Libya Hukum Mati Perawat Bulgaria dan Dokter Palestina | Fokus | DW | 20.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Libya Hukum Mati Perawat Bulgaria dan Dokter Palestina

Pengadilan Libya memvonis mati lima perawat Bulgaria dan seorang dokter Palestina, dengan tuduhan menginfeksi anak-anak dengan virus Aids di rumah sakit Benghazi.

Para perawat yang divonis mati

Para perawat yang divonis mati

Sekarang harapan terakhir keenam terdakwa hanya tinggal Mahkamah Tertinggi. Sebelumnya sampai detik terakhir pihak pembela mengharapkan putusan bebas, karena tidak tampak peluang perubahan hukuman mati menjadi hukuman penjara.

Saat ini mereka harus menunggu alasan keputusan yang baru akan dikeluarkan kira-kira satu bulan mendatang. Demikian dikatakan pengacara al-Tuhami al-Tumi sesaat setelah pengumuman keputusan kepada stasiun televisi Jerman di Kairo, Mesir, dalam sebuah pembicaraan telefon.

Kelima perawat Bulgaria dan seorang dokter Palestina dituduh bersalah secara sengaja menginfeksi 426 anak-anak dengan virus Aids di rumah sakit el-Fateh. Sudah lebih dari 50 anak yang terinfeksi virus AIDS di Benghazi.

Sementara hari Selasa (19/12) kemarin, dalam demonstrasi di depan gedung pengadilan, keluarga korban membawa foto anak-anak tersebut serta spanduk-spanduk bertuliskan “mati bagi pembunuh anak-anak” atau “HIV made in Bulgaria”. Mereka kembali menuntut vonis hukuman mati.

Sementara berbagai penelitian dari seluruh dunia tahun lalu menunjukkan virus HIV sudah tersebar di rumah sakit itu sebelum para tersangka memulai tugasnya di sana. Namun pengadilan tidak memperhatikan hasil studi tersebut.

Juga seruan dari Eropa dan Amerika Serikat tidak didengar. Sejak dimulainya tuduhan itu 7 tahun lalu, pihak Barat berharap Libya akan menyatakan para tersangka bebas, untuk memperbaiki hubungannya dengan dunia Barat. Pengacara melihat peluang keputusan bebas jika setelah naik banding lagi, proses tersebut bisa diloloskan ke instansi yang lebih tinggi

“Kami tetap menuntut pernyataan tidak bersalah. Jika pengadilan ingin membuktikan ketidak bersalahan cukup banyak bukti untuk itu. Ada 1 juta alasan keputusan bebas.”

Hasil studi ilmuwan asing menunjukkan, infeksi AIDS pada anak-anak disebabkan buruknya kondisi kesehatan di rumah sakit itu. Sementara, ketua yayasan anak-anak Libya menilai penelitian itu tidak benar yang menurutnya berdasarkan informasi yang kurang lengkap.