Mempopulerkan Tempe Indonesia di Berlin | DWNESIA: Wadah bagi komunitas DW untuk berbagi kisah dan pendapat | DW | 11.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Negeri Orang

Mempopulerkan Tempe Indonesia di Berlin

Yustina Haryanti percaya, basis dari Indonesia jika diasah bisa menjadi kekuatan tersendiri di luar negeri. Dengan usaha tempenya, ia turut mempopulerkan makanan asli Indonesia.

Hari Kamis merupakan hari yang padat aktivitas bagi Yustina Haryanti dan suaminya Francesco. Selain memproduksi tempe seperti setiap harinya, Yustina harus tepat waktu menyelesaikan masakan yang akan ia jual di pasar jajanan "Streetfood Thursday" di Markthalle Neun Berlin. Pasar jajanan ini merupakan salah satu tempat incaran para pecinta kuliner di Berlin.

Selama lima jam non stop Yustina dan Francesco melayani pelanggan yang kebanyakan belum kenal dan penasaran dengan tempe. Di Jerman, sumber protein nabati asli Indonesia ini masih belum sepopuler tahu. Menu andalan Yustina adalah rendang tempe dan bakpao dengan isi tempe. Setiap hidangan dijual dengan kisaran harga 5 euro, atau sekitar 85.000 rupiah.

Usaha produksi dan berjualan tempe dimulai Yustina pada tahun 2015. "Awalnya hanya karena saya suka tempe tapi disini tidak ketemu tempe yang sesuai seperti aslinya di Indonesia. Lalu idenya datang dari suami saya: kenapa kamu tidak bikin tempe saja disini?" ceritanya. 

Walaupun perempuan asal Ungaran ini tidak langsung semangat karena citra tempe yang kurang berkelas di Indonesia, untuk mengisi waktu luang sambil mengurus anak bungsu yang waktu itu masih bayi akhirnya Yustina mencoba membuat tempe sendiri. 

Merebut hati orang Jerman dengan tempe

"Awalnya tempe saya selalu busuk. Tapi saya berpikir, saya harus bisa. Jadi saya coba terus," ujar Yustina. Dalam proses belajarnya, wanita yang senang memasak ini juga sempat belajar langsung di Indonesia, membaca berbagai buku tentang fermentasi, dan mengikuti kursus dari Indonesian Tempe Movement di Belanda. 

Setelah cukup puas dengan tempe buatannya sendiri, Yustina membagi-bagikan tempenya di sebuah komunitas vegan di Berlin untuk mendapatkan feedback jujur dari orang asing. Disinilah ia bertemu dengan seorang pengusaha Jerman yang suka dengan tempe Yustina dan mendorongnya untuk menjual tempe bikinannya. 

"Kalau orang Indonesia kan kenal tempe tapi kalau orang asing kan belum mengerti tempe, jadi ketika mendapatkan hati mereka itu jadi suatu kepercayaan diri tersendiri," kenang Yustina. Sejak itu Yustina mulai menjual hidangan berbasis tempe bikinannya sendiri di pasar jajanan di Markthalle Neun.

Mensuplai restoran dan melayani catering

Berkat promosi dari mulut ke mulut, perusahaan Tempehhof milik Yustina juga semakin dikenal oleh kalangan gastronomi di Berlin, khususnya di komunitas vegetarian dan vegan. Dengan begitu Tempehhof sering diundang untuk meramaikan banyak festival jajanan dan semakin banyak datang permintaan untuk mensuplai restoran dan cafe, misalnya restoran Italia yang memadukan tempe dengan hidangan klasik Italia seperti bruschetta atau ravioli.

Setiap minggunya Tempehhof juga melayani pesanan catering dari sejumlah kantor coworking space yang menyediakan tawaran makan siang tanpa daging bagi para penyewa tempat. "Selalu ada tempe dalam menu catering saya dan saya selalu cerita, bahwa inilah produk asli Indonesia," ujarnya.

Di musim panas Yustina dan suaminya setiap harinya mengolah sampai 50 kilogram kacang kedelai untuk memenuhi permintaan pelanggan di Berlin. Walaupun kacang kedelai yang dipakai adalah produksi Eropa, Yustina tetap paling suka menggunakan ragi Indonesia karena ini yang menurutnya masih paling kuat dalam mengikat kacang kedelai. Yustina juga senang bereksperimen membuat tempe, misalnya dengan menggunakan kacang polong atau kacang arab.

Selain karena bisa kreatif, bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang adalah hal yang paling disukai Yustina dari pekerjaannya. "Saya senang kalau pelanggan saya bisa berkenalan dengan makanan Indonesia. Membuat yang tadinya tidak suka tempe jadi suka, dan yang tidak tahu menjadi tahu." ceritanya "Ini adalah pengenalan budaya."

Menghadapi tantangan di masa krisis Corona

Sebuah tantangan tersendiri untuk Tempehhof datang pada pertengahan bulan Maret 2020. Seiring memanasnya krisis Corona di Eropa dan Jerman memutuskan untuk membatasi kontak sosial untuk memperlambat laju penyebaran wabah covid-19. 

Pasar-pasar jajanan yang selalu penuh sehingga tidak mungkin menjaga jarak 1,5 meter untuk sementara waktu ditutup. Larangan berkumpul dalam jumlah besar membuat banyak kantor coworking space, restoran dan cafe tidak boleh beroperasi. Bagi Tempehhof ini berarti kehilangan pelanggan dan omset.

"Kami juga melihatnya sebagai tantangan, karena memang saat ini masih dalam masa shock untuk perubahan yang tiba-tiba, tetapi kita manusia yang pasti bisa beradaptasi dan menemukan cara untuk bertahan. Dan dalam kondisi sulit, orang tetap memerlukan makanan," ujar Yustina setelah kebijakan pembatasan kontak sosial dijalankan.

Setelah usaha sempat berhenti sebentar, sekarang Tempehhof bangkit kembali dengan menjalankan layanan pesan antar, mengantarkan tempe segar serta menu catering seperti nasi pecel, rendang dan risoles ke para pelanggan di seluruh Berlin.

Selain bantuan bagi pengusaha kecil dari pemerintah Jerman, sokongan finansial juga didapatkan melalui penjualan "Voucher Kepercayaan", yang bisa dibeli warga Berlin untuk restoran, cafe atau toko terpilih. Ini nantinya bisa dicairkan ketika perusahaan sudah kembali aktif beroperasi.  Aksi ini adalah inisiatif dari sebuah organisasi non profit yang ingin mencegah agar perusahaan-perusahaan kecil tidak bangkrut karena tidak bisa menutup ongkos yang tetap harus dibayar selama masa vakum ini. Tempehhof termasuk salah satu perusahaan yang terpilih mengikuti program ini.

Yustina dan Francesco mencoba tetap optimis dalam menghadapi krisis ini. Waktu yang tersedia karena berkurangnya aktivitas usaha juga digunakan untuk mengembangkan strategi-strategi baru bagi Tempehhof. Nantinya ketika keadaan kembali normal, mereka ingin siap dengan program dan produk-produk baru untuk terus memperkenalkan tempe asli Indonesia di Berlin. (Ed: yp)