1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Masalah Kesehatan Hambat Pengadilan Khmer Merah

Robert Carmichael24 Januari 2013

Pengadilan Kamboja menjadwal ulang pengadilan tiga mantan pemimpin Khmer Merah, setelah dua di antara mereka sakit. Dikhawatirkan problem kesehatan itu akan mengganggu proses pengadilan.

https://p.dw.com/p/17Qov
Pengadilan Khmer MerahFoto: picture-alliance/dpa

Risiko terbesar dalam mengadili para mantan pemimpin Khmer Merah adalah faktor usia. Para terdakwa kejahatan perang itu sudah berumur di atas delapan puluh tahun. Ada di antara mereka yang meninggal dunia sebelum proses pengadilan usai, ada pula yang kesehatannya semakin memburuk sehingga tidak memungkinkan diajukan ke persidangan. Mau tidak mau, proses persidanganpun terulur-ulur.

Ini pula yang terjadi dengan salah satu dari empat tersangka yang tahun lalu disidangkan. Tribunal internasional memerintahkan pelepasan mantan menteri sosial Ieng Thirith (80 tahun), karena perempuan itu diyakini mengidap Alzheimer.

Untuk mengatasi masalah ini, Majelis Luar Biasa Pengadilan Kamboja (ECCC) membagi kasus kompleks ke segmen-segmen yang lebih kecil: pengadilan kecil, yang didisain untuk mengatasi sedikit demi sedikit pengadilan genosida, kejahatan perang dan kejahatan melawan kemanusiaan.

Pengadilan kecil pertama dimulai tahun 2011 dan masih berjalan hingga kini. Pengadilan itu memproses kasus kejahatan kemanusiaan yang menyangkut pemindahan massa, yakni evakuasi para penduduk kota-kota di Kamboja ke kawasan pinggiran dan kota-kota dimana Khmer Merah berkuasa pada tahun 1975. Rakyat dipaksa untuk pindah ke kawasan lain di mana mereka diharuskan menjadi buruh tani dan berkerja membangun irigasi.

Puluhan ribu orang diyakini meninggal dunia pada masa-masa itu. Jumlah itu hanya sebagian dari dua juta korban tewas akibat kebrutalan Khmer Merah.

Rawat Inap

Nuon Chea atau yang dikenal dengan sebutan Kakak Nomer 2, masuk rumah sakit pada tanggal 13 Januari lalu. Pria 86 tahun ini dianggap sebagai pendoktrin ideology dibalik kebrutalanan Khmer Merah. Peristiwa masuknya Nuon Chea ke rumah sakit memicu perhatian. Apalagi, tiga hari sesudahnya, giliran terdakwa lain, Khieu Samphan (81 tahun) menjalani rawat inap di rumah sakit, akibat kelelahan dan kesulitan bernafas.

Tanggal 21 January 2013, pengacara internasional yang mewakili Nuon Chea, Victor Koppe, mengatakan kepada pihak persidangan bahwa kesehatan kliennya semakin memburuk. Sementara juru bicara pengadilan, Lars Olsen, mengatakan, ”Tidak ada penjelasan mengenai kondisi mereka.” Dipaparkannya lebih lanjut, “Mereka masih diobservasi di rumah sakit, pengadilan akan mengadakan dengar pendapat terkait dengan dokumen kasus tersebut, meski mereka tidak dapat hadir di pengadilan.”

Orang Ketiga

Satu-satunya terdakwa yang tak dirawat di rumah sakit adalah mantan menteri luar negeri Ieng Sary, namun di usianya yang ke-87 ia terlihat sangat rapuh. Pengacara internasionalnya Michael Karnavas menjelaskan, kliennya tak mampu meneruskan proses persidangan karena alasan kesehatan.

Pada akhir Maret nanti, tribunal internasional ingin menggelar dengar pendapat mengenai kesehatan terdakwa. Karnavas ingin agar pengadilan memutuskan bahwa Ieng Sari tak cukup layak dari segi kesehatan untuk menjalani persidangan. Ia mengatakan, “Bukanlah salah klien kami bahwa di usianya yang beranjak ke 88 tahun memiliki beragam penyakit. Kami mengajukan masukan bahwa ia tidak mampu untuk dipersidangkan.”

Harapan yang Terbatas

Dalam sidang pertama, Kasus 001, tribunal menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada mantan kepala penjara Kamerad Duch, atas perannya yang menyebabkan kematian lebih dari 12 ribu orang di penjara S-21 di Phnom Penh.

Tampak kemunduran dari proses pertama persidangan mini yang disebut sebagai kasus 002/1 akan digegas hingga akhir tahun ini. Setelah itu para hakim harus beristirahat sebelum mengambil keputusan. Dalam persidangan di Belanda, mereka menghabiskan waktu hingga delapan bulan untuk menentukan vonis. Namun kasusnya sendiri lebih mudah, singkat dan terdakwanya kooperatif. Akan tetapi itu tak serupa dengan kasus 002/1. Dalam kasus ini terdakwa membantah tuduhan melakukan genosida, kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan.

Penasihat hukum yang bekerjasama dengan Pusat Dokumentasi di Kamboja, Anne Heindel mengatakan dampak hilangnya terdakwa akan sangat signifikan untuk mengusut peristiwa yang terjadi antara tahun 1975-1979 di Kamboja. Dikatakannya “Jika kita kehilangan para terdakwa di dua kasus ini, maka peran mereka tak akan lagi didiskusikan. Jika kita kehilangan semua tertuduh maka tak akan ada penghukuman.“

Meski kedua terdakwa masuk rumah sakit, tribunal berharap dapat menyelesaikan pengadilan kecil yang pertama dengan menyidangkan ketiga terdakwa tersebut di pengadilan. Hasil pemerikasan medis pekan ini menimbulkan keraguan cukup serius, apakah dengan demikian tujuan terbatas itu dapat dicapai.