Massa Mengamuk Pasca Eksekusi Tibo | Fokus | DW | 22.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Massa Mengamuk Pasca Eksekusi Tibo

Eksekusi hukuman mati terpidana kasus konflik Poso, Fabianus Tibo cs sempat memancing aksi protes dan kerusuhan di beberapa wilayah.

Kegiatan misa untuk mendoakan Tibo Cs.

Kegiatan misa untuk mendoakan Tibo Cs.

Ribuan orang dari dalam dan luar Kota Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, berdemonstrasi dengan memblokir jalan Trans Sulawesi dan membakar ban-ban bekas. Kemarahan massa baru bisa diatasi setelah pemuka agama turun ke jalan menenangkan amukan massa.

Di Atambua Nusa Tenggara Timur, asal ketiga narapidana, aktivitas sehari-hari wargapun sempat terhenti. Massa simpatisan Tibo sempat mengamuk dengan merangsek dan membakar beberapa gedung. Rumah dinas Kepala Kejaksaan Negeri Belu dibakar dan kantor kejaksaan porak poranda. Penjara Atambua tak luput dari amukan. Seorang pemuda yang mengikuti aksi menyatakan aksi dilakukan sebagai bentuk protes atas hukuman mati yang dijatuhkan pada Tibo cs.

Massa simpatisan Tibo membobol penjara Atambua, yang menyebabkan 190 narapidananya kabur. Kepala Kepolisian Nusa Tenggara Timur Robertus Sadarum mengatakan, status keamanan NTT berada dalam kondisi Siaga 1.

"Kita catat daftar mereka ada semua. Mereka yang ada resiko tinggi di luar kita prioritaskan. Karena kita harus melindungi mereka semua, supaya tak ada balas dendam. Mereka keluar malah gak selamat. Setelah itu baru kita cari. Sementara ini kami himbau mereka untuk kembali ke Lapas.”

Tak hanya di Kupang dan Atambua, aparat disiagakan penuh di kawasan Maumere dan Ende. Di Maumere, ratusan warga berunjuk rasa di sekitar kantor kejaksaan. Massa juga berkumpul di beberapa titik lokasi lainnya. Sekolah memulangkan lebih awal anak didiknya sementara kantor-kantor tutup. Maria Mathildis Banda, redaktur harian Pos Kupang menerangkan:

"Mereka menyesali proses hukum yang terjadi. Mengapa ada permohonan dan harapan banyak pihak untuk meninjau putusan pengadilan Tibo cs tidak diperhatikan. Masih seputar itu. Sama seperti sebelum mereka di eksekusi. Sekolah pulang lebih awal, kantor-kantor juga. Orang berpikir jangan sampai ada kerusuhan.“

Ketiga terpidana mati kasus konflik Poso dieksekusi Jumat (22/09) dini hari di Desa Poboya, Palu Selatan. Jenazah Fabianus Tibo dan Marinus Riwu kini sudah diserahkan kepada pihak keluarga di Desa Nuha, Luwu Timur.

Jenazah Tibo akan disemayamkan di Beteleme. Sementara Marinus Riwu di Jamur Jaya, desa transmigrasi yang terletak tak begitu jauh dari Beteleme. Sedangkan prosesi pemakaman Dominggus da Silva, dilakukan petugas di Desa Poboya, Palu Selatan. Tibo, Dominggus, dan Marinus sejak awal persidangan selalu membantah terlibat kerusuhan Poso III.

Mereka menyatakan datang ke Poso pada tanggal 22 April 2000 dari kampung mereka di Beteleme, Kabupaten Morowali, 250 km dari Poso, hanya untuk menolong puluhan anak-anak sekolah St Theresia Poso beserta para guru, suster dan pastor yang tengah berada dalam kepungan massa. Tibo dkk divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Palu pada 5 April 2001. Tiga kali mereka mengajukan grasi dan dua kali peninjaunan kembali, namun kesemuanya ditolak.

Sebelumnya Tibo sempat menyodorkan 16 nama yang diduga terkait kerusuhan Poso di tahun 2000. Hingga ketiga terpidana menemui ajal, belum terdapat titik terang dalam pengungkapan konflik yang telah menewaskan ratusan orang tersebut.

  • Tanggal 22.09.2006
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CJah
  • Tanggal 22.09.2006
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CJah