Microsoft Deteksi Malware Destruktif Menginfeksi Puluhan Situs Web Pemerintah Ukraina | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 17.01.2022

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Serangan Siber

Microsoft Deteksi Malware Destruktif Menginfeksi Puluhan Situs Web Pemerintah Ukraina

Raksasa teknologi Amerika Serikat (AS), Microsoft, memperingatkan keberadaan malware berbahaya di puluhan komputer pemerintah Ukraina. Sementara itu, Kiev menuding Rusia atas serangan siber besar-besaran pekan lalu.

Menurut Microsoft, malware yang ditemukan di komputer pemerintah Ukraina dapat digunakan untuk membuat perangkat yang terinfeksi tidak beroperasi

Menurut Microsoft, malware yang ditemukan di komputer pemerintah Ukraina dapat digunakan untuk membuat perangkat yang terinfeksi tidak beroperasi

Pakar keamanan Microsoft telah menemukan malware di puluhan komputer pemerintah Ukraina. Malware tersebut terbukti lebih merusak daripada yang diperkirakan pada awalnya, kata perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu pada Sabtu (15/01) malam.

Dalam postingan blog mereka, Microsoft mengatakan bahwa malware pertama kali terdeteksi pada hari Kamis (13/01), bertepatan dengan serangan siber besar-besaran yang melumpuhkan sekitar 70 situs web pemerintah.

Malware itu menyamar sebagai ransomware atau perangkat pemeras, tetapi tujuan sebenarnya kemungkinan untuk menghancurkan data atas perintah peretas, kata Microsoft.

Ukraina juga mengumumkan pada hari Minggu (16/01) bahwa mereka memiliki "bukti" jika Rusia berada di balik serangan hari Kamis (13/01) itu.

Beberapa pengamat juga menilai bahwa serangan peretasan itu adalah awal dari invasi Rusia.

"Semua bukti menunjukkan bahwa Rusia berada di balik serangan siber. Moskow terus mengobarkan perang hibrida dan secara aktif membangun kekuatannya di informasi dan dunia maya," kata Kementerian Pengembangan Digital Ukraina, Minggu (16/01).

Apa yang dikatakan Microsoft?

"Malware, yang dirancang agar terlihat seperti ransomware tetapi tidak memiliki mekanisme pemulihan pembayaran, dimaksudkan untuk merusak dan dirancang untuk membuat perangkat yang ditargetkan tidak dapat dioperasikan daripada untuk mendapatkan uang pembayaran," ungkap Microsoft dalam pernyataannya.

Raksasa teknologi itu tidak dapat mengatakan siapa yang berada di balik serangan itu, tetapi memperingatkan bahwa dampak terhadap perangkat yang terpengaruh bisa lebih dari yang diperkirakan semula.

"Tim investigasi kami telah mengidentifikasi malware pada puluhan sistem yang terkena dampak dan jumlah itu dapat bertambah seiring penyelidikan kami berlanjut," katanya.

Dilansir kantor berita Reuters, pejabat keamanan Ukraina Serhiy Demedyuk mengatakan bahwa malware yang digunakan oleh penyerang mirip dengan yang digunakan oleh intelijen Rusia.

Namun, Moskow telah berulang kali menolak tuduhan apa pun yang berhubungan dengan serangan siber.

Sejarah agresi Rusia terhadap Ukraina

Serangan siber sebelumnya terhadap infrastruktur Ukraina telah dikaitkan oleh Kiev dan pakar keamanan siber Barat dengan peretas Rusia.

Pada tahun 2017, Rusia menargetkan Ukraina dengan virus NotPetya, yang juga menyamar sebagai ransomware tetapi akhirnya menghapus data dari seluruh jaringan. Itu adalah salah satu serangan siber yang paling merusak dalam sejarah, dengan kerugian tercatat mencapai lebih dari US$10 miliar (Rp140 triliun).

Peretas Rusia juga nyaris merusak jalannya pemilihan umum Ukraina pada tahun 2014 dan melumpuhkan bagian-bagian jaringan listrik selama musim dingin tahun 2015 dan 2016.

AS memperingatkan pada hari Jumat (14/01) bahwa Rusia sedang merencanakan operasi kambing hitam di Ukraina yang berpotensi untuk membenarkan invasi. Sekitar 100.000 tentara Rusia telah dikumpulkan di dekat perbatasan Ukraina.

Kelompok separatis yang didukung Rusia di wilayah Ukraina timur telah memerangi pemerintah Kiev sejak tahun 2014, tahun yang sama ketika Rusia mencaplok Semenanjung Krimea.

rap/hp (dpa, AP, AFP)

Laporan Pilihan