1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Mampukah Merz-Erdogan Pulihkan Relasi Jerman-Turki?

31 Oktober 2025

Kanselir Jerman Friedrich Merz akan bertandang ke Turki untuk menemui Presiden Recep Tayyip Erdogan. Dengan gejolak geopolitik di dunia, mampukah kedua negara menyudahi perselisihan lama dan merajut kerja sama?

https://p.dw.com/p/52qSM
Pertemuan Merz dan Erdogan di Albania, 16 Mei 2025
Pertemuan Merz dan Erdogan di Albania, 16 Mei 2025Foto: Apaimages/SIPA/picture alliance

"Fokus utamanya adalah pertemuan bilateral dengan Erdogan.” Itulah yang disampaikan oleh juru bicara pemerintah Jerman, Steffen Meyer, pada Senin (27/10) dalam konferensi pers di Berlin, menjawab pertanyaan seputar kunjungan kanselir ke Turki pada hari Rabu hingga Kamis minggu ini.

Meyer menyebut kunjungan tersebut sebagai kunjungan resmi Kanselir Friedrich Merz, menambahkan kunjungan tersebut akan disertai agenda kecil lainnya.

Di panggung internasional, kedua pemimpin sudah beberapa kali bertemu secara singkat sejak Merz menjabat, misalnya pada bulan Mei di Tirana, Albania. Turki merupakan sekutu penting NATO yang belum berhasil menjadi anggota di Uni Eropa (UE).

Sejarah pertemuan bilateral Jerman-Turki

Kanselir Federal Olaf Scholz telah melakukan kunjungan serupa pada Maret 2022, setelah hampir tiga bulan menjabat. Angela Merkel, sebelumnya, mengunjungi Istanbul dan Ankara pada 2006, setelah 11 bulan menjabat sebagai kanselir.

Ketiga kanselir ini menggambar satu kesamaan, yakni Jerman membutuhkan Turki, meski dengan latar belakang politik yang berbeda. Merkel, misalnya, kunjungannya menekankan penanganan gelombang pengungsi di tahun 2015. Kunjungan Scholz dilatarbelakangi invasi Rusia atas Ukraina yang dimulai Februari 2022, sedang Merz lebih kepada peran penting yang bisa dimainkan Ankara sebagai mediator dalam perang Ukraina maupun konflik Gaza.

Sangat kontras dengan Helmut Kohl, Kanselir Jerman dari tahun 1982 hingga 1998 yang baru mengunjungi Turki setelah hampir tiga tahun menjabat. Penggantinya, Gerhard Schröder, yang memimpin Jerman dari 1998 hingga 2005, bahkan menunggu lima setengah tahun sebelum kunjungan pertamanya.

Melihat 20 tahun ke belakang, masih ada kontroversi yang alot dan belum selesai: permohonan keanggotaan UE yang diajukan pada 1999. Jerman selalu melihat permohonan ini secara kritis dan itulah yang membuat Ankara kesal. Negosiasi resmi baru dimulai pada 2005, tetapi terhenti hingga kini.

"Kondisi politik Jerman terhadap Turki telah berubah,” kata peneliti di Pusat Studi Turki Terapan SWP, Yasar Aydin. Kini, hubungan Berlin dan Ankara berkembang menjadi "hubungan pragmatis dan transaksional”. Hubungan ini didasarkan pada logika geopolitik dan kekuasaan.

Titik awal perubahan, menurut Aydin, ada pada "kesepakatan pengungsi” yang dibuat Kanselir Merkel pada 2016, yang saat itu menurunkan tensi perdebatan publik Jerman. Kemudian muncul tantangan geopolitik lainnya seperti perang Ukraina.

"Ini adalah hubungan saling memberi dan menerima,” kata Aydin. Hubungan ini telah "bergerak menuju simetri”. Berbeda dengan masa Kanselir Kohl, yang selalu menjalankan kebijakan pertahanan yang restriktif terhadap Turki, kini ada pendekatan yang lebih terbuka terhadap Ankara.

Apa yang dapat diberikan Merz pada Erdogan?

Aydin menekankan simbolisme kekuasaan. Pada Senin (27/10), Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berada di Ankara. Ia tidak bertemu dengan perwakilan partai oposisi Cumhuriyet Halk Partisi (CHP) yang secara ideologis memiliki kemiripan dengan partai sosial-demokratnya. Sebagai gantinya, Starmer dan Erdogan menandatangani kesepakatan dengan Turki membeli 20 Eurofighter dari Inggris.

Aydin juga menyoroti peran Jerman sebagai negara terbesar UE dengan lebih dari tiga juta migran Turki dan sebagai pasar utama produk-produk Turki. Erdogan berharap akan adanya modernisasi kesepakatan bea cukai dengan UE.

Dari sisi politik Eropa dan pengaruh Ankara akan imigran Turki di Jerman, partai Merz, CDU dan CSU selalu bersikap kritis terhadap kebijakan Turki. Pembatasan hak-hak demokratis dan penindasan terhadap oposisi kian meningkatkan skeptisme tersebut. Menlu sebelumnya, Annalena Baerbock dari Partai Hijau, yang menjabat hingga awal Mei lalu kerap melayangkan kritik keras atas Turki, memicu kemarahan Ankara.

Fokus pada ekonomi, migrasi, dan keamanan

Dalam kunjungan Merz, menurut juru bicara pemerintah di Berlin, kanselir akan berfokus pada penguatan kerja sama di bidang ekonomi, migrasi, dan keamanan. Tantangan yang terjadi saat ini.

Sebelas hari sebelum kunjungan Kanselir Jerman, Menteri Luar Negeri Johann Wadephul (CDU) telah melakukan kunjungan resmi ke Ankara. Kunjungan Wadephul ini turut mempersiapkan kehadiran Merz di Ankara.

Menteri Luar Negeri Jerman dalam kunjungannya menekankan pentingnya Turki sebagai mitra penting dan sekutu NATO. Topik utamanya adalah situasi di Gaza dan perang Rusia melawan Ukraina. Kritik publik hampir tidak terdengar.

Mengutip Wadephul dalam siaran televisi Jerman, ARD, yang menginginkan kemajuan dalam hubungan UE-Turki. "Kami ingin pembaruan kesepakatan bea cukai, kami ingin liberalisasi visa. Secara keseluruhan, kami ingin agenda yang positif.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizky Nugraha