1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ma'ruf Amin Debat Sandiaga Mulai Soal Susu Hingga TKA

17 Maret 2019

Kiai yang awalnya diragukan bakal mampu menandingi Sandiaga Uno itu dinilai berpenampilan solid. Di media sosial pendukung pasangan calon nomer urut 01 merayakan Ma'ruf Amin yang dinilai menguasai masalah.

https://p.dw.com/p/3FDQq
Indonesien - Dr Ma'ruf Amin
Foto: picture-alliance/AP Images/Singapore Press

Awalnya KH. Ma'ruf Amin diragukan bakal mampu menandingi Sandiaga Uno di arena debat. Namun dalam forum adu gagasan cawapres 2019 kali ini ketua Majelis Ulama Indonesia itu justru dinilai berpenampilan baik.

Forum debat antara lain mengetengahkan isu pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya.

Baca juga:Ma'ruf Amin vs. Sandiaga Uno. Siapa Lebih Unggul? 

Berbeda dengan debat capres sebelumnya, Ma'ruf Amin kali ini tampil lebih agresif dengan melancarkan sejumlah serangan ke arah cawapres Sandiaga Uno. "Sedekah Putih," program peningkatan gizi balita yang direncanakan Prabowo-Sandiaga dinilainya „tidak berpengaruh pada stunting."

"Sedekah putih seperti yang banyak dipahami diberikan setelah masa menyusui. Padahal ancaman stunting itu 1000 hari pertama sejak hamil sampai disusui, yaitu dengan pemberian asupan yang cukup, dan melalui sanitasi dan air bersih, serta susu ibu selama dua tahun," kata dia. "Apalagi diberikan setelah 2 tahun, maka tidak lagi berpengaruh mencegah stunting," imbuh Ma'ruf.

Sandiaga menjawab ujaran sang kiai dengan mengisahkan pengalaman istrinya saat melahirkan putra bungsu di usia 42 tahun. Namun ASI untuk Sulaiman terhenti di bulan ke enam.  "Banyak yang alami kasus serupa, di situlah kami ingin mengajak para kontributior dan penyedia susu untuk membantu agar gizi ibu dan masalah stunting itu."

Tidak terkesan dengan jawaban tersebut, Ma'ruf Amin menjawab dengan membeberkan pencapaian pemerintah menurunkan angka stunting dari 37,8% pada 2013 menjadi 30,8% pada 2018. "Stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi sosial dan masalah gizi," kata dia.

Baca juga: Ma'ruf Amin: Apa Alasan Sandiaga Dilabeli Ulama?

Sandiaga sebaliknya mencoba menyerang Ma'ruf dengan isu Tenaga Kerja Asing yang menurutnya "jumlahnya semakin banyak dan menyisihkan WNI untuk mendapatkan pekerjaan."

Hal ini dijawab Ma'ruf dengan menganjurkan Sandiaga agar melihat data statistik." Tenaga kerja asing di Indonesia terkendali. Yang ada jumlahnya di bawah 0,01 persen. Dan itu adalah paling rendah di seluruh dunia. Lihat datanya," ujarnya.

Meski demikian Sandiaga Uno membukukan satu poin ketika membacakan pernyataan tertutup. Menyidir Ma'ruf Amin yang memamerkan rencana pemerintah membuat tiga kartu tambahan untuk pelajar, ibu-ibu dan pengangguran, Sandi mengajak pendukung mengeluarkan Kartu Tanda Penduduk dari dompet masing-masing.

"Silakan keluarkan dompet kita semua. Cukup keluarkan satu kartu, yaitu KTP. Ini super canggih, semua fasilitas layanan dan Rumah Siap Kerja bisa diberikan. Di dalam KTP ini memiliki teknologi dengan big data, single identity number. Semua fasilitas ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan, semua ada di sini. PKH kita tambah PKH plus di dalam program yang hanya membutuhkan KTP ini," kata dia yang diikuti tepuk tangan pendukung

Sandiaga mendulang kritik lantaran bersikeras merencakan program Oke Oce di tingkat nasional, meski belum membuahkan hasil berarti di DKI Jakarta. Namun begitu menurut politisi Partai Demokrat, Andi Arief, Sandiaga tampil lebih menguasai masalah, ketimbang Ma'ruf Amin yang dianggapnya "menghafal jawaban", tulisnya di Twitter.

Bekas Wakil Gubernur DKI Jakarta itu membawa beban elektabilitas ketika menghadapi Debat Cawapres kali ini. Menurut hasil jajak pendapat Saiful Mujani Research Consulting yang dirilis beberapa jam sebelumnya, Jarak perolehan suara antara pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno semakin melebar hingga melampaui 25 persen.

Berdasarkan survei nasional yang melibatkan 2820 responden pada Februari-Maret, dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf mencapai 57,6 persen sementara dukungan pada Prabowo-Sandi Uno belum bergerak dari kisaran 31,8 persen. Belum jelas bagaimana hasil debat kali ini mengubah persepsi masyarakat atas kedua cawapres.

rzn/ap (dari berbagai sumber)