1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ilustrasi dari Film E.T. Imajinasi kontak langsung antara manusia dengan makhluk cerdas lain dari luar angkasa.Foto: dpa

120509 Dyson-Sphären

20 Mei 2009

Dengan meneliti efek Dysonsfer para pakar astronomi dan astrofisika mengharapkan dapat menemukan indikasi mengenai peradaban cerdas lainnya di alam semesta.

https://p.dw.com/p/HuEg


Beberapa dekade terakhir ini, para ilmuwan terus berusaha mencari bukti adanya makhluk cerdas lain di alam semesta. Namun sejauh ini hasilnya tetap nihil. Dalam tahun 2009 yang dicanangkan sebagai tahun astronomi internasional, para pakar astronomi dan astrofisika semakin intensif meneliti ruang angkasa. Sasarannya, menemukan sesuatu yang baru di alam semesta. Atau yang lebih baik lagi, menemukan mahkluk cerdas lain di luar Bumi yang kita huni.

Beberapa dekade belakangan, dilakukan penelitian untuk mencari sinyal yang dipancarkan dari peradaban cerdas lain di luar Bumi. Sejauh ini para ilmuwan baru dapat menemukan apa yang disebut exoplanet. Yakni sistem tatasursya lain yang mirip dengan sistem Matahari di luar angkasa nun jauh di sana. Dengan itu, peluang untuk menemukan kehidupan lain di planet-planet luar Bumi, juga meningkat. Tentu saja yang diharapkan adalah menemukan makhluk cerdas, bukan hanya sekedar mikro-organisme primitif.

Para pakar astronomi dan astrofisika mengharapkan, dapat melacak indikasi atau bahkan menemukan peradaban cerdas lain di luar Bumi. Terutama yang secara teknis jauh lebih maju dari manusia. Dalam arti, mahkhluk cerdas lain itu mampu memenuhi seluruh kebutuhan energi dari planetnya, dengan memanfaatkan apa yang disebut Dysonsfer. Yakni semacam sistem yang mampu memanfaatkan bintang sumber energi dari planet bersangkutan seperti Matahari dalam tata surya kita, lebih efisien dan nyaris tanpa batas.

Efisiensi pemanfaatan sumber energi menjadi fokus utama penelitian, karena energi yang diperoleh Bumi dari Matahari hanyalah bagian amat kecil dari energi yang sebenarnya dipancarkan.

Pakar astronomi Jerman Florian Freistetter dari Institut Penelitian Astronomi di Universitas Heidelberg mengungkapkan : “Jika sekarang melihat situasi di Bumi, kita memperoleh energi dari Matahari. Walaupun hanya sebagian kecil dari seluruh energi yang dipancarkan Matahari. Karena kita hanya dapat memanfaatkan energi yang jatuh ke Bumi. Sisanya menyebar di luar angkasa dan kita tidak dapat menangkapnya.“

Ausstellung zu Außerirdischen
Sosok rekaan makhluk cerdas dari luar angkasa yang diisukan jatuh di New Mexico AS tahun 1947 lalu.Foto: picture-alliance/ ZB

Apa yang disebut Dysonsfer adalah gagasan yang dilontarkan pakar fisika AS, Freeman Dyson setengah abad lalu, untuk menangkap pancaran energi dari Matahari dengan bola berukuran raksasa. Bola ini akan melingkupi Matahari seperti lapisan pelindung, sehingga cahaya dan panas dari bintang bersangkutan tidak hanya sebagian kecil, melainkan dapat ditangkap seluruhnya. Dengan begitu, masalah kekurangan energi yang selalu dihadapi umat manusia dapat dituntaskan untuk selamanya.

Tapi apakah mungkin membuat lapisan buatan yang disebut Dysonsfer itu? Pakar astronomi Freistetter menjelaskan lebih lanjut : “Hal itu secara teknis amat sulit dan merupakan pekerjaan raksasa. Walaupun secara fisika hal itu dapat dibuat.“

Untuk membuat lapisan seperti bola semacam itu, diperlukan material yang volumenya setara dengan sebuah planet besar, yang beratnya 100 milyar kali Bumi. Diperlukan waktu antara tiga sampai empat ribu tahun untuk membangunnya. Sebuah peradaban yang lebih cerdas dari peradaban manusia di Bumi, mungkin saja sudah berhasil melaksanakan pembangunan lapisan semacam ini.

Florian Freistetter menggambarkan : “Kita bayangkan, mungkin terdapat peradaban makhluk luar angkasa, yang mampu membangun Dysonsfer. Bintangnya sepenuhnya atau sebagian dilingkupi selubung. Artinya, kita tidak lagi menerima cahaya. Bintang memancarkan energi pada selubung tsb, yang kemudian memanas dan memancarkan kembali energinya. Pancaran panas atau infra-merah ini dapat diukur. Dengan memanfaatkan berbagai satelit infra-merah bisa didapatkan hasil, apakah di luar angkasa ada obyek yang kenampakannya seperti Dysonsfer.“

Hal senada juga disampaikan pakar fisika dari Fermilab di negara bagian AS Illinois, Richard Carrigan. Ia telah meneliti hampir 250.000 sumber inframerah di luar angkasa, untuk menegaskan apakah di balik pancaran inframerah semacam ini, tersembunyi Dysonsfer yang dibangun oleh makhluk cerdas lain di luar Bumi. Carrigan mengungkapkan : Saya juga tertarik, membuktikan jejak obyek buatan yang menunjukkan adanya peradaban cerdas lain. Hal ini sangat sulit, karena bintang-bintang dilingkupi cincin partikel yang juga memancarkan cahaya infra merah. Obyek-obyek semacam itu memancarkan radiasi seperti Dysonsfer, tapi kebanyakan kasusnya dapat diterangkan secara ilmiah.“

Large Magellanic Cloud (LMC) in der Milchstraße
Galaksi Awan Megellan Besar yang mengandung lebih dari 10.000 bintang yang diharapkan juga mengandung exoplanet.Foto: AP

Setelah penelitian intensif yang dilaksanakan di Fermilab, dari hampir seperempat juta bintang sumber inframerah di luar angkasa kini tinggal 10.000 yang layak dijadikan kandidat penelitian keberadaan Dysonsfer. Dari jumlah itu, dipilah lagi bintang-bintang yang kemungkinan diselubungi kabut awan atau cincin partikel. Akhirnya hanya tersisa 16 bintang yang dianggap potensial sebagai sumber inframerah yang tidak alami. Sekarang Institut SETI di California yang sejak beberapa dekade melacak keberadaan mahkluk cerdas di luar Bumi, melakukan penelitiannya lebih cermat lagi.

Pakar astronomi Jerman, Florian Friestetter menilai, peluang sukses bagi penemuan Dysonsfer tetap terbuka. “Mungkin saja suatu hari nanti ditemukan sebuah peradaban sangat maju di luar angkasa, yang membangun Dysonsfer sebagai hobby atau karya seni. Atau juga memiliki struktur bangunan raksasa semacam itu di sistem planetnya“, kata astronom Jerman itu lebih lanjut.

Sementara astronom AS, Richard Carrigan juga menambahkan, para ilmuwan di Bumi tidak mengetahui teknologi macam apa yang dikembangkan oleh makhluk cerdas lain di luar Bumi, jika mereka memang eksis. Yang jelas, pencarian makhluk-makhluk cerdas lainnya di luar angkasa amat berguna. Ditambah lagi ongkosnya relatif tidak terlalu besar, karena dapat dilakukan dari Bumi tanpa harus membuat teleskop ruang angkasa canggih yang mahal harganya.

Carrigan juga memaparkan bagaimana metodenya memilah obyek yang dinilai potensial sebagai sumber peradaban cerdas lain di luar Bumi. “Jika dari luar angkasa kita memandang ke Bumi dan melihat ada piramida berbentuk bujur sangkar, tentu saja kita akan menyingkirkan dugaan penyebab geologi bagi formasi semacam ini. Apabila kita menemukan obyek semacam itu, kita akan meyakini, hal itu mengindikasikan adanya makhluk cerdas lain", kata pakar astronomi AS itu menjelaskan

Dengan meneliti berbagai indikasi pada exo-planet di alam semesta, para pakar astronomi, astrofisika dan astrobiologi terus berusaha mencari indikasi adanya makhluk cerdas lain selain manusia di alam semesta ini. Melacak keberadaan Dysonsfere adalah salah satu cara yang digunakan para ilmuwan. Teori menunjukkan, terdapat milyaran kemungkinan bagi munculnya kehidupan cerdas lain di luar Bumi. Namun hingga kini belum satupun yang menunjukkan bukti meyakinkan bagi komunikasi atau bahkan pertemuan langsung antara manusia dengan makhluk cerdas lain dari luar angkasa.



Guido Meyer/Agus Setiawan

Editor:Hendra Pasuhuk