Mampukah Pakistan ′Jinakkan′ Taliban? | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 15.07.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Pakistan

Mampukah Pakistan 'Jinakkan' Taliban?

Otoritas di Islamabad berharap kekacauan yang melanda Afganistan di tengah penarikan pasukan NATO tidak akan berdampak luas sampai ke Pakistan. Namun, para ahli menyebut Pakistan mungkin tidak akan dapat mencegahnya.

Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi: 'Kami tidak punya favorit' di Afghanistan

Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi:

Penarikan pasukan NATO dari Afganistan telah membuat situasi keamanan di negara itu semakin memburuk. Taliban telah mengintensifkan serangannya terhadap pasukan pemerintah dan telah merebut sebagian besar wilayah dalam beberapa bulan terakhir.

Pakistan yang berbatasan sepanjang 2.611 km dengan Afganistan juga tampaknya terkena dampak dari menguatnya ekspansi Taliban, terutama dengan keberadaan Taliban Pakistan yang disebut sebagai Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), yang beroperasi di wilayah barat laut negara itu. Dinamika yang berubah di Afganistan membuat anggota kelompok militan TTP menjadi lebih berani meski telah dipukul mundur oleh tentara Pakistan. Sejak awal tahun, TTP telah mengklaim bertanggung jawab atas 32 serangan di Pakistan.

Juru bicara militer Pakistan, Mayor Jenderal Babar Iftikhar pada Sabtu memperingatkan, potensi perang saudara di Afganistan dapat meluas ke Pakistan. "Kami menyadari [situasi ini] dan telah mengambil beberapa langkah untuk menghadapinya. ‘Islamic State' (ISIS), TTP, dan afiliasinya menggunakan pangkalan mereka di Afganistan untuk merencanakan dan melancarkan serangan terhadap angkatan bersenjata Pakistan,” katanya.

Namun dalam pernyataannya kepada DW, juru bicara Taliban Afganistan, Zubiullah Mujahid membantah pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa mereka "tidak akan mengizinkan kelompok mana pun menggunakan tanah Afganistan untuk melancarkan serangan ke negara lain.”

"Kami tidak memiliki hubungan dengan TTP. Kami tidak akan menjadi bagian dari rencana apapun untuk menargetkan negara lain, karena itu akan merusak kredibilitas kami,” ujarnya.

Pedang bermata dua

Pakistan telah lama dituduh membantu Taliban melawan pemerintahan Presiden Ashraf Ghani. Para ahli mengatakan alasan utama di balik dukungan ini adalah untuk melawan pengaruh India di Afganistan. Kini dengan kepergian pasukan NATO, Islamabad berharap dapat mengembalikan pengaruhnya yang hilang di Afganistan sejak jatuhnya rezim Taliban pada tahun 2001.

Islamabad sebelumnya memainkan peran penting dalam negosiasi AS-Taliban, yang menghasilkan kesepakatan antara kedua belah pihak pada Februari 2020. Islamabad berharap kesepakatan itu akan membuka jalan bagi kesepakatan tentang pembagian kekuasaan antara berbagai pemangku kepentingan di Afganistan. Namun, pengumuman mendadak tentang penarikan sepenuhnya pasukan AS dan tanpa syarat oleh Presiden AS Joe Biden membuat hal tersebut tampak mustahil.

Selain itu, hengkangnya pasukan NATO ditambah menguatnya ekspansi Taliban juga telah menempatkan Afganistan di ambang perang saudara. 

"Jika [perang saudara] terjadi, maka itu akan menjadi akhir bagi Afganistan,” kata Ahmed Rashid, seorang ahli Afganistan terkemuka kepada DW. Menurut Rashid, Taliban juga tidak akan menjalin dialog dengan pemerintahan di bawah presiden Ashraf Ghani "selama militer dan intelijen Pakistan masih terus memberi mereka perlindungan.”

"Jika Pakistan ingin menunjukkan ketulusannya, mereka perlu segera memaksa para pemimpin Taliban untuk berkompromi atau meninggalkan tempat perlindungan mereka di Quetta atau di Peshawar,” jelas Rashid.

Menurut Ayesha Siddiqa, seorang analis keamanan dan pakar urusan strategis, para jenderal militer Pakistan kini tengah dilanda "kebingungan dan dilema antara berharap dapat mengendalikan Taliban dan kesadaran bahwa tidak semua hal berada di bawah kendali mereka.”

Masuknya pengungsi dan risiko keamanan

Kekhawatiran lain paling mendesak bagi Pakistan adalah kemungkinan masuknya pengungsi dari Afganistan. Para milisi TTP yang melarikan diri ke Afganistan setelah operasi militer di Pakistan "berpotensi masuk kembali ke Pakistan dengan menyamar sebagai pengungsi,” kata Moeed Yusuf, Penasihat Keamanan Nasional Pakistan. Laporan PBB tahun lalu menyatakan bahwa lebih dari 6.000 milisi TTP telah mengungsi di Afganistan.

Meski Pakistan telah memagari perbatasan Afganistan-Pakistan untuk mencegah masuknya TTP sejak 2015, analis Siddiqa mengatakan hal itu tidak cukup mengamankan perbatasan. "TTP adalah perpanjangan dari Taliban Afganistan. Oleh karena itu, Pakistan perlu bernegosiasi dengan mereka. Penggunaan kekerasan terhadap mereka yang melintasi pagar hanya akan memperburuk keadaan,” jelasnya.

Islamis Pakistan menjadi lebih berani

Lebih jauh, Siddiqa menilai "ada risiko kekerasan sektarian dan peran yang lebih besar bagi proksi militan di Pakistan.”

Saat pasukan NATO mulai meninggalkan Afganistan, beberapa ulama dan kelompok Islam yang bersimpati kepada Taliban Afganistan dituduh menggalang upaya untuk mengumpulkan dukungan bagi kelompok militan itu. Video yang tersebar di sosial media Pakistan menunjukkan para ulama mempromosikan dukungan bagi Taliban Afganistan dan meminta sumbangan.

Taliban Afganistan sejatinya dilarang di Pakistan, namun beberapa ulama atau kelompok Islam yang bersimpati kepada kelompok militan itu diketahui merekrut anggota atas nama mereka.

Maria Sultan, seorang analis pertahanan Pakistan, mengatakan Islamabad seharusnya tidak memihak dalam konflik internal Afganistan.

"Pakistan dapat melawan ancaman TTP, tapi itu tergantung pada jenis pemerintahan apa yang muncul di Afganistan. Jika Taliban memilih pemerintahan yang inklusif, kelompok militan lain harus memperebutkan ruang di Afganistan. Tapi jika mereka mengecualikan kelompok etnis lain, maka perang saudara dimungkinkan terjadi,” katanya.

Para ahli mengatakan bahwa jika terjadi perang saudara, negara-negara tetangga Afganistan, termasuk Pakistan sudah pasti akan menghadapi konsekuensi negatif, dan tidak akan mudah bagi siapapun untuk mengatasi situasi tersebut. (gtp/as)

Laporan Pilihan