Malaysia Protes Kiriman Asap Indonesia | Fokus | DW | 10.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Malaysia Protes Kiriman Asap Indonesia

Setiap tahun di musim kemarau, negara jiran Malaysia selalu mengeluhkan kiriman asap yang berasal dari kebakaran hutan di Indonesia. Dan setiap tahunnya pemerintah gagal mengantisipasi musim kemarau.

Asap dari kebakaran hutan.

Asap dari kebakaran hutan.

Sekelompok orang dari Partai Aksi Demokratik Malaysia berdemonstrasi di depan Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur. Dalam aksinya partai yang beroposisi terhadap pemerintahan Malaysia tersebut menyerahkan petisi yang menuntut Indonesia agar mengambil langkah kongkret guna menanggulangi asap. Demikian menurut keterangan Kepala Bidang Penerangan KBRI Malasysia, Eka Soeripto. Dikatakannya,

Soeripto: “Sebertulnya mereka menyampaikan petisi mengenai imbas dari kebakaran hutan di Indonesia. Jadi mereka menerima asap ya. Jadi mereka memprotesnya. Dan mereka berharap, bahwa pemerintah mengambil tindakan untuk segera menangani kebakaran hutan ini.”

Malaysia memang kerap mengeluhkan kiriman asap tebal dari Indonesia. Menurut Soeripto, hal tersebut dapat dipahami karena kebakaran hutan di Indonesia adalah fenomena tahunan. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pemerintah Malaysia pun telah mengajukan nota keberatan terhadap Indonesia. Sekretaris Jendral Partai Aksi Demokratik Malaysia, Lim Guan Eng mengatakan, pemerintah Indonesia tidak memiliki cukup komitmen untuk menanggulangi kebakaran hutan di wilayahnya. Lim Guan Eng,

Guan Eng: “Kami rasa, pemerintah Indonesia tidak memiliki komitmen untuk menanggulangi masalah ini. Seingat saya, Indonesia belum melakukan langkah-langkah yang kongkret. Yang paling penting, kalau terjadi kebakaran, Indonesia seharusnya menghubungi negara-negara tetangga untuk meminta kerja sama dalam menangani kebakaran tersebut. Tapi yang kita lihat, mereka sangat santai saja. Pemerintah Indonesia tidak mau mengambil langkah yang pro-active, yang agressiv untuk melenyapkan kebakaran ini. Itu yang kita sesali”

Menurut data yang dikeluarkan Badan Lingkungan Hidup Singapura, kualitas udara per hari di kawasan sudah mencapai kondisi yang paling buruk, meskipun tidak separah tahun lalu. Dari 51 monitor kualitas udara yang disebar di malaysia, tidak satu pun menunjukkan kualitas udara dalam keaaan baik. Lim Guan Eng, dari Partai Aksi Demokratik Malaysia menyatakan, di Malaysia kini sudah jatuh tiga korban jiwa akibat penyakit pernapasan. Tidak hanya itu, angka keluhan gangguan pernafasan di Malaysia dilaporkan meningkat menjadi 200 kasus setiap harinya, dari sebelumnya 50 kasus.

Kini terdapat desakan kepada pemerintah Indonesia agar meminta bantuan negara-negara tetangga melalui forum ASEAN. Usulan yang sama juga diungkapkan oleh Sekretaris Jendral Partai Aksi Demokratik Malaysia, Lim Guan Eng. Eng mengatakan,

Guan Eng: “Tahun lalu, kami telah menyampaikan usulan. Karena kami sadar, bahwa dari segi sumber dan kemampuan, sangat sulit bagi Indonesia untuk menanggulangi masalah ini. Kami usulkan kepada Indonesia untuk menggunakan satelit. Kalau kita gunakan itu viusal satelite, kita bisa tahu di mana terjadi kebakaran. Nah, setelahnya Indonesia harus berkoordinasi dengan Malaysia. Lalu kami akan kirimkan alat pemadam kebakaran. Kalau kita tangani masalah ini bersama, saya rasa kita sedikit banyak menanggulangi maslah ini ”

Memang usulan untuk mengajak ASEAN ikut menanggulangi masalah asap sudah sering disampaikan sejak tahun lalu. Melalui kerja-sama semacam itu pula kebakaran asap di indonesia tahun lalu bisa ditanggulangi. Akan tetapi, seperti tidak pernah belajar dari pengalaman, pemerintah Indonesia tahun ini terkesan lambat dalam mengambil langkah-langkah konkret yang akan ditempuh guna menanggulangi kebakaran hutan.

  • Tanggal 10.10.2006
  • Penulis Nugraha/Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CJa9
  • Tanggal 10.10.2006
  • Penulis Nugraha/Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CJa9