Masih Belum Jelas Nasib Keanggotaan Georgia di NATO | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 06.05.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Masih Belum Jelas Nasib Keanggotaan Georgia di NATO

Presiden Georgia sejak dulu ingin agar negaranya jadi anggota NATO. NATO pernah berjanji akan memulai prosedur penerimaan Georgia. Sejak konflik antara Georgia dan Rusia Agustus 2008, banyak anggota NATO mulai ragu.

Presiden Georgia Mikheil Saakashvili (kanan) bersama mantan Sekjen Jaap de Hoop Scheffer

Presiden Georgia Mikheil Saakashvili (kanan) bersama mantan Sekjen Jaap de Hoop Scheffer

Sampai sekarang, NATO belum memulai prosedur penerimaan keanggotaan yang disebut Membership Action Plan. Menjelang latihan militer Georgia dengan NATO, Presiden Saakashvili berulangkali mengeluarkan pernyataan provokatif ke arah Rusia.

Ada beberapa hal yang membuat NATO ragu. Georgia masih punya masalah teriritorial dengan kawasan yang memisahkan diri, yaitu Abkasia dan Ossetia Selatan. Sebagian besar anggota NATO juga tidak ingin menyulut sengketa dengan Rusia. Berulangkali Rusia menegaskan tidak setuju, jika Georgia masuk NATO. Sedangkan pemerintah Georgia dan Presiden Mikheil Saakashvili berpendapat, negara itu perlu masuk NATO secepat mungkin. Jika tidak, Georgia tidak akan punya peluang menghadapi ancaman dari Rusia, yang oleh pemerintah Georgia disebut-sebut sebagai ‚agresor’. Pemerintah beranggapan, kalau saja dulu Georgia sudah menjalani Membership Action Plan, yaitu prosedur keanggotaan NATO, Rusia Agustus tahun 2008 lalu tidak akan berani menyerang Georgia.

Wakil Menteri Luar Negeri Georgia Nino Kalandadze mengatakan, "Rusia melihat, ada ketidaksepakatan di antara anggota NATO dan Uni Eropa, jadi ini dilihat sebagai kelemahan. Tapi Rusia juga akan memperhatikan, jika diperingatkan dan diancam dengan konsekuensi. Rusia hanya akan bertindak sejauh orang masih membiarkannya. Tapi kalau ada tanda stop, itu akan diperhatikan.“

Sejak beberapa minggu terakhir, Presiden Georgia Mikheil Saakashvili berulangkali menegaskan, Georgia perlu militer yang kuat. Ia juga menyatakan bahwa militer Georgia cukup tangguh dalam perang dengan Rusia. Kalangan oposisi di Georgia meminta Presiden Saakashivili agar menghentikan pernyataan-pernyataan provokatifnya. Davit Usupasshvili dari kelompok oposisi “Aliansi untuk Georgia” mengatakan, “Georgia terlalu kecil dan lemah untuk bisa menjalankan politik yang mandiri terhadap Rusia. Jadi pernyataan-pernyataan Saakashvili dalam beberapa tahun terakhir, yang tujuannya untuk mengecam Rusia, seakan akan ia seorang demokratbtulen dan Putin seorang diktator abad ke-19, atau bahwa militer Georgia lebih hebat dan punya perlengkapan lebih baik daripada militer Rusia, semua itu harus diakhiri.“

Sejak hampir sebulan para demonstran di Tiblisi menuntut Presiden Saakashvili agar meletakkan jabatannya. Mereka menuduh presiden memerintah dengan otoriter, merongrong lembaga peradilan dan membatasi kebebasan pers. Para demonstan menilai, Georgia belum layak jadi anggota NATO sebab belum demokratis. Anggota kelompok oposisi dari Partai Konservatif, Kacha Kukava, mengutip pernyataan Sekretaris Jendral NATO yang lama, Jaap de Hoop Scheffer. „Sekretaris jendral NATO, Jaap de Hoop Scheffer, dan beberapa kepala negara dengan tegas meyatakan, Georgia tidak perlu pembaruan militer, tidak perlu persenjataan baru, yang diperlukan pembaruan demopkratis. Ini kunci menuju keanggotaan Georgia di NATO.“

Tapi kubu oposisi di Georgia tetap ingin agar negara itu berintegrasi dengan struktur negara-negara Barat. Sebab bagi sebagian besar masyarakat, NATO tidak hanya berarti keamanan, namun juga kesejahteraan. Banyak orang yang merindukan kehidupan yang lebih baik. Dalam sebuah referendum yang digelar tahun 2008 lalu, lebih 70 persen penduduk Georgia setuju negaranya masuk NATO. Tapi banyak warga yang sekarang menilai, NATO tidak terlalu peduli lagi dengan Georgia.

Gesine Dornblueth/Hendra Pasuhuk

Editor: Dewi Gunawan-Ladener