Lima Tahun Pasca Pembantaian Massal Siswa Sekolah di Erfurt | dunia | DW | 26.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Lima Tahun Pasca Pembantaian Massal Siswa Sekolah di Erfurt

Tanggal 26 April 2002 tidak akan terlupakan oleh warga Erfurt juga masyarakat Jerman. Saat di mana siswa-siswi Gutenberg Gymnasium menempuh ujian terjadi penembakan amok di sekolah menengah umum tersebut.

Gutenberg-Gymnasium Erfurt

Gutenberg-Gymnasium Erfurt

Rumput dan tanaman lavendel tumbuh dengan asri di halaman sekolah, diantaranya terlihat bangku-bangku taman. Pemandangan yang teduh di sekolah menengah umum Gutenberg-Gymnasium di Erfurt. Lima tahun berlalu sejak terjadinya serangan. Demikian istilah yang dipakai direktur sekolah tersebut Christiane Alt untuk pembunuhan amok

“Itu adalah serangan bagi kami. Dan jika orang bertanya apa sebenarnya tindakan brutalitas yang terencana dan menewaskan 16 korban. Orang bisa mengatakan itu pembunuhan massal.”

Tidak hanya halaman sekolah tapi juga bangunan depan sekolah dirombak setelah peristiwa serangan tersebut. Dari luar tampaknya normalitas sudah kembali di sekolah menengah umum di ibukota negara bagian Thüringer itu. Tapi mereka yang mengalami peristiwa tanggal 26 April di Erfurt lima tahun lalu, tidak mengenal lagi normalitas

Christiane Alt : “Ini artinya pada suatu hari mereka dapat kembali ke kegiatan sehari-hari, yang bagi orang yang tidak mengalaminya disebut kehidupan normal. Tapi kejadian itu begitu besar pengaruhnya sehingga normalitas yang ada menjadi lain.”

Baru tiga tahun setelah kejadian sekitar 600 murid dan 60 guru kembali ke aktivitas belajar mengajar di Gutenberg Gymnasium. Langkah ini penting bagi semua

Christiane Alt: “Sasaran yang kami miliki dibicarakan oleh dewan sekolah beberapa jam setelah serangan terjadi. Sasaran utama kami adalah kembali ke gedung ini, mempertahankan sekolah di kota ini.”

Di tembok luar sekolah dipasang prasasti dari logam dimana tertera nama para korban tewas, yang terdiri dari para guru, polisi juga murid secara alfabetis. “Dikaitkan dengan harapan masa depan tanpa kekerasan” Demikian antara lain terbaca dari rangkaian tulisan diatasnya.

Viktor Liebrentz adalah juru bicara kementerian kebudayaan negara bagian Thüringer. Ia menjawab semua pertanyaan pers tentang insiden tersebut juga secara pribadi. Dalam peristiwa penembakan amok lima tahun lalu ia kehilangan istrinya, seorang guru yang lebih cepat meninggalkan masa istirahat melahirkan agar dapat membimbing para murid untuk persiapan ujian akhirnya di Gutenberg Gymnasium.

Warga Erfurt ibaratnya mengenal langsung orang-orang yang menjadi korban penembakan amok atau mereka yang mengalami langsung peristiwa tersebut. Banyak yang masih mengalami trauma karenanya. Dan mereka yang tidak mengalami langsung ingin melupakan kejadian mengerikan yang pernah terjadi di kotanya. Demikian dikatakan psikolog Alina Wilms

“Erfurt adalah kota yang indah, dimana orang dapat hidup baik dan tenang, dan penduduk merasa, pembunuhan keji di kotanya sebagai noda oleh sebab itu tidak suka jika tema itu dibicarakan.”

Iklan