1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Petugas kesehatan Cina di Beijing
Beijing di era kebijakan nol-CovidFoto: THOMAS PETER/REUTERS
KesehatanCina

Lonjakan Infeksi Hantui Cina Usai Pelonggaran Pandemi

8 Desember 2022

Ketika pelonggaran terbesar sejak pandemi mulai berlaku di Cina, warga saling mengimbau untuk tetap waspada. Analis meyakini otoritas kesehatan tidak memiliki kapasitas untuk merespons ledakan jumlah kasus penularan.

https://p.dw.com/p/4KeEY

Tiga tahun sejak pandemi dimulai, aksi protes warga Cina sepanjang bulan November memaksa Beijing menyesuaikan kebijakan nol-Covid-19 miliknya dengan negara lain di dunia. Alhasil, pembatasan pandemi di berbagai kota mulai melunak.

Puncaknya adalah ketika Otoritas Kesehatan Nasional (NHC) mengumumkan pelonggaran pandemi secara nasional, Rabu (7/12) kemarin.

Sejak itu, pusat-pusat hiburan dan wisata kebanjiran pesanan tiket, lapor media pemerintah. Netizen juga lebih berani mengaku terinfeksi Covid-19, tanpa harus mengkhawatirkan jemputan aparat keamanan.

Meski begitu, sebagian penduduk tetap merawat kewaspadaan.

"Saya tahu Covid tidak lagi menakutkan. Tapi virusnya masih menular dan memicu penyakit,” tulis seorang pengguna di Weibo, platform media sosial Cina. "Rasa takut di hati kami tidak bisa dengan mudah dihilangkan.”

"Ada terlalu banyak kasus positif,” timpal pengguna lain.

China loosens nationwide COVID-19 restrictions

Minim kapasitas 

Cina melaporkan 21.439 kasus infeksi baru pada Rabu (7/12). Pada 27 November silam, angka penularan harian mencapai lebih dari 40.000 kasus. Jumlah infeksi saat ini menyusut drastis seiring kebijakan pemerintah mengurangi kewajiban tes secara nasional.

Rencana pembangunan laboratorium Covid-19 di berbagai wilayah juga dibatalkan pemerintah Cina, lapor harian pelat merah Shanghai, The Paper.

Sejumlah analis dan pakar kesehatan mengatakan Cina tidak punya kapasitas untuk merespons ledakan jumlah kasus penularan. Penyebabnya adalah antara lain rendahnya tingkat vaksinasi di kalangan lansia dan rapuhnya sistem kesehatan nasional.

"Cina mungkin harus membayar mahal karena telat menerapkan pendekatan lunak untuk hidup dengan Covid,” menurut laporan Nomura, sebuah jasa konsultan asal Jepang. Saat ini, status imun baru berlaku untuk hanya 0,13% penduduk, "Jauh dari level yang dibutuhkan untuk mencapai kekebalan kelompok,” lanjut perusahaan tersebut.

Cegah Penyebaran Virus dengan Mendeteksi dari Air Limbah

Hidup dengan virus

Feng Zijian, bekas kepala Pusat Pengendalian Penyakit mengatakan kepada harian China Youth Daily bahwa hingga 60 persen populasi Cina bisa tertular pada tsunami infeksi pertama. "Pada akhirnya, sekitar 80 sampai 90 persen penduduk akan terinfeksi,” kata dia.

Sebanyak 5.235 kasus meninggal dunia terkait Covid-19 di Cina tergolong kecil dibandingkan populasinya yang mencapai 1,4 miliar manusia. Angka tersebut juga jauh lebih rendah dari rata-rata global. 

Analis mewanti-wanti, angka kematian bisa mencapai 1,5 juta kasus jika pelonggaran dilakukan secara terburu-buru.

Namun begitu, sebagian warga bersedia menerima risiko infeksi demi kembalinya kehidupan normal. "Tidak mungkin untuk bisa memusnahkan virus ini, mungkin kita harus hidup bersamanya dan berharap virus ini akan berevolusi menjadi flu biasa,” kata Yan, seorang pengangguran berusia 22 tahun di Beijing. rzn/yf (rtr,ap)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait