Memukau Publik Hamburg, Pagelaran Wayang Orang ″Kresna Duta″ Disambut Gemuruh | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 04.09.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Pagelaran Kresna Duta di Jerman

Memukau Publik Hamburg, Pagelaran Wayang Orang "Kresna Duta" Disambut Gemuruh

Sekitar 500 penonton bertepuk gemuruh di akhir pagelaran Wayang Orang "Kresna Duta" di gedung pertunjukkan Neue Flora, Senin malam (2/9). Lebih 60 seniman dari Indonesia memukau publik Jerman selama hampir dua jam.

Sastrawan dan filsuf besar India Rabindranath Tagore, ketika berkunjung ke Jawa dan Bali tahun 1927, terkejut gembira melihat betapa epos besar Mahabharata dan Ramayana di Nusantara dikembangkan lagi dengan penuh kreativitas. Di Indonesia muncul banyak figur baru yang tidak ada dalam mitos-mitos India, tulis Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dalam sambutannya.

Pertunjukkan wayang punya tradisi panjang di Indonesia, dan sudah disebut dalam tulisan-tulisan tua sejak abad ke-10. Tradisi wayang kemudian berkembang dan dipergelarkan dalam acara-acara khusus di Jawa dengan tingkat estetika yang tinggi. Berbagai variasi berkembang di Bali, Cirebon dan daerah Priangan (Jawa Barat).

Kisah Kresna Duta menceritakan peran Kresna, yang merupakan inkarnasi Dewa Wisnu, ketika berusaha menengahi dan mencegah konflik besar antara klan Pandawa dan Kurawa dengan sebuah misi diplomasi. Sebuah narasi besar mengenai loyalitas, pengabdian, cinta keadilan dan balas budi. Di balik itu ada keserakahan, kebencian, nafsu kekuasaan dan kekerasan.

Kisah besar ini pada akhirnya menyentuh pertanyaan besar umat manusia sejak dulu hingga kini: apa yang bisa menyebabkan terjadinya perang besar yang memusnahkan dan bagaimana cara mencegahnya serta memelihara perdamaian?

Indonesisches Tanztheater Wayang Orang in Hamburg (DW/H. Pasuhuk)

Pertempuran besar antara klan Pandawa dan Kurawa tidak terhindar lagi, setelah Prabu Kresna gagal menengahi konflik melalui diplomasi

Merebut perhatian di era digital

Dengan perkembangan teknologi informasi dan gencarnya perkembangan media televisi dan internet, pertunjukkan Wayang Orang makin lama makin terdesak ke pinggir. Saat ini, hanya ada tiga rumah teater di Jakarta, Solo dan Semarang yang menggelar pertunjukkan Wayang Orang secara teratur.

Namun belakangan ini, minat terhadap Wayang Orang kelihatannya bangkit lagi, dan mulai menjangkau publik internasional. Ini juga tampaknya yang menjadi alasan mengapa pagelaran Wayang Orang di Jerman tahun ini digalakkan. Sekitar 60 pemeran dan pemusik didatangkan dari Indonesia ke Jerman untuk tampil di Hamburg, Hannover dan Bremen. Sebelumnya sebagian pemeran sudah datang ke Jerman dan menggelar berbagai lokakarya yang melibatkan masyarakat Jerman. Ternyata, sambutan masyarakat Jerman Samgat antusias dan mereka siap merogoh kantong untuk membeli tiket seharga 20 Euro (mahasiswa 10 Euro).

Dengan pagelaran besar di Jerman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menjadi penanggung dana terbesar tampaknya berharap, tradisi Wayang Orang juga bisa bangkit lagi di Indonesia, jika publik di Indonesia menyadari bahwa atraksi ini mampu memukau hadirin internasional. Duta Besar RI di Jerman, Arif Havas Oegroseno membuka acara malam itu dengan ajakan kepada penonton dan para tamu undangan dari korps konsulat asing yang hadir untuk menikmati "atraksi besar ini, yang juga sarat dengan pesan-pesan aktual".

Indonesisches Tanztheater Wayang Orang in Hamburg (DW/H. Pasuhuk)

Pemeran panggung Antonia Schwingel tampil sebagai narator yang merangkum tiap adegan dalam bahasa Jerman

Skenario panggung yang memukau

Pertunjukkan dibagi dalam lima adegan, setiap adegan dibuka dengan narasi (pemaparan cerita) oleh pemeran panggung Antonia Schwingel dalam bahasa Jerman. Uniknya, peran Antonia bukan sebagai narator di belakang layar, melainkan diintegrasikan ke dalam skenario panggung. Dia belajar gerakan-gerakan tarian Jawa dari tim Kresna Duta dan mengenakan kostum penari, lalu muncul di tengah para penari sambil membawakan pengantar adegan. Maka peran sang narator melebur ke dalam adegan panggung, seperti yang sering terlihat dalam kisah-kisah opera besar.

Dengan cara itu, para penonton Jerman dan penonton Indonesia yang tidak bisa mengerti bahasa Jawa juga bisa mengikuti alur setiap adegan dan menikmati atraksi tari di panggung. Maka tepuk tangan penonton pun menggemuruh, ketika pertunjukkan yang berlangsung hampir dua jam itu berakhir pada larut malam. Dari Hamburg, Kresna Duta masih akan diboyong ke Hannover dan Bremen.

Indonesisches Tanztheater Wayang Orang in Hamburg (DW/H. Pasuhuk)

Prabu Kresna mendapat tugas diplomasi dari Dewi Kunti


Perhelatan besar ini terwujud atas dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan kerjasama berbagai pihak: Yayasan Paramarta Karya Budaya di Jakarta, Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia (IASI) Jerman, Diaspora Indonesia di Bremen. KJRI Hamburg dan KBRI Berlin turut mendukung rangkaian pegelaran ini.

Tujuan dan harapan kami dengan pagelaran dan workshop-workshop ini adalah untuk  mengangkat kembali popularitas kesenian wayang orang, di kalangan masyarakat indonesia sendiri, sekaligus mempromosikan budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman, kata Konsul RI di Hamburg, Bambang Susanto. (ml)