Memalukan Inggris - Wawancara Bayaran Dengan Mantan Sandera | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 11.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Memalukan Inggris - Wawancara Bayaran Dengan Mantan Sandera

Tajuk: Ini memang belum pernah terjadi. Kementrian Pertahanan Inggris mengijinkan ke-15 anggota marinir yang dibebaskan oleh Iran, untuk menjual kisah mereka kepada media Inggris dengan bayaran tinggi.

Baru ketika anggota keluarga dari tentara yang tewas di Irak dan juga perwira-perwira tinggi menunjukkan kejengkelan tentang penjualan yang dinilai tak bermoral itu dan mencetuskan gelombang protes di Inggris, para bekas sandera itu dilarang untuk memberikan wawancara. Kubu konservatif mencanangkan konsekuensi di parlemen. Berikut komentar Ralf Borchard:

Kalau tadinya masih ada keraguan, apakah Inggris atau Iran yang unggul dalam adu propaganda mengenai para prajurit yang ditahan itu, sekarang sudah jelas. Penguasa di Teheran dapat bertepuk dada. Iranlah yang menang. Betapa pun tentara Inggris itu jelas dipaksa memberikan pengakuan lewat televisi Iran, dan betapa mengejutkannya metode interogasi yang digunakan Iran, tetapi keputusan Kementrian Pertahanan Inggris untuk mengijinkan ke-15 anggota marinir itu menerima bayaran tinggi bagi wawancara mereka, mengalahkan semua taktik yang terpikir oleh Ahmadinejad.

Sulit dipercaya bahwa pimpinan angkatan laut Inggris dapat melakukan kesalahan serupa itu. Memang penting bagi para marinir muda itu untuk membeberkan apa yang dialami dari sudut pandang mereka. Tanpa ijin pun keluarga dari ke-15 tentara itu sulit membendung desakan media, demikian alasan yang dikemukakan. Mungkin itu benar. Memberikan wawancara pastilah dapat dipahami. Kendalanya adalah faktor uang. Tetapi sangatlah tidak bermoral untuk menjual perasaan takut mati, bila pada hari pembebasan mereka di Teheran, empat tentara Inggris lainnya tewas di Basra, selatan Irak. Bagi anggota keluarga tentara yang tewas, itu ibaratnya seperti tamparan telak. Tak ada yang berminat untuk mengetahui nasib mereka. Sedangkan Faye Turney, mantan sandera di Iran itu mengantongi uang dalam jumlah besar.

Tentara lain dari ke-15 bekas sandera itu tidak menjual kisah mereka. Mereka lebih bijaksana dari pimpinan militer mereka. Kalau Menteri Pertahanan Browne kemudian menarik kembali ijin yang diberikannya sendiri, dan melarang dilakukannya wawancara berikutnya, tidaklah menyelesaikan masalah. Nasi sudah jadi bubur. Dugaan terburuk datang dari harian "Independent": kalau angkatan laut Inggris mendorong tentara yang disandera itu untuk memberikan wawancara, tentunya timbul pertanyaan apakah isinya sudah diatur?

Secara keseluruhan inti pembeberan tentara Inggris itu dapat dipercaya. Tetapi kalau Faye Turney menceritakan kepada harian "The Sun" bahwa ia mendengar orang menggergaji kayu dan memukul palu dan mengira peti mati bagi mereka sedang disiapkan, kedengarannya seperti dongeng yang menyeramkan dan bukan realita. Realita yang pastilah sudah cukup pahit.

Pada akhirnya kisah tentara Inggris yang dibebaskan dari tahanan mereka di Iran menambah kepahitan akhir masa jabatan Tony Blair. Blair terutama gagal dalam politiknya di Irak. Sering dilupakan, bahwa ke-15 anggota marinir yang ditahan di Iran adalah juga bagian dari angkatan bersenjata Inggris di Irak. Kisah mereka pun ikut mempermalukan pemerintahan Blair.

Iklan