1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Foto ilustrasi suara
Foto ilustrasi suaraFoto: DGLimages/Panthermedia/imago images

Mendeteksi Penyakit dan Kepribadian dari Suara

Anja Galonska
5 Maret 2022

Peneliti Jerman bisa mendeteksi lewat suara, apakah orang lebih ekstrover atau introver. Yang lebih penting lagi, mereka juga bisa diagnosis dini penyakit seperti Parkinson.

https://www.dw.com/id/mendeteksi-penyakit-dan-kepribadian-dari-suara/a-61017693

Sifat dan karakter orang adalah sesuatu yang tidak dapat diketahui hanya dengan melihat sosok orang itu. Apakah dia senang bertualang? Apakah dia introver? Namun demikian, ahli informatika Björn Schuller bisa memberikan informasi tentang orang-orang yang tidak ia kenal. Yang ia butuhkan hanya rekaman suara mereka, bahkan hanya sejumlah kata-kata.

Björn Schuller dan timnya mengembangkan sistem pintar analisis suara. Untuk menguji sistem yang ia buat, tiga orang relawan, yaitu Katharina, Dirk dan Robin diminta untuk membaca dan merekam sebuah teks pendek.

Berdasarkan suara, komputer mengecek apa yang disebut "Big Five“, yaitu lima pertanda utama kepribadian seseorang. Björn Schuller menjelaskan lebih terperinci, lima hal tersebut yang pertama: keterbukaan bagi pengalaman, hal baru dan keinginan untuk bereksperimen.

Yang kedua kategori tanggung jawab, dan yang ketiga ekstrover atau introver, jadi apakah orang itu senang bergaul. Yang keempat disebut kompatibel, artinya: seberapa mampu orang bekerja dalam tim. Dan yang terakhir adalah indikasi apakah orang itu tenang atau labil secara emosional.

Program mengungkap karakter dan penyakit

"Relawan pertama Dirk tampaknya sangat senang bereksperimen. Ia terbuka untuk mencoba sesuatu yang baru", kata Björn Schuller, yang mengajar di Universitas Augsburg. Ketika ditanya, Dirk mengatakan, dia memang senang mencoba hal baru. Selain itu dia juga sangat giat, misalnya, di waktu luangnya dia jadi pemelihara lebah. Dia punya tujuh koloni lebah. Dia juga ikut pentas teater dan tertarik mengetahui hampir semua hal.

Suara Indikator Kepribadian dan Kondisi Kesehatan

Apakah suara kita benar-benar mengungkap banyak hal tentang karakter kita? Ya, kata Björn Schuller, dan tidak hanya itu. Dia bahkan bisa mendiagnosis penyakit dari suara. "Jadi dalam hal ini suara ibaratnya cermin jiwa,“ jelas Björn Schuller. Mereka bisa mengatakan banyak hal tentang suasana hati, juga tentang penyakit, dan perubahan lain yang berkaitan dengan kesehatan.

Petunjuk tentang penyakit bisa diperoleh dari suara, karena hampir seluruh bagian tubuh ikut dalam pembentukan suara. Kita butuh paru-paru, batang tenggorokan dan pangkal tenggorokan, dan tentu juga pita suara. Di sinilah terbentuk suara. Lidah, bibir dan otot wajah membuat suara orang berbeda-beda. 

Untuk menarik dan menghembuskan napas, kita juga butuh otot dalam ruang dada dan perut, misalnya diafragma. Lebih dari 100 otot berperan dalam pembentukan suara, dan beberapa bagian dalam otak. Jika kita merasa tegang atau kesakitan, merasa takut atau depresi, kerjasama yang kompleks ini berubah - demikian halnya suara kita.

Mendeteksi Parkinson secara dini

Itu juga bisa dilihat pada penyakit misalnya Parkinson. "Parkinson adalah penyakit yang berkaitan dengan degenerasi saraf.“ Artinya, penyakit ini secara khusus menyerang kemampuan motorik. Itu terlihat sangat dini pada otot-otot halus yang kita gunakan untuk membentuk suara. Dibanding dengan suara orang yang sehat, orang yang sakit berat suaranya terputus-putus.

Berkat sistem analisa suara, sekarang para peneliti berusaha untuk bisa mengenali Parkinson sejak stadium sangat dini. Demikian halnya dengan penyakit lain, seperti autisme, ADHS atau depresi. Ketepatan program antara 70% hingga 90%. Itu bisa berfungsi, sebab sistem sudah terisi ratusan sampel suara pasien yang sudah didiagnosis.

Menganalisa tepat dan sesuai gambaran orang bersangkutan

Dari analisa suara Dirk, selain diketahui bahwa ia punya rasa ingin tahu yang besar, tampak juga tendensi bahwa ia lebih ke arah introver. Artinya, dia agak kurang suka suka bergaul. Ternyata itu juga benar. Dirk mengungkap, “Orang yang tidak kenal saya, mungkin tidak akan berpikir, bahwa saya sangat senang sendirian.“

Apakah sistem bisa mengenali orang lain setepat itu pula? Misalnya Katarina. Ia senang dan banyak bekerja di butiknya, juga di kedai kopinya. Sepintas lalu suaranya terdengar ekstrover.

“Saya keturunan Yunani,“ kata Katarina. “Kalau saya berbicara dengan keluarga saya, atau dengan suami saya, suara saya tambah lama tambah keras, jadi banyak orang berpikir, kami sedang bertengkar. Tapi tidak begitu.“

Jika dilihat hasil analisa suaranya, "Dibanding Dirk, Katharina tampak lebih seimbang. Artinya, walaupun dari segi akustik suaranya terdengar sangat berbeda, sebenarnya kepribadiannya stabil," kata Björn Schuller. Katarina juga setuju. Ia kadang juga senang sendirian.

Program punya keterbatasan

Orang ke tiga, yaitu Robin, sedang merencanakan kunjungan ke Nepal, di mana dia akan mengadakan perjalanan dengan berjalan kaki. Ia juga senang olah raga dan tekun untuk mencapai tujuan. "Saya sangat memperhitungkan apa yang saya lakukan, dan berusaha untuk tidak melepas kontrol. Banyak teman dan kenalan saya pasti setuju.“ Begitu ditekankan Robin.

Tapi Björn Schuller mengatakan, "Jika kita lihat analisa untuk Robin, tampak di sini kekurangan yang lebih dari normal pada sifat ekstrover." Jadi menurut analisa suara, ia introver dan sangat merefleksi diri. Dalam kategori lainnya, penilaian komputer seimbang.

Tapi Robin sendiri menilai dirinya tidak begitu. “Saya rasa, saya jelas lebih bertanggungjawab, lebih senang bergaul dan lebih stabil.“ Apakah sistem sekarang salah? Atau apakah sistem mengenal kita lebih baik daripada kita sendiri? 

Ketepatan tes kepribadian itu, sekarang sedikit lebih tinggi dari 70%. Jadi sekarang program belum sepenuhnya bisa menembus pandang, atau tepatnya menembus dengar, manusia. (ml)