Libanon Setujui Pengiriman Pasukan Marinir Jerman | Fokus | DW | 06.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Libanon Setujui Pengiriman Pasukan Marinir Jerman

Pemerintah Libanon pada dasarnya menyetujui penempatan pasukan marinir Jerman untuk pengamanan perbatasan lautnya, namun dengan persyaratan tertentu.

Anggota Pasukan Marinir Jerman Dalam Sebuah Pelatihan

Anggota Pasukan Marinir Jerman Dalam Sebuah Pelatihan

Tuntutan itu akan diajukan Beirut kepada PBB di New York dan pemerintahan Jerman di Berlin. Selain itu masih belum jelas, apakah dan kapan satuan Jerman akan dikirimkan ke Libanon.

Pemerintah Libanon pada dasarnya menyetujui pengiriman pasukan marinir Jerman yang tergabung dalam pasukan pengamat PBB. Namun, dalam kabinet di Beirut ada suara yang menentang hal itu. Masih belum diketahui tuntutan apa yang akan diajukan Libanon kepada Jerman. Kedua menteri Hisbullah menyatakan menentang pengiriman pasukan Jerman. Perdana Menteri Fuad Siniora kini akan mengirimkan permohonan tertulis kepada Perserikatan Bangsa Bangsa.

Para pengamat di Beirut mengasumsi bahwa keraguan pemerintah dalam pengambilan keputusan menunjukkan adanya sengketa serius antara Hisbullah dan Perdana Menteri Fuad Siniora. Pemimpin pemerintahan Libanon, Siniora, sudah tentu tidak ingin ditekan dan hendak menepati janjinya kepada pemerintah Jerman dan Perserikatan Bangsa Bangsa.

Menteri Luar Negeri Faouzi Salloukh baru-baru ini mengemukakan, bahwa Libanon pada umumnya menghendaki keterlibatan Jerman yang dinilai dapat meningkatkan efektivitas dari pasukan perdamaian PBB UNIFILL. Selain itu, Jerman juga telah menawarkan bantuan teknik untuk pemeriksaan perbatasan Libanon.

Dari kalangan pemerintah di Beirut dilaporkan, keputusan Senin (04/09) malam lalu juga meliputi beberapa pertimbangan dari pihak Libanon. Misalnya, Israel harus mencabut blokade laut dan udaranya sebelum marinir Jerman tiba. Sedangkan Israel sebaliknya berargumentasi, blokade tersebut akan berakhir jika kapal perang internasional sudah ditempatkan di lepas pantai Libanon.

Pihak Jerman sendiri memerlukan sekitar tiga pekan untuk menyiapkan diri, bila perintah penugasan dari Berlin keluar, hari Jumat (08/09) pekan ini.

Sementara itu, Senin (04/09) kemarin di Bonn, Menteri Pertahanan Jerman Franz Josef Jung mengatakan, bahwa Jerman menawarkan bantuan kepada Libanon untuk pengamanan perairan negara itu demi kepentingan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Dia menambahkan, sudah tentu ada diskusi mengenai pertanyaan, apakah angkatan bersenjata Jerman atau Bundeswehr boleh ditugaskan di luar negeri atau tidak.

"Kita bukan polisi dunia dan kita tidak dapat begitu saja mengirimkan pasukan jika keadaan gawat muncul. Tetapi saya telah mengatakan, berorientasi dunia, kepentingan nasional dan kewajiban internasional. Namun, dalam beberapa bidang yang bersangkutan dengan kemampuan, kita tampaknya sudah mencapai batas kemampuan tertentu.“

Akan tetapi, meskipun demikian, pimpinan Bundeswehr mempersiapkan pasukannya untuk tugas-tugas baru. Demikian ditegaskan oleh Menteri Pertahanan Jerman, Jung.

Pemerintah Libanon sendiri mempertanyakan kedaulatan di perairannya jika pasukan marinir Jerman ditempatkan. Di lain pihak, jika kapal Jerman dibatasi untuk mendekati daratan Libanon, maka sulit untuk Bundeswehr mengontrol penyeludupan senjata Hisbullah. Dikhawatirkan bahwa kapal Suriah dengan mudah dapat merapat di pelabuhan Libanon. Selain itu, Libanon hanya punya 1.000 personel angkatan laut yang tidak terlatih baik dan dengan perlengkapan tua. Radar pengawas yang berfungsi juga telah semua dihancurkan Israel baru-baru ini.