Mahfud: OPM Manfaatkan Momentum Jokowi di Luar Negeri untuk Cari Perhatian | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 01.11.2021

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Papua

Mahfud: OPM Manfaatkan Momentum Jokowi di Luar Negeri untuk Cari Perhatian

Menko Polhukam Mahfud MD menilai aksi KKB di Papua selalu mengambil momentum menarik perhatian internasional. Terlebih saat Presiden Jokowi berada di luar negeri.

Menko Polhukam Mahfud MD

Mahfud MD mengatakan pemerintah menggelar rapat soal Papua hari Senin (01/11) ini

Menko Polhukam Mahfud MD menyoroti aksi kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua dan mengikuti perkembangan terbaru, termasuk seruan Keuskupan Timika agar ada gencatan senjata TNI-Polri dengan Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka/TPN-OPM.

"Selaku Menko Polhukam saya juga mengikuti terus perkembangan termasuk seruan keuskupan Timika dan LBH Papua. Saya juga terus memantau update terkini dari Polri, TNI, dan BIN," kata Mahfud kepada wartawan, Senin (01/11).

Mahfud mengatakan selama ini TNI-Polri sudah melakukan tindakan terukur demi mencegah korban jiwa dari masyarakat sipil. Namun kata Mahfud, OPM selalu menjadikan masyarakat sipil sebagai tameng.

"Saya juga minta aparat Polri-TNI melakukan tindakan terukur agar tidak terjadi korban masyarakat sipil. Sebenarnya, seperti masyarakat tahu, Polri dan TNI sudah sangat berhati-hati melindungi warga sipil. Tapi seperti anda tahu OPM itu selalu menyerang dari belakang dan menjadikan warga sipil sebagai tameng dan korban," ujarnya.

OPM ambil momentum di saat tertentu

Mahfud kemudian menyebut OPM selalu mengambil momentum untuk menarik perhatian luar negeri. Salah satunya, kata Mahfud, saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) berada di luar negeri untuk menghadiri agenda internasional.

"Kesan kami, OPM itu selalu mengambil momentum untuk menarik perhatian luar negeri. Saat ini Presiden sedang di luar negeri dan bertemu dengan tokoh-tokoh G20. Nah OPM memanfaatkan momentum itu. Padahal di lembaga-lembaga internasional yang resmi, masalah separatisme Papua tidak pernah diagendakan. Dunia internasional melihat Papua seperti melihat daerah-daerah lain misalnya masalah penyelamatan lingkungan hidup dan kesejahteraan rakyat, bukan soal disintegrasi," tuturnya.

Mahfud mengatakan pemerintah akan menggelar rapat membahas soal Papua pagi ini (01/11) yang akan dipimpin oleh Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin.

"Kami terus berkoordinasi melalui kantor Wapres. Sebenarnya penanganan yang rutin sudah ada yang standar atau prosedurnya. Tapi secara khusus, Senin pagi jam 8.30 kita akan rapat di bawah pimpinan Wapres. Baik berdasar Perpres No 19/20 maupun UU Nomor 2 tahun 2021 terkait Dewan Papua," jelasnya.

Buntut kejadian setelah seruan gencatan senjata di Papua

Sebelumnya, 36 imam (pastor) Gereja Katolik Keuskupan Timika, Papua, menyerukan segera dilakukan gencatan senjata antara aparat TNI-Polri dengan pihak TPN-OPM. Gencatan senjata diharapkan mengakhiri konflik bersenjata yang berkepanjangan di Kabupaten Intan Jaya, Papua.

"Mengingat konflik bersenjata di Kabupaten Intan Jaya (wilayah Keuskupan Timika) dan beberapa tempat lain di Papua yang menyebabkan begitu banyak korban, termasuk anak kecil dan juga berakibat pada pengungsian masyarakat sipil dalam skala besar, maka para Pastor Projo Keuskupan Timika-demi kewajiban kami untuk praktikkan hak asasi manusia, berseru kepada kedua belah pihak yang sedang berperang (TNI-Polri dengan TPN-OPM) agar segera mengadakan gencatan senjata dan memulai dialog untuk mendatangkan damai sejahtera yang lestari," kata Pastor Agustinus S Elmas, membacakan seruan di Rumah Transit Bobaigo Keuskupan Timika seperti dilansir dari Antara, Minggu (31/10).

Ketua Unio, yaitu organisasi para imam/konfrater Diosesan Keuskupan Timika, Pastor Dominikus Dulione Hodo Pr menyebutkan seruan itu tercetus lantaran adanya masalah urgen yang sementara sedang terjadi di Sugapa, ibu kota Kabupaten Intan Jaya dan sekitarnya.

Pastor Dominus bercerita pada 11 Oktober lalu, rombongan Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, Administratur Keuskupan Timika Pastor Marthin Kuayo Pr dan sejumlah imam tiba di Bilogai, Sugapa, Kabupaten Intan Jaya untuk menghadiri penahbisan tiga imam baru.

Namun, dia menyayangkan, setelah kegiatan tersebut situasi di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya kembali bergejolak.

"Rasa tenteram dan damai yang kami rasakan saat itu sekejap hilang lenyap lantaran beberapa waktu terakhir terjadi baku tembak antara TNI-Polri dengan TPN-OPM, dan itu terjadi di tengah kota," ujar Pastor Dominikus.

Buntut dari kejadian itu, beberapa bangunan terbakar dan dua orang anak kecil terkena luka tembak, satu di antaranya meninggal dunia. Adapun dua pastor yang bertugas di Bilogai, Intan Jaya yaitu Pastor Yance Yanuarius Yogi dan Pastor Frans Sondegau yang baru ditahbiskan pada 12 Oktober lalu, ikut secara langsung membantu menolong warga yang rumahnya terbakar di dekat Bandara Sugapa beberapa hari lalu.

Terbaru, KKB membakar kantor Airnav di kawasan Bandara Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Pembakaran terjadi Sabtu (30/10) sekitar pukul 16.00 WIT. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Saat ini karyawan-karyawan instansi negara itu sudah mengungsi ke gereja.

Sebelum membakar, gerombolan bersenjata itu sempat terlibat kontak tembak dengan personel yang tergabung dalam Satgas Pengamanan Daerah Rawan dari Batalion Infantri 501/BY dan Satgas Belukar. Karena terdesak, gerombolan bersenjata itu membakar kantor Airnav Bandara Sugapa. (Ed: ha/rap)

 

Baca selengkapnya di: DetikNews

Mahfud: OPM Manfaatkan Momentum Jokowi di Luar Negeri untuk Cari Perhatian

Laporan Pilihan