Makna 91 Tahun Sumpah Pemuda dalam Merawat Persatuan Indonesia | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 28.10.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sumpah Pemuda

Makna 91 Tahun Sumpah Pemuda dalam Merawat Persatuan Indonesia

Tepat 91 tahun lalu, pada tangal 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda diikrarkan dalam Kongres Pemuda II. Sumpah ini dianggap sebagai semangat menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Indonesien Jakarta | Amtseinführung von Präsident Joko Widodo und sein Vizepräsident Ma'ruf Amin (Getty Images/AFP/D. Krishnadhi)

Parade bendera Indonesia sepanjang 200 meter

Sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober merupakan tonggak utama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sumpah ini dianggap sebagai semangat menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia, yakni ikrar bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu bahasa Indonesia.

Sumpah pemuda yang diikrarkan oleh para pemuda di zaman itu seperti M. Yamin, Sugondo Djojopuspito, Amir Sjarifuddin, Johanes Leimena, dan WR Soepratman memuat banyak nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai seperti sikap patriotisme, gotong-royong, persatuan dan kesatuan, cinta damai, serta tanggung jawab.

Namun di zaman teknologi dan informasi seperti sekarang ini, Sumpah Pemuda juga bisa dimaknai dalam konteks perubahan dunia yang begitu cepat akibat kemajuan teknologi dan informasi itu sendiri.

Rohaniawan Benny Susetyo, atau yang akrab disapa Romo Benny, berpendapat bahwa generasi muda saat ini butuh memaknai nasionalisme dalam konteks digital untuk menghadapi berbagai perubahan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pihak Litbang Kompas, sebanyak 83 persen pemuda Indonesia yakin dapat menjaga keutuhan NKRI.

"Peranan kaum muda ke depan mampu untuk mengaktualisasikan nilai persatuan dan keragaman dalam mewujudkan nilai Pancasila khusus merawat ingatan akan kemajemukan," ujar Romo Benny saat diwawancarai DW Indonesia, Senin (28/10).

Menurutnya, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi pemuda saat ini, antara lain yaitu rendahnya budaya literasi dan membaca. "Ini mengakibatkan kultur kebohongan menjadi bagian cara berpikir, bertindak, perilaku dalam menyebarluaskan kebohongan yang menggunakan sara," terang Romo Benny.

Lebih lanjut, menanggapi banyaknya aksi generasi muda turun ke jalan untuk berdemo mengkritik kebijakan pemerintah akhir-akhir ini, Romo Benny yang juga merupakan Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menganggap itu wajar selama dilakukan tanpa kekerasan.

"Generasi muda menjadi penggerak perubahan dengan membangun kultur kritis dan tetap menjaga moralitas bangsa," jelasnya kepada DW Indonesia.

"Demonstrasi sebagai  gerakan moral adalah kewajaran dalam  membangun kultur demokrasi asal dilakukan tanpa kekerasan," Romo Benny menambahkan.

Baca jugaMari Berbahasa Indonesia dan Nasionalisme Yang Bertanggung Jawab

Kuburkan politik identitas

Generasi 28 seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Syahrir, menurutnya bisa menjadi inspirasi generasi muda saat ini  dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan menyesuaikan sarana yang ada saat ini.

"Ke depan generasi muda belajar dari generasi 28 yang mampu menyatukan bangsa ini dengan cerdas mengubur politik indentitas," jelas Romo Benny.

"Dibutuhkan generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme dengan mengarusutamakan kemajemukan dan kekuatan teknologi memperkokoh persatuan," pungkasnya.

Sementara itu Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dalam upacara memperingati hari Sumpah Pemuda bersama dengan jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mengingatkan perlu kesetaraan untuk menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Ia pun menilai tantangan terbesar pemuda saat ini bukanlah menciptakan persatuan melainkan merawat pesatuan.

"Tantangan terbesar kita adalah merawat persatuan. Persatuan harus diusahakan, harus dirawat. Untuk bisa bersatu syaratnya, ini kata kunci yang selalu saya katakan, tidak ada persatuan dalam ketimpangan, saya ulangi, tidak ada persatuan dalam ketimpangan," tegas Anies dilansir Detiknews.

Baca jugaSumpah Pemuda di Eropa: Saya Indonesia!

Berani maju

Sementara itu dalam upacara memperingati Hari Sumpah Pemuda di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Menteri Nadiem Makarim berpesan agar generasi muda berani melangkah maju di tengah perkembangan zaman.

"Kawan-kawan pemuda jangan menunggu dunia berubah, dunia ada di tanganmu, asal kita berani melangkah kita tak akan pernah kalah," ujar Nadiem dalam dilansir Detiknews.

Nadiem merupakan menteri termuda di Kabinet Indonesia Maju dan termasuk dari generasi millenial. Sebagai menteri, ia pun mengimbau anak muda untuk tidak takut gagal.

"Kawan-kawan pemuda. Dengarkan saya, satu-satunya kegagalan adalah kalau kita diam di tempat, dan satu-satunya kesuksesan kalau kita terus melangkah ke depan," katanya.

rap/ae (Detiknews, Kompas, tirto.id)

Laporan Pilihan