PBB: Lockdown Akibat Corona Bukan Jawaban Untuk Atasi Laju Pemanasan Global | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 11.07.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Lingkungan

PBB: Lockdown Akibat Corona Bukan Jawaban Untuk Atasi Laju Pemanasan Global

Badan Meteorologi Dunia di bawah PBB menyatakan bahwa perlambatan industri dan ekonomi akibat COVID-19 bukanlah jawaban atas tuntutan tindakan iklim yang berkelanjutan dan terkoordinasi.

Dua perempuan membawa bakul air di India (DW/H. Joshi)

Gambar ilustrasi kekeringan dan pemanasan global

Dalam sebuah pernyataan, Badan Meteorologi Dunia di bawah PBB yaitu WMO memprediksi bahwa dalam satu dari lima tahun mendatang, suhu di dunia kemungkinan akan meningkat 1,5 derajat Celsius lebih tinggi bila dibandingkan suhu rata-rata masa sebelum industrialisasi.

Prediksi tersebut memperhitungkan variasi alam serta pengaruh manusia terhadap iklim dalam memberikan perkiraan suhu, curah hujan, pola angin dan variabel lain selama lima tahun mendatang. Namun prediksi ini tidak mempertimbangkan perubahan dalam emisi gas rumah kaca dan aerosol sebagai akibat dari kebijakan penguncian atau lockdown akibat wabah corona.

“WMO telah berulang kali menekankan bahwa perlambatan industri dan ekonomi akibat COVID-19 bukanlah jawaban atas tindakan iklim yang berkelanjutan dan terkoordinasi. Masa aktif CO2 di atmosfer sangat lama, karenanya dampak penurunan emisi tahun ini diperkirakan tidak akan mengarah pada pengurangan konsentrasi atmosfer CO2 yang mendorong kenaikan suhu global,” ujar Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas, dalam pernyataan pers yang diumumkan minggu lalu.

Lebih lanjut, Petteri Taalas mengatakan bahwa wabah Covid-19 telah menyebabkan krisis internasional yang parah di bidang kesehatan dan ekonomi. Karena itu, kegagalan dalam mengatasi perubahan iklim dapat mengancam kesejahteraan manusia, ekosistem dan ekonomi selama berabad-abad.

“Pemerintah harus menggunakan kesempatan untuk merangkul aksi iklim sebagai bagian dari program pemulihan dan memastikan bahwa kita dapat kembali pulih dan menjadi lebih baik,” ujar Taalas.

Tantangan iklim kian berat

WMO yang bermarkas di Jenewa, Swiss, pun mengungkapkan bahwa saat ini suhu rata-rata bumi sudah meningkat lebih dari 1,0 derajat Celsius bila dibandingkan dengan periode sebelum era industrialisasi. Periode lima tahun terakhir ini adalah lima tahun terhangat yang pernah tercatat.

“Studi ini menunjukkan … adanya tantangan besar ke depan dalam memenuhi target Perjanjian Perubahan Iklim Paris untuk menjaga kenaikan suhu global pada abad ini di bawah 2 derajat Celcius, di atas tingkat praindustri dan upaya membatasi peningkatan lebih jauh lagi menjadi 1,5 derajat Celsius,” ujar Petteri Taalas.

Dalam pernyataannya, WMO mengungkapkan sejumlah prakiraan yang mungkin terjadi selama periode 2020 hingga 2024. Salah satunya yaitu hampir semua wilayah, kecuali bagian dari lautan di selatan, akan cenderung lebih hangat daripada masa lalu. Selain itu, anomali akibat tekanan permukaan laut memicu kemungkinan wilayah Atlantik Utara untuk mengalami fenomena memiliki angin barat yang lebih kuat yang berakibat pada lebih banyak badai di Eropa Barat.

Sementara di tahun 2020, banyak bagian di Amerika selatan, Afrika selatan dan Australia cenderung menjadi lebih kering, sedangkan wilayah Arktik kemungkinan akan menghangat lebih dari dua kali lipat rata-rata global.

ae/yp (World Meteorological Organization)