1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Masjid Baru di Erfurt, Ujian Toleransi bagi Thüringen

17 Februari 2026

Negara bagian Thüringen di timur Jerman sejak lama dianggap sarang ekstrem kanan. Di sana, kini berdiri sebuah masjid megah bagi minoritas Islam Ahmadiyah. Namun sejarah pembangunannya dipenuhi kisah kebencian.

https://p.dw.com/p/58rKn
Masjid Mahmud  di Erfurt, Thüringen.
Masjid Mahmud milik jemaat Ahmadiyah di Erfurt, Thüringen.Foto: Paul-Philipp Braun/epd/IMAGO

"Cinta untuk Semua, Kebencian untuk Tak Seorang Pun,” demikian tertulis di fasad bangunan masjid itu. Di sampingnya berdiri menara kecil setinggi delapan meter. Kalimat tersebut menjadi prinsip dasar jemaah Ahmadiyah, yang pada Sabtu (14/2) musim dingin nan menggigit itu meresmikan masjid mereka di pinggiran kota Erfurt.

Bangunan ini merupakan masjid pertama yang dibangun di negara bagian Thüringen—juga yang pertama di wilayah bekas Jerman Timur di luar Berlin.Sejarah pembangunannya, dengan caranya sendiri, juga berkisah tentang kebencian. Selama lebih dari sepuluh tahun, jemaah merencanakan rumah ibadah lengkap dengan ruang salat, menara, serta sebuah apartemen kecil untuk imam. Namun, penolakan dan aksi berulang kali terjadi terhadap proyek yang berdiri di kawasan industri itu. Beberapa perusahaan konstruksi dari sekitar lokasi bahkan berkali-kali membatalkan pekerjaan yang sudah disepakati, sering kali secara mendadak.

Masjid Mahmud di Erfurt, Thüringen.
Masjid Mahmud milik jemaat Ahmadiyah di Erfurt, Thüringen.Foto: Paul-Philipp Braun/epd/IMAGO

Peresmian dalam pengamanan polisi

Pada malam peresmian, di seberang kompleks Ahmadiyah, tampak seorang demonstran tunggal berdiri di dekat dua mobil polisi. Dia memegang poster yang memperingatkan tentang "kampanye penaklukan” Eropa oleh kaum Islamis. Hingga larut malam, patroli polisi melintas hampir setiap menit di jalan-jalan sekitar.

Wakil Ketua Bundestag, Bodo Ramelow—yang sebagai perdana menteri Thüringen konsisten mendukung proyek ini dan tinggal tak jauh dari lokasi—mengingatkan kembali berbagai protes dan insiden dalam sambutannya. Dia menyebut kepala babi yang dilemparkan ke lokasi pembangunan dan salib-salib protes yang dipasang. "Itu bukan salib Kristen,” ujar politikus dari Partai Kiri yang juga anggota gereja Protestan. "Itu salib milik gerakan identitas.” 

Penolakan terhadap pembangunan masjid kerap dipanaskan oleh kalangan populis dan ekstrem kanan. Dalam pemilihan parlemen negara bagian 2024, cabang lokal partai Alternative für Deutschland (AfD) yang dipimpin Björn Höcke meraih hampir sepertiga suara. Dinas intelijen domestik berencana mengklasifikasikan cabang AfD di Thüringen sebagai organisasi "terbukti ekstrem kanan”. Keputusan itu kini digugat AfD ke pengadilan.

Kehadiran politik dan masyarakat dalam acara peresmian terasa kontras. Selain Ramelow, hadir pula Wali Kota Erfurt Andreas Horn (CDU) serta dua pendahulunya sejak 1990—masing-masing dari CDU dan SPD.

Masjid Ekologis Memberi Teladan Manajemen Air Cerdas

"Ini juga tanah air Anda”

Tokoh-tokoh agama juga hadir: Ketua Komunitas Yahudi Thüringen, Reinhard Schramm, serta para uskup Gereja Protestan dan Katolik. Penerus Ramelow sebagai Perdana Menteri, Mario Voigt (CDU), menyampaikan pesan melalui video. "Thüringen juga tanah air Anda,” ujarnya kepada umat Ahmadiyah.

Baik Ramelow, Uskup Protestan Friederike Spengler, maupun Wali Kota Horn sama-sama menekankan pentingnya hidup berdampingan antaragama di Erfurt dan arti kebebasan beragama bagi masyarakat. Sekitar 70 persen dari 220 ribu penduduk kota ini tidak berafiliasi dengan komunitas agama mana pun. Namun wajah kota—tempat biarawan muda Martin Luther belajar sejak 1501—tetap ditandai deretan gereja.

Ramelow mengingatkan, Erfurt adalah satu-satunya kota di mana pada masa Jerman Timur berdiri sebuah sinagoga Yahudi yang baru dibangun. Reinhard Schramm (81), di sela acara, menyebut Erfurt sebagai "model kecil bagi Jerman”. Menurutnya, relasi antaragama dan keterlibatan pemerintah kota patut menjadi teladan—baik bagi komunitas Ahmadiyah yang relatif kecil maupun bagi kelompok Yazidi. "Dalam hal ini, Thüringen jauh lebih baik daripada reputasinya,” ujarnya.

Ahmadiyah sendiri merupakan kelompok minoritas dalam Islam. Gerakan ini lahir sebagai gerakan pembaruan hampir 140 tahun lalu di wilayah yang kini menjadi Pakistan. Mayoritas kaum muslim memandang jemaat Ahmadiyah secara kritis. Di Pakistan, mereka menghadapi penindasan: serangan, perusakan masjid, bahkan pembunuhan.

Ketua Ahmadiyah Jerman, Abdullah Wagishauser, menyinggung sejarah penganiayaan itu saat memuji penerimaan di Jerman dan Erfurt. Jerman, katanya, memiliki konstitusi dan "polisi yang bisa dipercaya”. Di Pakistan, "segala sesuatu berjalan dengan uang pelicin”. Di ruang acara, tampak pula perwakilan kepolisian Erfurt.

Arsitektur Islam Eropa Diabadikan dalam Buku Foto

Dalam pidatonya, Wagishauser juga menyiratkan kekecewaan terhadap pernyataan-pernyataan yang meminggirkan Muslim di Jerman. Dia mengingatkan bahwa sopir taksi muslim yang pada Maret 2025 di Mannheim menghadang pelaku tabrakan maut—yang menewaskan dua orang dan melukai sebelas lainnya—adalah seorang Ahmadi berkewarganegaraan Jerman.

Salat harian, protes mingguan

Menurut Wagishauser, sekitar 60 ribu Ahmadi tinggal di Jerman dengan lebih dari 80 masjid. Di Thüringen, komunitas kecil ini berjumlah sedikit di atas 100 anggota. Imam setempat, Kamal Ahmad (37), mengatakan kadang 30 orang datang salat, kadang hanya sepuluh. Dia juga menyebut, hingga kini setiap Senin masih ada demonstran yang berdiri di depan kompleks.

Ahmad menempuh jejak hidup yang umum di kalangan Ahmadiyah Jerman. Saat berusia sembilan tahun, dia dan keluarganya melarikan diri dari Pakistan akibat persekusi. Dia menyelesaikan sekolah dan menjadi angkatan pertama yang mengikuti pendidikan imam internal komunitas di Darmstadt, dalam bahasa Jerman.

Kini Ahmad menempati apartemen kecil di kompleks baru itu. Menurut keterangan komunitas, total biaya pembangunan mencapai sekitar 1,4 juta euro, melalui proses panjang sejak 2018 hingga 2025. Ruang salatnya seluas 120 meter persegi, dengan menara setinggi delapan meter. Bahkan papan reklame besar toko bangunan di dekatnya—"kuil konsumsi”, seloroh Ramelow—menjulang jauh lebih tinggi.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid