Maraknya Bom Bunuh Diri di Pakistan | Fokus | DW | 31.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Maraknya Bom Bunuh Diri di Pakistan

Banyaknya peledakan bom bunuh diri baru-baru ini di Pakistan meyakinkan pemerintah bahwa Pakistan telah menjadi sasaran teroris terorganisir.

Presiden Pakistan Musharraf

Presiden Pakistan Musharraf

Dalam empat hari ke belakang terjadi tiga bom bunuh diri dan dua serangan roket besar yang mengakibatkan 30 korban tewas. Sebagian besar korban tewas adalah anggota kepolisian dan aparat keamanan. Walau pun kejadian-kejadian tersebut bertepatan dengan hari raya penting kaum Syiah Asyura, pengamat yakin serangan tersebut memiliki maksud lain.

Konflik antar etnis yang terjadi di sepanjang perbatasan Pakistan-Afganistan dan kekecewaan terhadap dukungan Presiden Musharraf atas Amerika Serikat dalam perang melawan teror, membuat partai politik yang berbasis agama tak mampu lagi mengendalikan kaum ekstremis.

Aliansi partai-partai agama, MMA, yang merupakan bagian koalisi pemerintah, berupaya melakukan razia terhadap sekolah-sekolah agama, namun gagal. Kelompok-kelompok radikal dengan ideologi ekstremis semakin marak. Presiden Pervez Musharraf mengutuk aksi kekerasan yang terjadi dan mengimbau warga Pakistan untuk tetap tenang dan bersatu. Dalam pidatonya, Musharraf mengatakan:

"Kami juga melihat kemungkinan keterlibatan pihak asing dalam serangan-serangan ini. Mereka yang bertanggung jawab merupakan pihak yang sesat. Jika mereka melakukannya atas nama Islam, itu merupakan kesalahan yang lebih besar lagi karena mencoreng nama baik agama perdamaian."

Presiden Musharraf juga mendesak warga Pakistan untuk bekerja sama dengan aparat hukum untuk memberi informasi mengenai unsur-unsur ekstremis yang bersembunyi. Menteri Dalam Negeri Pakistan Syed Kamal Shah mendukung imbauan Presiden dengan menyatakan:

"Serangan bunuh diri semacam itu dapat dicegah aparat hukum jika mereka memiliki informasi lebih dulu. Sekali mereka melakukan aksinya, mereka tidak akan berhenti jika tidak tidak ada korban jatuh."

Pakistan kini sedang mengalami konflik dalam negeri. Tapi hal tersebut juga diakibatkan dari perubahan yang terjadi di dunia. Para pengamat memperingatkan perang antar kelompok di Irak dapat menyebar ke Pakistan dan khawatir hal itu telah dimulai. Jurnalis senior dan pengamat politik Pakistan Najam Sethi mengungkapkan:

"Kami selalu menghadapi konflik antara kaum Syiah dan Suni di Pakistan namun gabungan kelompok seperti Al Qaida dan anti Amerika kini juga menjadi ancaman. Jika Pakistan tidak mengubah kebijakannya, mempopulerkan undang-undang dan membentuk aliansi domestik guna mendesak mundur Islam politis, kami akan mendapatkan masalah."

Menurut Sethi, Pakistan dapat saja menggunakan cara demokrasi saat ini. Partai politik besar non agama dapat berada di posisi yang lebih baik untuk menghalau pengaruh kaum radikal. Tapi tentu saja Presiden Musharraf harus bekerja sama dengan mereka. Lebih lanjut Najam Sethi berkomentar:

"Presiden Musharraf bergantung pada kekuatan. Dia membentuk aliansi dengan partai agama dan sekarang menjadi bumerang. Pemilihan berikutnya harus bebas dan adil, itu sangat penting. Dia memerlukan dukungan yang lebih besar dalam melawan kebangkitan Islam politis."

Kebangkitan ekstremisme Islam di Pakistan memiliki hubungan sejarah yang sangat erat dengan Afghanistan. Di tahun 1980an, Pakistan mendukung Afghanistan dalam melawan pendudukan Uni Soviet. Hal itu memicu ideologi agama yang secara tak terduga berkembang menjadi ekstremisme setelah serangan Amerika Serikat ke Afganistan tahun 2001.

Maraknya serangan bom bunuh diri dan berbagai serangan lainnya di Pakistan merupakan gambaran ideologi ekstrem tersebut. Menurut jurnalis Pakistan terkemuka, Ghazi Salahuddin, serangan bom bunuh diri dan pihak yang berada di balik layarnya merupakan proses politik yang mendapatkan dukungan uang dan fasilitas. Ghazi Salahuddin menyarankan Pakistan untuk menciptakan masyarakat plural dengan nilai toleransi tradisional dan kebebasan serta meningkatkan kualitas aparat hukum.

Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shaukat Aziz secara keras menyatakan, kamp pengungsi Afghanistan di Pakistan merupakan ancaman keamanan dan menjadi ladang subur terorisme. Dalam pertemuannya dengan wakil Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Brussel, Aziz meminta bantuan internasional untuk memberi pemukiman pada tiga juta pengungsi Afghanistan.