujuan sebab menjanjikan kebebasan dan peluang untuk berkembang. Sementara itu, di Indonesia alasan utamanya memang mencari hidup yang lebih baik sebab negara tidak memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Saya berbincang dengan Ferdi yang sedang mengajukan asylum ke Inggris sebab identitas seksualnya sebagai gay membuatnya tidak nyaman tinggal di Indonesia. Tren kebencian terhadap LGBTIQ memang membuat banyak warga negara menjadi tidak merasa aman dan nyaman lagi tinggal di negara ini karena mereka rentan dipersekusi. Selain itu, warga negara LGBTIQ tahu bahwa ketika terjadi persekusi, mereka tidak mendapat perlindungan dari negara.

Rani, usia 30 tahun, lulusan Universitas Indonesia yang sedang gencar mencari sekolah master dan berharap bisa pindah selamanya dari Jakarta. Dia berargumen bahwa kualitas udara di Jakarta sangat buruk dan dia berkali-kali terkena penyakit paru-paru sebab menghirup udara yang kotor dan penanggulangan pencemaran lingkungan tidak pernah jadi bahasan oleh politik Indonesia.

Ada pula Fahri, lulusan bisnis ITB yang sengaja belajar pemrograman komputer supaya bisa pindah dan memboyong serta istri barunya keluar Indonesia. Ia ingin anaknya kelak mendapat pendidikan yang layak. Fahri sadar dengan kerja sama dalam bidang pendidikan antara pak menteri dengan TNI tentu akan semakin menurunkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Mereka bertiga adalah contoh orang-orang yang sedang berusaha mengajukan diri dan menetap di negeri lain. Tuduhan bahwa banyak orang Indonesia yang pintar kabur ke luar negeri adalah benar. Pindah negara menjadi opsi bertahan hidup untuk nasib yang lebih baik. Orang-orang ini merasa tidak adil untuk terus hidup dengan kesempatan dan kebebasan yang terbatas. Bagi warga negara Indonesia biasa yang beruntung masih punya pilihan untuk bisa bermigrasi digunakanlah kesempatan tersebut.

Nasionalisme hari ini ditafsirkan sebagai upaya perlindungan negara yang sesungguhnya diwakilkan oleh segelintir elite: TNI, pengusaha, pejabat tinggi. Nasionalisme sesungguhnya yang berarti memenuhi kebutuhan warga negara seperti pengakuan atas Hak Asasi Manusia, hak hidup di lingkungan yang layak dan hak pendidikan. Jika kewajiban nasional ini terus diabaikan akan membuat semakin banyak orang-orang bermigrasi untuk mencari negara lain yang menjalankan fungsinya dengan benar. Yakni, memenuhi kebutuhan warganya.

Migrasi semakin mengencang dan batas-batas negara semakin menipis, sayangnya hanya orang-orang yang tertentu yang bisa punya pilihan untuk pindah negara. Sisanya, membusuk di negeri sendiri menyaksikan elite yang berseru tentang nasionalisme gadungan.

Penulis @Nadyazura adalah essais dan pengamat masalah sosial.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis

*Bagaimana  komentar Anda atas opini di atas? Silakan tulis dalam kolom komentar di bawah ini

Laporan Pilihan