Libby Divonis 25 tahun Penjara | dunia | DW | 07.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Libby Divonis 25 tahun Penjara

Lewis Libby, bekas kepala staf wakil kepresidenan Amerika Serikat divonis bersalah dalam kasus pembongkaran identitas mata-mata CIA, Valerie Plame. Libby harus menjalani hukuman kurung selama 25 tahun.

Lewis Libby setelah proses persidangan

Lewis Libby setelah proses persidangan

Kabar itu bagai menikam jantung kekuasaan pemerintah George W. Bush. Lewis Libby yang sering disebut-sebut sebagai orang terdekat Wakil Presiden Dick Cheney, divonis bersalah Dalam perkara menghalangi proses pengadilan dan kesaksian palsu.

Tak tanggung-tanggung, hakim mengganjarnya dengan hukuman kurung 25 tahun penjara. Libby terbukti berbohong saat ditanyai oleh penyidik soal wawancaranya dengan seorang reporter tentang kasus pembocoran identitas agen rahasia CIA, Valerie Plame.

Kisruh itu terjadi tiga tahun lampau. Musim panas 2003, Duta Besar Amerika Joseph Wilson yang ternyata adalah suami dari Valerie Plame dikirim ke Nigeria untuk membuktikan pembelian uranium oleh bekas diktatur Irak, Saddam Husein.

Tapi sesampainya di Nigeria, Wilson gagal menemukan bukti-bukti itu. Wilson pun balik menuding Washington berbohong ketika pemerintahan Bush bersikukuh dengan tuduhannya soal pembelian uranium oleh Irak.

Tidak lama kemudian, seorang pejabat gedung putih membocorkan kepada pers, bahwa isteri Wilson adalah mata-mata CIA. Wilson yang juga bekas pembantu utama mantan Presiden Bill Clinton pun menuding, ada komplotan di gedung putih yang berusaha membalas dendam.

Tudingan Wilson sendiri segera dibantah oleh bekas Wakil Menteri Luar Negeri Richard Armitage. Dalam pernyataannya, Armitage mengaku tidak sengaja membocorkan identitas Valerie Plame. Armitage berdalih, ia dan teman-temannya sedang berkelakar soal Irak, dan tanpa diketahui ucapannya itu dikutip seorang wartawan.

Armitage lolos dari pengadilan karena tidak memberikan kesaksian palsu. Sama halnya dengan Karl Rowe, pembantu utama Presiden Bush yang juga ketahuan 'bernyanyi' soal Plame di depan pers. Tak pelak, Libby pun merasa dirinya dijadikan kambing hitam. Selama masa persidangan, ia kerap berkomentar sinis soal lolosnya Armitage dan Rowe. Denis Collins, salah seorang juri di persidangan Libby menuturkan kepada pers, beberapa anggota juri ikut-ikutan merasa bersalah.

"Kami sering bertanya-tanya, apa yang sedang kita perbuat terhadap orang itu di sini. Di mana Rowe, dan di mana aktor-aktor yang lain?"

Aktor-Aktor lain yang dimaksud sang juri salah satunya adalah Wakil Presiden Dick Cheney. Cheney sempat menulis opini di sebuah koran, yang menyerang habis-habisan Duta Besar Joseph Wilson soal tudingannya terhadap invasi AS ke Irak.

Tapi masih belum jelas, peran apa yang dimainkan Cheney dalam kasus terbongkarnya identitas Valerie Plame. Di akhir persidangan, Cheney mengungkapkan kekecewaannya atas keputusan hakim. Juga Presiden George W. Bush langsung meminta Libby dan keluarganya untuk tetap tabah. Howard Dean, ketua Partai Demokrat menduga, Cheney bukan satu-satunya pejabat tertinggi yang terlibat dalam kasus Plame.

"Orang-orang itu ibarat puncak gunung es yang sulit dicapai. Maksud saya adalah presiden dan wakilnya yang mencoba menodai nama-nama mereka yang tahu seluk beluk invasi AS ke Irak."
Iklan