1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Konferensi "Eco-Islam": Mengapa di Karachi?

Atif Tauqeer
19 November 2019

Bekerja sama dengan Deutsche Welle, di Karachi, organisasi hak-hak sipil Pakistan, T2F selenggarakan konferensi "eco-Islam". Editor DW, Atif Tauqeer jelaskan pentingnnya kerja sama antaragama untuk kebaikan.

https://p.dw.com/p/3TIWT
Bildergalerie Monsun in Pakistan
Foto: AFP/Getty Images/A. Hassan

Setelah konferensi "eco-Islam" sukses digelar di Jakarta, seminar serupa akan berlangsung di Karachi. Mengapa konferensi ini perlu diselenggarakan di Karachi dan mengapa kerja sama antar komunitas untuk kebaikan bersama? Editor DW, Atif Tauqeer berbagi pendapat berdasar pengalaman pribadinya. 

Usia saya baru lima tahun ketika keluarga kami pindah dari sebuah desa terpencil di kaki Himalaya ke Karachi, sebuah kota metropolitan di selatan Pakistan. Karachi pada waktu itu berbeda dari hari ini.

Jumlah mobil dulu masih sangat sedikit, toko-toko juga tak begitu banyak, tingkat kemacetan  dan tingkat kebisingan akibat transportasi tentunya juga lebih rendah. Namun --bahkan saat itu--, Karachi telah memiliki pesona tersendiri.

Sekarang di kota ini bermukim sekitar 20 juta manusia. Pertumbuhan kota yang cepat telah juga menyebabkan tekanan besar pada lingkungan kota yang mahal ini.

Dalam beberapa dekade terakhir, area hijau subur berubah menjadi kawasan bangunan khas perkotaan, taman berganti menjadi bangunan beton, sementara lahan hijau pun bermetamorfosis menjadi jalan dan jembatan. Saya ingat ayah saya biasa pergi ke kantor dengan sepeda, tetapi sekarang orang jarang terlihat bepergian dengan menggunakan sepeda.

Di sekolah, kami mendengar ajaran Islam tentang kebersihan, tentang lingkungan, tentang alam, tentang ekologi, namun dalam praktiknya tidak demikian.

Saluran air yang terbuka, air yang terkontaminasi, kenaikan suhu udara, limbah padat dari industri dan masyarakat perkotaan, polusi udara, perusakan ekologi, dan pertumbuhan populasi telah sangat mempengaruhi seluruh kota dalam beberapa tahun terakhir. 

Atif Tauqeer
Jurnalis DW asal Pakistan, Atif TauqeerFoto: DW/A. Tauqeer

Baru-baru ini, saya berada di Jakarta untuk konferensi eco-Islam dan di sana, terlepas dari semua masalah yang terkait urbanisasi, ada rasa tanggung jawab, tidak hanya di antara kelompok-kelompok lingkungan tetapi juga di antara kelompok agama di kota itu.

Konferensi eco-Islam di Jakarta, misalnya, diselenggarakan oleh organisasi keagamaan setempat, Wahid Foundation, yang tidak hanya mempromosikan ajaran Islam ke arah toleransi dan kerukunan antaragama, tetapi juga terhadap perlindungan alam.

Ada pula inisiatif masjid ramah lingkungan di Jakarta, di mana masjid mengadaptasi cara yang ramah lingkungan untuk menghindari pemborosan air.

Ada sejumlah ayat Alquran dan perkataan Nabi Muhammad tentang pelestarian alam dan kelompok-kelompok ini mempraktikkan ini secara aktif guna membujuk sejumlah masyarakat dari berbagai kalangan untuk mengadopsi cara hidup yang ramah terhadap alam.

Karachi, sementara itu, membutuhkan perawatan ekstra karena telah menjadi salah satu kota terpadat di dunia dengan lebih dari 20 juta penduduk. Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran tentang perubahan iklim, pemanasan global, kualitas udara, dan kenaikan muka air laut telah meningkat di seluruh dunia, termasuk Pakistan.

Pada hari pemogokan iklim di bulan September tahun ini, ini mungkin untuk pertama kalinya sejumlah besar rakyat biasa ikut berpartisipasi dalam demonstrasi di seluruh Pakistan.

Protes semacam itu tidak hanya terbatas pada slogan dan pawai tetapi juga banyak inisiatif baru yang muncul. Faktanya, perubahan iklim dan lingkungan juga telah dibahas dalam pemilihan sebelumnya oleh berbagai partai politik dalam kampanye mereka.

Partai Pakistan Tehreek e Insaaf (PTI), yang saat ini memerintah di pemerintahan federal, telah menggunakan inisiatif penanaman milyaran pohon dalam kampanye pemilihan umum. Berbagai institusi di Pakistan termasuk militer juga telah mengambil bagian dalam kampanye penanaman pohon dalam beberapa tahun terakhir.

Pelestarian air tanah dan air minum, perlindungan gletser, fortifikasi hutan juga merupakan bagian dari wacana nasional Pakistan. Ini juga mencerminkan adanya kekhawatiran terhadap lingkungan yang berkembang di masyarakat luas.

Sebuah studi terbaru bertajuk "Indeks Risiko Iklim Global 2019" yang didukung oleh organisasi Jerman, Brot für die Welt, menempatkan Pakistan di posisi ke-8 di dunia dalam indeks negara-negara terkena dampak perubahan iklim terparah dalam beberapa tahun terakhir.

Data menggambarkan bahwa dari tahun 1998 hingga 2017, perubahan iklim dikaitkan dengan kematian 512 orang setiap tahunnya di Pakistan dan menyebabkan kerugian lebih dari 3,8 juta dolar AS (Rp 53,5 miliar) per tahun.

Karachi adalah pusat ekonomi Pakistan. Jika kota ini jatuh sakit, seluruh negara merasakan efeknya. Apakah itu terkait kesehatan, limbah padat, polusi udara atau air, banyak masalah di kota ini terkait langsung dengan lingkungan dan ekologi.

Semua ini menuntut tindakan kolektif guna menyelamatkan nyawa jutaan penduduk kota penuh cahaya ini. LSM dan aktivis lingkungan atau pawai pelestarian alam tidak dapat melakukan ini sendirian.

Organisasi keagamaan, terlepas dari apa kepercayaan atau aliran mereka, mesti bergandengan tangan guna menghadapi tantangan bersama. #Mukalama DW bekerja sama dengan T2F menyelenggarakan konferensi di Karachi, di mana influencer dari berbagai lapisan masyarakat ikut ambil bagian dalam diskusi dan rencana aksi kolektif.

Konferensi sebelumnya di Jakarta telah berhasil, karena terlepas dari semua perbedaan, semua bagian masyarakat Indonesia memiliki kesepakatan mutlak terkait perang melawan perubahan iklim. Karachi juga membutuhkannya.

Ketika saya melangkah keluar dari bandar udara Karachi, jalan yang sibuk, lalu lintas padat, kantung plastik beterbangan tertiup angin dan polusi udara tampak begitu nyata. Namun saya bahagia, karena dengan menyelenggarakan seminar eco-Islam di kota ini, saya akan melihat bagaimana berbagai komunitas yang berbeda akan bekerja sama dalam satu tujuan, "mengasihi manusia, mengasihi alam." (ae/ap)